THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #1

Anak Perempuan yang Banyak Bermimpi

Aku dulu sering memiliki pertanyaan yang tidak tahu harus kutanyakan kepada siapa.

Mengapa langit sore berubah warna sebelum malam datang. Mengapa hujan bisa membuat rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Mengapa orang dewasa terkadang mengatakan mereka baik-baik saja dengan suara yang justru membuatku merasa sebaliknya. Mengapa seseorang bisa begitu dekat hari ini, lalu beberapa waktu kemudian namanya hanya tinggal sesuatu yang sesekali muncul di ingatan.

Aku tidak benar-benar membutuhkan jawabannya waktu itu. Aku hanya ingin tahu.

Mungkin memang begitu cara seorang anak melihat dunia. Segalanya masih terasa baru, sehingga hampir apa pun bisa menjadi alasan untuk berhenti dan bertanya. Sebuah suara dari kamar sebelah. Wajah seseorang yang tiba-tiba berubah. Seekor kucing yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sebuah cerita yang kudengar lalu kubawa pulang ke dalam kepala, mengembangkannya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada kejadian sebenarnya.

Aku adalah anak perempuan yang banyak bertanya, tetapi lebih banyak lagi membayangkan.

Dunia di kepalaku sering kali terasa lebih luas daripada dunia yang bisa kulihat.

Aku masih ingat suatu sore ketika aku duduk dengan selembar kertas di depanku dan mulai menggambar sebuah rumah. Bukan rumah yang benar-benar pernah kulihat. Rumah itu punya jendela besar, halaman yang luas, dan sebuah pohon di depan pintu. Aku bahkan menggambar matahari di sudut kertas, meskipun sore itu langit di luar jendela sedang mendung.

Aku tidak tahu rumah itu milik siapa.

Mungkin milikku.

Mungkin milik seseorang yang bahkan belum pernah kutemui.

Di dalam gambar itu, aku membuat beberapa orang berdiri di halaman. Aku memberi mereka nama, meskipun tidak ada seorang pun yang memintaku melakukannya. Aku membayangkan apa yang mereka sukai, siapa yang paling sering tertawa, siapa yang mudah marah, siapa yang diam-diam sedang menyimpan sesuatu.

Kemudian, seperti yang sering dilakukan anak kecil, aku merasa dunia yang kubuat itu benar-benar ada.

Aku bisa menghabiskan waktu cukup lama di sana.

Bukan karena rumah sungguhan terasa buruk atau karena aku ingin melarikan diri dari kehidupan yang kumiliki. Aku hanya senang bahwa di atas kertas, segala sesuatu bisa menjadi mungkin. Sebuah rumah bisa berdiri di tempat yang belum pernah kukunjungi. Orang asing bisa menjadi keluarga. Sebuah halaman kosong bisa berubah menjadi tempat seseorang pulang.

Mungkin sejak kecil aku memang tidak hanya melihat sesuatu sebagaimana adanya.

Aku selalu ingin tahu, bagaimana kalau?

Bagaimana kalau tempat ini memiliki cerita lain?

Bagaimana kalau orang itu menyimpan sesuatu yang tidak terlihat?

Bagaimana kalau hidup bisa berjalan sedikit berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu mungkin terdengar sederhana sekarang. Tetapi dulu, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat duniaku terasa begitu luas.

Aku bisa membuat cerita dari hal-hal sederhana. Percakapan yang kudengar sekilas bisa menjadi awal dari sebuah kehidupan baru. Tempat yang belum pernah kudatangi bisa menjadi kota yang lengkap hanya karena aku membayangkannya. Orang-orang yang tidak kukenal bisa memiliki nama, rumah, kebiasaan, kesedihan, bahkan cerita cinta di dalam kepalaku.

Aku tidak tahu mengapa pikiranku bekerja seperti itu.

Aku juga tidak pernah merasa perlu menjelaskannya.

Saat itu, aku hanya seorang anak kecil.

Bukan anak yang selalu tenang. Bukan anak yang selalu mengerti. Bukan pula anak yang setiap saat bisa bersikap baik seperti yang mungkin diharapkan orang dewasa.

Aku bisa keras kepala ketika menginginkan sesuatu. Aku bisa kesal ketika tidak dipahami. Aku bisa menangis karena hal yang hari ini mungkin terlihat begitu kecil. Kadang aku ingin sesuatu berjalan sesuai keinginanku dan tidak mengerti mengapa dunia tidak mau bekerja sama.

Aku pernah egois.

Aku pernah terlalu banyak meminta.

Aku pernah membuat orang lain kesal tanpa benar-benar memahami apa yang telah kulakukan.

Tetapi mungkin begitulah seorang anak tumbuh. Ia memiliki perasaan yang besar dengan bahasa yang masih kecil. Ia tahu bahwa ia kecewa, tetapi belum tahu bagaimana menjelaskan kekecewaan itu. Ia tahu bahwa ia marah, tetapi belum mengerti bahwa kemarahan kadang menyembunyikan rasa takut, kecewa, atau keinginan sederhana untuk dimengerti.

