Aku pernah mencari banyak penjelasan tentang diriku.
Pisces.
INFJ.
Anak pertama.
Perempuan.
Dan entah apa lagi yang pernah kutemukan di sepanjang perjalanan mencari tahu siapa diriku sendiri.
Ada sesuatu yang menyenangkan ketika menemukan sebuah kata yang terasa begitu tepat, seolah-olah seseorang baru saja menyalakan lampu di ruangan yang selama ini agak gelap.
Aku membaca tentang Pisces, lalu menemukan beberapa bagian yang terasa begitu mirip denganku. Tentang perasaan yang mudah tersentuh, tentang imajinasi, tentang kecenderungan membawa sesuatu lebih lama di dalam hati. Aku tersenyum ketika membacanya, lalu berpikir, Oh. Jadi mungkin aku seperti ini karena aku Pisces.
Kemudian aku mengenal INFJ.
Kali ini rasanya seperti menemukan sebuah kotak lain dengan bentuk yang lebih besar. Ada hal-hal tentang kepribadian, cara berpikir, cara memahami orang lain, kecenderungan untuk terlalu banyak memikirkan sesuatu. Beberapa di antaranya terasa begitu dekat sampai aku hampir ingin berkata, Ini aku.
Lalu ada anak pertama.
Yang ini tidak datang dari internet atau sebuah tes kepribadian. Ia tumbuh bersamaku jauh sebelum aku tahu bahwa ada orang lain yang juga memiliki pengalaman serupa.
Anak pertama.
Kakak.
Perempuan.
Seseorang yang tumbuh dengan cerita keluarganya sendiri, dengan cara orang tuanya mencintai, dengan hal-hal yang diajarkan dan hal-hal yang tidak pernah dibicarakan.
Aku mengumpulkan semuanya seperti seseorang yang sedang menyusun potongan-potongan gambar.
Yang ini menjelaskan mengapa aku mudah merasa.
Yang itu menjelaskan mengapa aku berpikir terlalu jauh.
Yang satu lagi menjelaskan mengapa aku terbiasa memperhatikan orang lain.
Dan untuk beberapa waktu, aku merasa senang karena akhirnya memiliki nama untuk hal-hal yang selama ini hanya terasa seperti bagian-bagian diriku yang tidak bisa kujelaskan.
Rasanya seperti menemukan label untuk sebuah kotak yang selama ini tidak memiliki nama.
Aku bisa menempelkannya di sana dan berkata, Oh, mungkin isinya memang seperti ini.
Ada rasa lega di dalamnya.
Sebab tidak mengetahui siapa diri sendiri kadang terasa seperti berdiri di depan cermin yang sedikit berkabut. Kita tahu ada seseorang di sana, tetapi bentuknya tidak pernah benar-benar jelas.
Maka kita mencari kata.
Kita mencari teori.
Kita mencari orang lain yang pernah merasakan hal yang sama.
Kita membaca deskripsi tentang diri sendiri dan diam-diam berharap seseorang sudah pernah menuliskan jawabannya untuk kita.
Mungkin itu sebabnya label terasa begitu nyaman.
Ia membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana.
Kalau aku mudah tersinggung, mungkin karena aku terlalu sensitif.
Kalau aku membutuhkan waktu sendirian, mungkin karena kepribadianku memang seperti itu.
Kalau aku terlalu memikirkan orang lain, mungkin memang begitulah caraku bekerja.
Kalau aku keras kepala, mungkin itu karena aku anak pertama.
Ada jawaban untuk semuanya.
Atau setidaknya, terasa seperti ada.
Aku tidak pernah benar-benar menganggap semua label itu sebagai sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya, beberapa di antaranya pernah membantuku memahami bagian-bagian diriku yang sebelumnya terasa asing.
Mereka seperti peta kecil.
Bukan rumah, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa jalan yang sedang kulewati ternyata pernah dilewati orang lain.
Dan mungkin aku memang membutuhkan itu.
Terutama ketika masih terlalu muda untuk memahami bahwa manusia tidak pernah sesederhana satu kata.
Sebab semakin lama aku hidup, semakin banyak hal yang kutemukan di dalam diriku yang tidak cocok dengan deskripsi apa pun.
Aku bisa sangat pendiam, tetapi pada hari tertentu bisa menjadi orang yang paling banyak bicara di sebuah ruangan.
Aku bisa sangat memahami seseorang, tetapi pada kesempatan lain justru menjadi keras kepala dan sulit diajak bicara.
Aku bisa penuh pertimbangan, tetapi pernah juga mengambil keputusan hanya karena sedang kesal.
Aku bisa begitu ingin menjaga perasaan orang lain, lalu suatu hari merasa lelah dan memilih diriku sendiri.