THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #2

Rumah Pertama

Aku adalah anak pertama.

Sebelum menjadi kakak, aku hanyalah seorang anak perempuan yang juga ingin diperhatikan.

Dulu aku tidak pernah memikirkan kalimat itu dengan cara seperti sekarang. Ketika masih kecil, menjadi kakak terasa biasa saja. Ada adik-adik yang harus dijaga, ada barang-barang yang harus dibereskan, ada suara-suara kecil di rumah yang perlahan menjadi bagian dari keseharian. Aku tumbuh bersama mereka tanpa pernah benar-benar bertanya apa artinya menjadi yang pertama.

Aku hanya tahu bahwa setelah mereka datang, ada lebih banyak orang yang harus kupikirkan.

Ada saat ketika aku diminta mengalah.

Ada saat ketika aku harus mengerti.

Ada saat ketika aku harus menjaga sesuatu karena dianggap sudah cukup besar untuk melakukannya.

Tidak ada satu hari ketika seseorang duduk di hadapanku lalu berkata, Mulai sekarang, kamu harus menjadi anak pertama.

Mungkin memang tidak pernah seperti itu.

Hal-hal besar dalam hidup sering kali datang tanpa pengumuman. Tahu-tahu kita sudah berada di dalamnya.

Aku menjadi kakak begitu saja.

Dan karena aku adalah anak pertama, mungkin tanpa sadar aku tumbuh dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang harus kulakukan dengan benar.

Aku harus tahu.

Harus mengerti.

Harus bisa.

Bahkan ketika sebenarnya aku tidak tahu apa-apa.

Ada masa ketika aku merasa menjadi lebih dewasa berarti tidak terlalu banyak bertanya. Kalau ada sesuatu yang tidak kumengerti, aku mencoba mencari tahu sendiri. Kalau seseorang sedang marah, aku mencoba memahami penyebabnya. Kalau suasana rumah berubah, aku bisa merasakannya bahkan sebelum ada yang mengatakan apa-apa.

Aku belajar mengenali suara langkah kaki.

Nada bicara.

Pintu yang ditutup sedikit lebih keras.

Diam yang terasa berbeda dari biasanya.

Wajah seseorang ketika sedang lelah.

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai memperhatikan hal-hal seperti itu. Mungkin memang tidak pernah ada awal yang jelas. Aku hanya melakukannya, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya terasa seperti bagian dari diriku.

Rumahku juga bukan rumah yang selalu mudah kupahami.

Orang tuaku punya cara mereka sendiri dalam menunjukkan kasih sayang. Kadang caranya lembut. Kadang tidak. Ada hal-hal yang sekarang bisa kulihat dengan lebih dewasa, tetapi dulu terasa begitu besar karena aku hanya memiliki cara berpikir seorang anak untuk menerimanya.

Ada perkataan yang masih kuingat.

Ada hal-hal yang tidak pernah dibicarakan.

Ada kasih sayang yang mungkin ada, tetapi tidak selalu datang dalam bentuk yang bisa kupahami.

Dan ada saat-saat ketika aku merasa sangat disayangi, sampai aku tidak pernah meragukannya.

Namun ada juga saat ketika aku merasa sendirian meskipun berada di rumah sendiri.

Perasaan itu aneh jika diingat sekarang.

Bagaimana mungkin seseorang bisa berada di tempat yang sama dengan orang-orang yang dicintainya, mendengar suara mereka dari ruangan lain, melihat kehidupan terus berjalan seperti biasa, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang terasa jauh sekali?

Dulu aku tidak memiliki kata untuk menjelaskannya.

Aku hanya tahu bahwa terkadang aku ingin ada seseorang yang melihatku sedikit lebih lama.

Bukan untuk memberiku sesuatu.

Bukan untuk menyelesaikan masalahku.

Mungkin hanya untuk bertanya, “Kamu kenapa?”

Dan mungkin, kalau pertanyaan itu datang, aku pun belum tentu tahu jawabannya.

Aku mungkin hanya akan diam.

Karena ada banyak hal yang bahkan belum bisa dijelaskan oleh seorang anak.

Ada perasaan yang hanya bisa dirasakan, lalu disimpan begitu saja di suatu tempat di dalam dada.

Aku pernah merasa sedih tanpa tahu mengapa.

Pernah merasa marah karena sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebutkan.

Pernah ingin menangis, tetapi tidak ingin ada yang tahu.

Pernah ingin diperhatikan, tetapi terlalu gengsi untuk memintanya.

Lihat selengkapnya