Aku juga begitu.

Aku hanya belum tahu.

Dan ketika kupikirkan kembali sekarang, mungkin salah satu hal yang paling ingin kulakukan terhadap diriku yang kecil adalah berhenti menuntutnya untuk sudah mengerti terlalu banyak.

Sebab pada usia itu, aku masih memiliki satu hal yang membuat semuanya terasa lebih mudah: aku belum terlalu takut untuk bermimpi.

Mimpi anak kecil memang aneh.

Ia tidak selalu membutuhkan alasan.

Aku bisa membayangkan masa depan tanpa bertanya apakah aku pantas mendapatkannya. Aku bisa menginginkan sesuatu tanpa menghitung berapa banyak kemungkinan kegagalannya. Aku bisa membayangkan diriku menjadi seseorang tanpa memikirkan apakah orang lain akan menganggapnya terlalu tinggi.

Masa depan waktu itu hanyalah sebuah halaman kosong.

Dan aku senang menggambar di atasnya.

Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti halaman itu akan dipenuhi banyak hal yang tidak pernah kubayangkan. Ada hal-hal yang akan membuatku tertawa sampai lupa waktu, tetapi ada juga yang akan membuatku bertanya apakah aku benar-benar mengenal diriku sendiri. Ada orang-orang yang akan datang begitu dekat, ada yang tinggal lebih lama dari yang kukira, dan ada yang akhirnya hanya menjadi nama di antara banyak kenangan.

Aku belum tahu semua itu.

Aku hanya tahu bahwa aku ingin menjadi banyak hal.

Dan aku ingin melihat banyak hal.

Mungkin karena itu, sejak kecil, kepalaku jarang benar-benar sepi.

Lalu, ketika aku berusia delapan tahun, aku menemukan sesuatu yang membuat keramaian itu memiliki tempat untuk tinggal.

Tulisan.

Aku tidak ingat apakah saat itu aku sudah mengerti kata passion. Rasanya tidak mungkin. Anak berusia delapan tahun mungkin belum memiliki cukup banyak pengalaman untuk memahami sesuatu sebesar itu.

Aku hanya tahu bahwa aku suka menulis.

Aku menulis karena ada banyak hal di kepalaku dan kertas tidak pernah mengatakan bahwa aku terlalu banyak bicara.

Aku bisa meletakkan cerita di sana tanpa harus menjelaskan mengapa cerita itu muncul. Aku bisa membuat seseorang hidup hanya dengan memberinya nama. Aku bisa membawa tokoh-tokoh yang kubuat ke tempat-tempat yang bahkan belum pernah kulihat sendiri. Aku bisa membuat mereka kehilangan sesuatu, menemukan sesuatu, jatuh cinta, bertengkar, pergi, kembali, lalu mendapatkan akhir yang mungkin tidak selalu bisa dimiliki manusia di kehidupan nyata.

Aku bisa mengatur dunia kecilku sendiri.

Dan anehnya, itu membuatku tenang.

Tidak semua tulisanku bagus.

Sebagian mungkin bahkan lucu jika kubaca sekarang. Ceritanya bisa terlalu sederhana, tokohnya terlalu dramatis, dan akhir yang kubuat mungkin tidak masuk akal. Ada banyak bagian yang mungkin hanya dimengerti oleh diriku sendiri.

Tetapi aku menyukainya.

Ada perasaan tertentu ketika sesuatu yang sebelumnya hanya berputar-putar di dalam kepala akhirnya memiliki bentuk. Seperti membuka jendela di ruangan yang terlalu lama tertutup. Udara masuk perlahan, dan untuk beberapa saat, semuanya terasa lebih ringan.

Mungkin itulah alasan aku terus kembali kepada tulisan.

Bukan karena sejak kecil aku sudah tahu akan menjadi apa.

Bukan karena aku sudah memiliki rencana besar tentang hidup.

Aku hanya menemukan sesuatu yang membuatku ingin kembali.

Dan terkadang, sesuatu yang kita cintai memang dimulai sesederhana itu.

Tidak dengan janji besar.

Tidak dengan kepastian.

Hanya dengan perasaan kecil yang berkata, aku ingin melakukannya lagi.

Aku menulis.

Lalu menulis lagi.

Dan tanpa kusadari, tulisan menjadi salah satu rumah pertamaku.

Rumah yang tidak memiliki pintu, tetapi selalu terbuka.

Di sana aku tidak harus menjadi anak yang paling pintar. Aku tidak harus menjadi anak yang paling baik. Aku tidak harus tahu apa yang sedang kulakukan.

Aku hanya perlu datang dengan segala sesuatu yang ada di kepalaku.

Lihat selengkapnya