Ada seorang perempuan yang tinggal di dalam kepalaku.
Aku mengenalnya sejak lama, meskipun aku tidak pernah benar-benar tahu kapan ia mulai tinggal di sana. Mungkin ia tumbuh dari cerita-cerita tentang perempuan yang selalu tahu apa yang harus dilakukan, dari tokoh-tokoh dalam buku yang rambutnya tetap indah meski baru saja melewati hutan, dari film-film tentang seorang putri yang akhirnya menemukan gaunnya, pangerannya, istananya, lalu hidup bahagia selamanya.
Mungkin ia juga lahir dari hal-hal yang lebih sederhana.
Dari melihat perempuan lain yang tampak begitu teratur.
Dari seseorang yang kelihatannya selalu tahu harus berkata apa.
Dari foto-foto perempuan yang bangun pagi, berolahraga, minum air putih, bekerja dengan tenang, merawat dirinya, mengenakan pakaian yang indah, lalu menjalani hari seolah hidup tidak pernah membuat mereka kehilangan arah.
Perempuan itu kemudian tumbuh di dalam kepalaku, sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia memiliki kehidupan sendiri.
Ia seperti seorang princess.
Bukan princess yang duduk menunggu diselamatkan, melainkan seseorang yang sepertinya mampu mengurus seluruh hidupnya sendiri. Ia bangun tepat waktu tanpa menekan tombol snooze berkali-kali. Kamarnya selalu rapi. Rambutnya selalu terlihat baik. Kulitnya sehat. Tubuhnya kuat. Ia makan dengan teratur, berolahraga, membaca buku, menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, dan masih memiliki cukup tenaga untuk merawat orang-orang yang ia sayangi.
Ia feminin tanpa pernah terlihat berusaha.
Pintar tanpa membuat orang lain merasa kecil.
Lembut tanpa membiarkan siapa pun melewatinya.
Tegas tanpa menjadi kasar.
Ia tahu bagaimana berbicara kepada orang yang lebih tua, kepada teman, kepada pasangan, kepada orang asing, bahkan kepada seseorang yang sedang marah kepadanya. Ia tahu kapan harus menjelaskan dan kapan harus diam. Ia tahu kapan harus bertahan dan kapan harus pergi.
Ia tidak pernah mengatakan sesuatu yang kemudian ia sesali.
Tidak pernah menangis karena hal kecil.
Tidak pernah terlalu banyak berpikir sebelum tidur.
Tidak pernah membandingkan dirinya dengan perempuan lain.
Tidak pernah merasa tertinggal.
Ia produktif, tetapi tidak kelelahan.
Ia ambisius, tetapi tidak terobsesi.
Ia baik kepada orang lain, tetapi tidak pernah melupakan dirinya sendiri.
Dan tentu saja, ia cantik setiap hari.
Ada sesuatu yang lucu dari bagaimana sempurnanya perempuan itu.
Karena setiap kali aku merasa gagal menjadi seperti dirinya, aku hanya perlu membayangkan satu hal: ia tidak pernah benar-benar harus menjalani hari yang sedang kujalani.
Ia tidak pernah bangun dengan mata berat dan tubuh yang rasanya masih ingin tidur.
Ia tidak pernah menatap layar terlalu lama karena pikirannya sedang penuh.
Ia tidak pernah memiliki pekerjaan yang menumpuk ketika tenaganya justru sedang habis.
Ia tidak pernah salah memahami seseorang.
Tidak pernah terlambat membalas pesan.
Tidak pernah salah memilih kata.
Tidak pernah memiliki hari ketika ia hanya ingin berbaring dan tidak melakukan apa-apa.
Ia bahkan tidak pernah mengalami rambut berantakan, wajah kusam, kamar yang belum dirapikan, cucian yang tertunda, atau daftar pekerjaan yang semakin panjang meskipun hari sudah hampir selesai.
Ia sempurna karena aku selalu membuatnya sempurna.
Aku bisa menghapus bagian-bagian yang tidak kusukai darinya.
Aku bisa memberinya disiplin tanpa memberinya rasa malas.
Memberinya kecantikan tanpa memberinya hari-hari ketika ia merasa tidak cantik.
Memberinya keberanian tanpa memberinya ketakutan.
Memberinya kesabaran tanpa memberinya alasan untuk marah.
Memberinya tujuan tanpa memberinya kebingungan.
Aku bisa membuatnya menjadi perempuan yang selalu tahu harus ke mana karena aku tidak pernah memberinya jalan yang salah.
Dan kemudian, dengan sesuatu yang begitu tidak adil, aku menggunakan perempuan itu untuk mengukur diriku sendiri.
Aku membandingkan pagi yang berantakan dengan pagi sempurna miliknya.
Hari ketika aku tidak produktif dengan daftar panjang yang mungkin akan ia selesaikan sebelum makan siang.
Wajahku setelah menangis dengan wajahnya yang selalu siap difoto.
Kebingunganku dengan keyakinannya.
Kesalahanku dengan ketenangannya.
Aku melihatnya berdiri di sana, tinggi dan anggun, lalu melihat diriku sendiri dari tempat yang jauh lebih rendah.
Tentu saja aku selalu merasa kurang.
Bagaimana mungkin aku menang melawan seseorang yang tidak pernah lelah, tidak pernah salah, dan tidak pernah ada?