THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #6

Aku Tidak Selalu Baik

Ada bagian dari diriku yang ingin percaya bahwa aku orang baik.

Mungkin karena sejak kecil kita sering diajarkan bahwa menjadi baik adalah sesuatu yang harus dijaga. Bersikap lembut, tidak menyakiti orang lain, membantu ketika bisa, mengerti perasaan seseorang, dan mengucapkan maaf ketika melakukan kesalahan. Aku menyukai gagasan tentang menjadi seseorang yang baik. Dan mungkin aku memang baik. Tetapi semakin dewasa, aku mulai menyadari bahwa menjadi baik tidak membuat seseorang selalu bertindak baik.

Ada hari ketika aku sabar. Ada hari ketika aku terlalu mudah tersinggung. Ada hari ketika aku bisa mendengarkan seseorang sampai selesai, lalu ada hari lain ketika aku begitu sibuk dengan pikiranku sendiri sampai tidak benar-benar mendengar apa pun yang mereka katakan. Aku pernah egois, pernah malas, pernah terlalu memikirkan diriku sendiri, dan pernah ingin dipahami tanpa benar-benar berusaha memahami. Pernah juga aku ingin orang lain mengerti alasan di balik sikapku, tetapi lupa bahwa mereka memiliki perasaan dan batas yang juga perlu dihargai.

Ada saat ketika aku merasa paling terluka dalam sebuah pertengkaran sampai tidak menyadari bahwa orang di hadapanku juga sedang terluka. Dan mungkin yang paling sulit untuk kuakui adalah bahwa terkadang aku bisa membuat seseorang yang kusayangi ikut lelah hanya karena aku sendiri tidak tahu bagaimana mengurus perasaanku.

Tidak ada yang menyenangkan dari menyadari hal seperti itu, apalagi ketika kita ingin melihat diri sendiri sebagai seseorang yang baik. Ada bagian dalam diri yang ingin mencari alasan.

Aku sedang lelah.

Aku sedang banyak pikiran.

Aku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu.

Aku hanya sedang terluka.

Semua itu mungkin benar. Tetapi benar tidak selalu cukup untuk membuat sesuatu menjadi tidak salah.

Aku baru memahami itu setelah beberapa kali melihat kembali percakapan yang sudah selesai, bukan hanya dari tempatku berdiri, tetapi dari sisi orang yang menerimanya. Ada kata-kata yang ketika kuingat kembali terdengar berbeda. Bukan karena maksudku berubah, melainkan karena sekarang aku bisa membayangkan bagaimana kata-kata itu mungkin terdengar bagi orang lain.

Suatu hari, aku sedang memikirkan sebuah percakapan yang pernah membuatku kesal. Dalam ingatanku, aku adalah seseorang yang terluka. Aku mengingat apa yang dikatakan kepadaku, nada yang digunakan, dan alasan mengapa aku merasa tidak dipahami. Aku hampir selesai menyalahkan keadaan ketika satu pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalaku.

Bagaimana kalau aku juga membuatnya merasa seperti itu?

Pertanyaan itu datang begitu saja. Tidak keras, tidak dramatis, tetapi cukup untuk membuatku diam.

Untuk beberapa saat, aku seperti melihat percakapan itu dari luar. Aku melihat diriku sendiri, bukan sebagai seseorang yang sepenuhnya benar dan bukan pula sebagai seseorang yang sepenuhnya salah. Hanya seorang manusia yang sedang berusaha menyampaikan sesuatu, tetapi mungkin melakukannya dengan cara yang membuat orang lain ikut terluka.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru membela diriku.

Aku hanya mengakui,

Ya. Di bagian itu, aku salah.

Aneh sekali bagaimana kalimat sesederhana itu bisa terasa begitu melegakan. Bukan karena kesalahan itu hilang, justru karena aku tidak lagi sibuk melawannya. Aku tidak perlu membuktikan bahwa aku orang baik sebelum mengakui bahwa aku pernah melakukan sesuatu yang tidak baik. Dua hal itu bisa hidup dalam diri yang sama.

Aku bisa menyayangi orang lain dan tetap pernah menyakiti mereka. Aku bisa memiliki niat yang baik dan tetap menghasilkan sesuatu yang tidak baik. Aku bisa tidak bermaksud melukai seseorang, tetapi tetap perlu bertanggung jawab ketika sesuatu yang kulakukan membuat mereka terluka.

Di situlah aku mulai melihat perbedaan antara rasa bersalah dan tanggung jawab. Rasa bersalah sering membuat kita terus menatap kesalahan sampai kesalahan itu terasa seperti identitas. Tanggung jawab mengajarkan kita untuk melihatnya dengan lebih jernih: apa yang sebenarnya terjadi, bagian mana yang menjadi tanggung jawabku, dan apa yang bisa kulakukan setelah menyadarinya.

Aku tidak ingin setiap kesalahan menjadi alasan untuk membenci diri sendiri. Tetapi aku juga tidak ingin selalu memiliki alasan yang membuatku merasa tidak perlu berubah. Aku ingin berada di tengah-tengahnya, di tempat yang mungkin lebih sunyi, tetapi lebih jujur; tempat di mana aku bisa berkata, Aku salah, tanpa merasa seluruh diriku menjadi buruk karenanya, dan bisa berkata, Aku tidak bermaksud begitu, tanpa menggunakan kalimat itu untuk menghapus dampaknya.

Dulu aku mungkin berpikir bahwa menjadi orang baik berarti berusaha untuk tidak menyakiti siapa pun. Sekarang aku tahu itu hampir mustahil. Kita akan salah bicara. Kita akan lupa mendengarkan. Kita akan terlalu sibuk dengan diri sendiri. Kita akan mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. Kita akan membuat keputusan yang baru kita pahami setelah semuanya terjadi.

Bukan karena kita selalu buruk.

Karena kita manusia.

Manusia tidak menjalani hidup dengan hati yang selalu tenang, pikiran yang selalu jernih, dan kata-kata yang selalu tepat. Yang membedakan mungkin bukan seberapa sering kita jatuh ke dalam kesalahan, melainkan apa yang kita lakukan ketika akhirnya melihat jejaknya.

Lihat selengkapnya