Ada sebuah dongeng yang mungkin tidak pernah benar-benar diceritakan siapa pun kepadaku.
Tentang seorang anak perempuan yang tinggal di sebuah rumah kecil di tepi hutan. Ia adalah anak yang mudah tertawa, mudah menangis, dan memiliki seekor naga kecil yang tinggal di dalam dadanya.
Tidak ada yang tahu kapan naga itu datang.
Mungkin sejak pertama kali anak perempuan itu merasa tidak didengar. Mungkin sejak pertama kali ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi memilih diam karena takut membuat orang lain kecewa. Atau mungkin naga itu memang sudah ada sejak awal, hanya saja ia masih terlalu kecil untuk membuat api.
Pada hari-hari biasa, naga itu tidur.
Anak perempuan itu bisa menjalani harinya tanpa memikirkannya. Ia bermain sampai lututnya kotor, tertawa sampai lupa waktu, berbicara dengan orang-orang yang disayanginya tentang hal-hal kecil yang mungkin besok sudah tidak akan diingat lagi. Ketika sore datang, ia bisa duduk di dekat jendela dan memperhatikan cahaya yang perlahan menghilang dari halaman. Ketika malam tiba, ia akan berbaring dan membiarkan hari lewat begitu saja.
Pada hari-hari seperti itu, naga kecil di dalam dadanya tidur begitu lelap hingga ia hampir lupa bahwa ia ada.
Namun kadang sesuatu terjadi.
Tidak selalu sesuatu yang besar.
Kadang hanya sebuah kalimat yang diucapkan dengan nada yang berbeda dari biasanya. Kadang seseorang tidak benar-benar mendengarkannya ketika ia sedang bercerita. Kadang seseorang pergi ketika ia masih ingin ditemani, meninggalkan anak perempuan itu dengan sesuatu yang belum sempat ia katakan.
Ada juga hari ketika tidak ada satu pun hal yang tampak cukup penting untuk membuatnya marah.
Hanya rasa kecewa yang ia simpan.
Lelah yang ia tahan.
Keinginan untuk mengatakan sesuatu yang akhirnya kembali ia telan karena ia tidak ingin membuat keadaan menjadi lebih rumit.
Ia menganggap semuanya kecil.
Nanti juga hilang, begitu pikirnya.
Lalu hari berganti, dan ia menjalani hidup seperti biasa.
Sampai suatu ketika, sesuatu yang sebenarnya sederhana membuat dadanya terasa penuh.
Barangkali bukan karena hal itu begitu besar.
Barangkali karena ada terlalu banyak hal yang belum pernah sempat diberi tempat.
Saat itulah naga itu membuka matanya.
Mula-mula hanya sedikit asap keluar dari hidungnya, begitu tipis hingga hampir tidak terlihat. Anak perempuan itu mungkin mengira dirinya hanya sedang lelah. Ia menarik napas, mencoba melanjutkan apa yang sedang dilakukannya, tetapi ada rasa panas yang perlahan naik dari dadanya menuju tenggorokan.
Naga itu sudah terbangun.
Napasnya menjadi lebih berat.
Dada anak perempuan itu terasa sesak, seolah tubuhnya sedang berusaha menahan sesuatu yang sudah terlalu lama ingin keluar.
Tangannya mengepal tanpa ia sadari.
Rahangnya mengeras.
Matanya mulai terasa panas.
Dan tiba-tiba ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Ia ingin mengatakan bahwa ia kecewa.
Bahwa ia terluka.
Bahwa ia sudah terlalu lama diam.
Bahwa ia sebenarnya hanya ingin didengarkan.
Tetapi ketika perasaan datang terlalu penuh, kata-kata tidak selalu keluar dalam bentuk yang kita inginkan.
Kata-kata yang sebenarnya lembut bisa terdengar tajam.
Keinginan untuk dipahami bisa berubah menjadi tuduhan.
Rasa takut kehilangan seseorang bisa terdengar seperti kemarahan karena merasa ditinggalkan.
Dan sebelum anak perempuan itu sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirinya, api pertama keluar.
Suaranya meninggi.
Naga itu menggeram.
Ia sendiri terkejut mendengar suaranya.
Sebab jauh di dalam sana, sebelum semua itu menjadi kemarahan, ada sesuatu yang jauh lebih kecil dan jauh lebih sederhana.
Sesuatu yang hanya ingin berkata,