Aku cukup mudah mengetahui ketika seseorang berubah.
Tidak selalu perubahan yang besar. Kadang hanya nada bicara yang terdengar sedikit berbeda dari biasanya, pesan yang tiba-tiba menjadi lebih singkat, atau wajah seseorang yang tidak lagi memiliki ekspresi yang sama ketika berbicara kepadaku. Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak akan diperhatikan orang lain, tetapi entah bagaimana, mataku selalu menangkapnya.
Aku bisa merasakan ada sesuatu yang bergeser bahkan ketika belum ada yang mengatakannya.
Awalnya aku mengira itu hal yang baik.
Bukankah menyadari perubahan kecil berarti aku peduli?
Bukankah memperhatikan seseorang adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita menyayanginya?
Jadi aku memperhatikan.
Aku mengingat cara seseorang biasanya berbicara, lalu membandingkannya dengan cara mereka berbicara hari ini. Aku mengingat bagaimana seseorang biasanya membalas pesan, seberapa sering mereka tertawa ketika bersamaku, bagaimana mereka menatap ketika sedang senang, lalu tanpa sadar aku akan menyadari ketika semuanya terasa sedikit berbeda.
Masalahnya, setelah menyadari perubahan itu, pikiranku jarang berhenti di sana.
Aku mulai bertanya-tanya.
Apakah aku melakukan sesuatu?
Apakah dia marah?
Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?
Apakah ada sesuatu yang tidak kuketahui?
Apakah semuanya baik-baik saja?
Pertanyaan-pertanyaan itu bisa berjalan jauh sekali di dalam kepalaku.
Satu perubahan kecil bisa menjadi sebuah cerita panjang.
Sebuah pesan yang biasanya berbunyi beberapa kalimat menjadi hanya dua kata, misalnya, bisa membuat pikiranku mencari-cari kemungkinan sepanjang hari. Aku bisa membaca ulang percakapan sebelumnya, mengingat kata-kata yang kukirim, mencoba menemukan bagian yang mungkin terdengar salah, lalu membayangkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Dan yang paling melelahkan adalah ketika aku mulai mempercayai cerita yang kubuat sendiri.
Seseorang belum mengatakan bahwa ia kecewa, tetapi aku sudah merasa bersalah.
Seseorang belum mengatakan bahwa ia marah, tetapi aku sudah meminta maaf di dalam kepala.
Seseorang mungkin hanya sedang lelah, sibuk, atau memiliki masalah yang sama sekali tidak berhubungan denganku, tetapi aku sudah menghabiskan waktu memikirkan apa yang mungkin telah kulakukan.
Aku bisa membuat sebuah masalah bahkan sebelum masalah itu benar-benar ada.
Dulu aku tidak menyadarinya.
Aku hanya merasa sedang peduli.
Aku pikir begitulah caranya seseorang menjaga hubungan: memperhatikan perubahan, mencoba memahami suasana, dan memastikan tidak ada sesuatu yang salah.
Mungkin memang ada bagian dari diriku yang sangat peka.
Aku mudah merasa.
Mudah memperhatikan.
Mudah ikut merasakan sesuatu yang bahkan bukan milikku.
Kalau seseorang di dekatku sedang sedih, suasana itu bisa ikut tinggal di dalam tubuhku. Kalau seseorang sedang gelisah, aku bisa menjadi gelisah tanpa benar-benar tahu apa yang sedang terjadi. Kalau seseorang yang kusayangi terlihat tidak baik-baik saja, ada bagian dalam diriku yang langsung ingin melakukan sesuatu, meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang bisa kulakukan.
Aku sering berpikir tentang orang lain lebih lama daripada mereka memikirkan dirinya sendiri.
Aku bisa pulang membawa ekspresi seseorang di kepalaku.
Aku bisa mengingat satu kalimat yang mungkin bagi orang itu sudah selesai sejak beberapa jam lalu, sementara aku masih membawanya ke tempat tidur dan memikirkannya dalam gelap.
Kadang aku bahkan tidak tahu mengapa aku melakukan itu.
Mungkin karena sejak kecil aku terbiasa memperhatikan keadaan di sekitarku.
Mungkin karena aku belajar bahwa suasana hati seseorang bisa berubah tanpa peringatan.
Mungkin karena aku pernah merasa lebih aman ketika tahu apa yang sedang terjadi sebelum sesuatu benar-benar terjadi.
Atau mungkin memang seperti itulah cara hatiku bekerja.
Ia selalu ingin tahu apakah semuanya baik-baik saja.
Bahkan ketika sebenarnya tidak ada yang memintanya untuk bertanggung jawab atas semua itu.
Aku pernah mengira bahwa kemampuan memahami orang lain adalah sesuatu yang harus selalu kubanggakan.
Sampai aku mulai menyadari bahwa ada sisi lain yang jarang dibicarakan.
Memahami orang lain bisa menjadi melelahkan ketika kita merasa harus memahami semuanya.
Kita mulai mencari alasan untuk perilaku orang lain sebelum mengakui bahwa perilaku itu mungkin memang telah melukai kita.
Seseorang berkata sesuatu yang menyakitkan, lalu kita sibuk berpikir bahwa mungkin ia sedang lelah.
Seseorang menjauh, lalu kita mencoba memahami bahwa mungkin ia sedang memiliki masalah sendiri.
Seseorang mengecewakan kita, lalu kita mencari begitu banyak alasan untuknya sampai lupa bahwa kita juga kecewa.
Aku sering melakukan itu.
Bukan karena aku tidak punya perasaan.
Justru mungkin karena aku terlalu banyak merasakan.
Aku bisa melihat seseorang yang sedang marah dan langsung berpikir tentang apa yang mungkin membuatnya seperti itu, tetapi membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mengakui bahwa aku sendiri terluka karena kemarahannya.
Aku bisa memahami mengapa seseorang memilih diam, tetapi tidak selalu bertanya mengapa diam itu membuatku merasa sendirian.
Aku bisa memaklumi seseorang yang sedang sibuk, tetapi kadang lupa bahwa menunggu tanpa kepastian juga bisa membuatku lelah.
Aku bisa berkata, “Aku mengerti,” bahkan ketika sebenarnya ada bagian kecil di dalam diriku yang ingin berkata, “Tapi bagaimana dengan aku?”
Kalimat itu dulu terasa begitu sulit.
Bahkan ketika hanya mengucapkannya di dalam kepala.
Sebab ada ketakutan kecil yang selalu datang setelahnya.
Kalau aku mengatakan apa yang kurasakan, apakah aku akan dianggap egois?
Kalau aku meminta perhatian, apakah aku menjadi terlalu banyak?
Kalau aku mengatakan bahwa aku kecewa, apakah aku tidak cukup pengertian?
Kalau aku ingin seseorang menjelaskan sesuatu kepadaku, apakah aku sedang menuntut terlalu banyak?
Aku tidak tahu kapan pertanyaan-pertanyaan itu mulai tinggal di dalam diriku.