THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #8

Seseorang yang Mengerti Aku

Kemudian aku bertemu seseorang.

Seorang laki-laki yang, dalam banyak hal, membuatku merasa lebih mudah menjadi diriku sendiri.

Bukan karena ia selalu tahu harus mengatakan apa. Bukan karena ia selalu mengerti apa yang sedang kupikirkan bahkan sebelum aku mengatakannya. Justru ada banyak hal yang tidak ia mengerti, dan ada banyak percakapan yang tetap membutuhkan waktu agar kami bisa saling memahami.

Tetapi ada sesuatu dalam caranya melihatku yang membuatku tidak terlalu takut untuk menunjukkan siapa diriku.

Aku tidak selalu harus terlihat tenang di hadapannya. Aku tidak harus selalu memiliki jawaban. Aku bisa bercerita tentang sesuatu yang menurutku tidak penting, lalu menyadari bahwa ia tetap mendengarkan. Aku bisa berubah pikiran, menjadi terlalu banyak bicara, diam terlalu lama, atau tiba-tiba merasa tidak yakin dengan sesuatu yang sebelumnya kuanggap pasti.

Dan entah bagaimana, aku tidak merasa harus segera memperbaiki semua itu sebelum memperlihatkannya kepada dia.

Aku merasa dilihat.

Ternyata perasaan itu besar sekali.

Ada perbedaan antara seseorang yang sekadar mengetahui tentang kita dan seseorang yang benar-benar memperhatikan kita. Ia tahu hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah kupikir akan diingat seseorang. Cara suaraku berubah ketika sedang lelah. Cara aku menjadi lebih diam ketika terlalu banyak hal ada di kepala. Hal-hal yang membuatku bersemangat, hal-hal yang membuatku takut, bahkan bagian-bagian kecil dari diriku yang terkadang sulit kujelaskan sendiri.

Dan mungkin yang paling membuatku terdiam adalah kenyataan bahwa ia tetap tinggal ketika melihat sisi-sisi itu.

Bukan hanya perempuan yang mudah tertawa.

Bukan hanya perempuan yang terlihat kuat.

Bukan hanya perempuan yang bisa diajak berbicara tentang mimpi dan masa depan.

Tetapi juga perempuan yang kadang terlalu banyak berpikir, yang bisa salah memahami sesuatu, yang emosinya terkadang datang lebih cepat daripada logikanya, yang bisa keras kepala ketika merasa terluka, dan yang masih memiliki banyak bagian dalam dirinya yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Untuk waktu yang cukup lama, aku mengira dicintai berarti seseorang melihat sisi terbaik kita dan menyukainya.

Mungkin memang ada bagian dari cinta yang seperti itu.

Tetapi kemudian aku menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih dalam ketika seseorang melihat bagian yang tidak terlalu indah dan tidak langsung pergi.

Bukan berarti ia harus menerima semua hal tanpa batas.

Bukan berarti ia harus selalu memaklumi apa pun yang kulakukan.

Justru karena ia mengenalku, ia juga bisa melihat ketika aku sedang tidak menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Dan di situlah cinta mulai terasa berbeda.

Ia tidak hanya menjadi tempat untuk merasa nyaman.

Ia juga menjadi cermin.

Kadang aku melihat diriku sendiri melalui cara ia merespons sesuatu yang kulakukan, dan aku menemukan sisi yang sebelumnya tidak ingin kulihat.

Ada saat ketika aku ingin dimengerti, tetapi lupa mencoba memahami.

Ada saat ketika aku sedang marah dan terlalu sibuk dengan rasa sakitku sendiri sampai tidak menyadari bahwa caraku berbicara mungkin ikut melukainya.

Ada saat ketika aku berharap ia tahu apa yang kubutuhkan tanpa pernah benar-benar mengatakannya.

Ada saat ketika aku ingin ia selalu ada, tetapi lupa bahwa ia juga memiliki hari-hari ketika dirinya sendiri membutuhkan ruang untuk bernapas.

Cinta membuat hal-hal seperti itu lebih sulit untuk diabaikan.

Karena ketika seseorang tidak berarti bagi kita, mungkin kita bisa pergi begitu saja dari sebuah percakapan tanpa terlalu memikirkan apa yang tertinggal.

Tetapi ketika seseorang berarti, cara kita berbicara menjadi penting.

Cara kita marah menjadi penting.

Cara kita meminta sesuatu menjadi penting.

Bahkan cara kita diam pun bisa memiliki arti.

Aku mulai mengerti bahwa memiliki seseorang yang mencintaiku bukan berarti aku bisa menyerahkan seluruh perasaanku kepadanya dan berharap ia tahu bagaimana cara membawanya.

Emosiku tetap milikku.

Rasa takutku tetap harus kuhadapi.

Kemarahan yang muncul di dalam diriku tetap menjadi sesuatu yang perlu kuurus.

Kesedihanku boleh ditemani, tetapi tidak harus diselesaikan oleh orang lain.

Dan mungkin ini adalah salah satu hal paling dewasa yang pernah diajarkan cinta kepadaku tanpa harus mengatakannya secara langsung:

orang yang mencintaiku bukan tempat untuk meletakkan semua tanggung jawab atas perasaanku.

Ia boleh memelukku ketika aku sedang sedih.

Ia boleh mendengarkan ketika pikiranku terlalu penuh.

Lihat selengkapnya