The Wiranata Code

stellaris rhea
Chapter #22

EPILOG

Tahun 2084, Kota Arkadia. Empat tahun setelah kejadian di Kota Askara.

Suara ketukan papan ketik memenuhi ruangan kedap suara di bawah tanah Kota Arkadia, sebuah kota yang terletak cukup jauh dari ibu kota Marcapada, Kota Askara.

“Ah! Kakak harus menemaniku keluar hari ini! Masa aku harus mengangkat belanjaan sendirian?” suara khas gadis yang kini telah berusia 20 tahun bergema riang di ruang kedap suara itu.

“Foto kita sudah tersebar ke mana-mana dan aku tidak memiliki kemampuan menyamar sepertimu, Dek. Bisa-bisa aku langsung ditahan saat melangkah di dunia luar,” sahut suara pemuda yang dulunya agak cempreng, namun kini telah berubah menjadi lebih berat dan dewasa. Pemuda itu adalah Arkan, yang kini telah menginjak usia 23 tahun.

“Hmm, jangan khawatir! Aku bakal bantu Kakak menyamar!” ucap gadis itu dengan ceria.

Benar, gadis itu adalah Tara yang kini telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang anggun. Kemampuan penyamarannya berkembang kian pesat, dan kini Arkan sering menjadi target eksperimennya untuk menguji teknik merias dan menyamarkan orang lain.

Arkan seketika membeku. Ia menatap adiknya dengan bulu kuduk merinding, tahu betul bahwa ia akan kembali menjadi kelinci percobaan.

“Kau gila, ya? Tidak mau! Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini! Kakak tidak mau jadi kelinci percobaanmu lagi!” tegas Arkan menolak keras.

Tentu saja Tara tidak semudah itu menyerah. Dengan cekatan, ia langsung menarik lengan kakaknya dari kursi meja komputer, lalu memaksa Arkan duduk di sofa. Pemuda jenius itu hanya bisa pasrah dan menghela napas pasrah saat adiknya mulai merias dan mengubah wajahnya menjadi sosok orang lain.

Setelah beberapa menit, Tara selesai mendandani Arkan. Gadis itu berhasil mengubah penampilan kakaknya menjadi sosok orang lain secara total, mulai dari struktur wajah, kontur riasan, hingga gaya rambut yang menggunakan wig khusus.

Tiba-tiba, Kirana dan Baskara melangkah masuk ke ruangan tersebut. Pasangan suami istri itu baru saja keluar dari kamar mereka dan hendak bergabung. Langkah Baskara mendadak terhenti. Matanya memicing tajam melihat sosok pria asing yang duduk di sofanya.

“Siapa yang kamu ajak masuk, Nak?” tanya Baskara cepat dengan nada siaga.

Tara terkekeh geli melihat reaksi ayah dan ibunya yang tampak kebingungan setengah mati.

“Oh, kenalin! Ini teman baruku, namanya Ken!” goda Tara sembari mengejek kakaknya.

“Ugh, apa sih! Ini aku, Arkan! Aku jadi kelinci percobaan Tara lagi,” gerutu Arkan kesal, tidak menyangka bahwa orang tuanya sendiri sampai tidak mengenali dirinya.

Lihat selengkapnya