THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #9

Belajar Meminta Tolong

Mungkin karena sejak kecil aku belajar untuk bisa, belajar menyelesaikan sesuatu sebelum meminta orang lain melakukannya untukku, dan perlahan terbiasa dengan perasaan bahwa selama aku masih sanggup berdiri, mungkin aku tidak perlu memanggil siapa pun. Mungkin juga karena ada bagian dari diriku yang tidak ingin merepotkan orang lain, takut membuat seseorang merasa terbebani hanya karena aku membutuhkan sesuatu, atau diam-diam takut jika ketika aku akhirnya berkata, “Aku tidak bisa,” orang lain akan melihatku sebagai seseorang yang ternyata tidak sekuat yang mereka kira.

Aku tidak selalu tahu dari mana kebiasaan itu berasal, tetapi aku mengenal caranya bekerja di dalam diriku. Ketika ada sesuatu yang sulit, aku akan mencoba mencari jalan sendiri. Ketika tidak tahu harus melakukan apa, aku akan mencari jawabannya sendiri. Ketika lelah, aku sering mengatakan kepada diriku bahwa mungkin aku hanya perlu tidur sebentar, kemudian semuanya akan terasa lebih ringan. Dan ketika sesuatu mulai terlalu berat untuk kubawa, alih-alih berkata bahwa aku membutuhkan seseorang, aku justru sering mencoba mengangkatnya sedikit lebih tinggi, seolah-olah dengan begitu aku bisa membuktikan bahwa aku masih mampu.

Ada kepuasan kecil di dalamnya, tentu saja. Ada rasa bangga ketika berhasil melewati sesuatu tanpa harus meminta siapa pun. Rasanya seperti berhasil mengatakan kepada dunia bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri, bahwa aku tidak mudah runtuh hanya karena keadaan menjadi sulit. Tetapi semakin dewasa, aku mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara mampu melakukan sesuatu sendiri dan merasa bahwa aku harus melakukan semuanya sendiri.

Aku baru benar-benar merasakan perbedaannya ketika suatu hari aku sedang lelah, bukan lelah yang bisa hilang hanya dengan tidur lebih lama, tetapi lelah yang membuat hal-hal kecil terasa jauh lebih besar daripada seharusnya. Aku masih bisa tersenyum, masih bisa menjawab ketika seseorang bertanya, masih bisa mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, tetapi di dalam diriku ada keinginan yang sangat sederhana untuk berhenti sebentar dan tidak harus menjadi orang yang tahu apa yang harus dilakukan.

Dan anehnya, yang paling sulit bukanlah rasa lelah itu.

Yang paling sulit adalah mengatakannya.

Aku bisa mengatakan, “Aku capek,” tetapi setelah itu biasanya aku akan buru-buru menambahkan, “Tapi tidak apa-apa.” Aku bisa mengatakan bahwa hariku sedang berat, lalu beberapa detik kemudian merasa perlu menjelaskan bahwa sebenarnya aku masih baik-baik saja. Seolah-olah bahkan ketika sedang meminta ruang untuk menjadi lemah, aku masih harus memastikan bahwa orang lain tidak perlu terlalu khawatir.

Mungkin aku terlalu lama mengira bahwa meminta bantuan berarti memberikan sebagian dari bebanku kepada orang lain.

Padahal mungkin tidak selalu begitu.

Kadang meminta bantuan hanya berarti memberi seseorang kesempatan untuk berjalan beberapa langkah bersamaku.

Ada satu kalimat yang terdengar begitu sederhana, tetapi semakin kupikirkan, semakin terasa berat untuk mengucapkannya.

“Bisa temani aku?”

Bukan, “Tolong selesaikan ini untukku.”

Bukan, “Kamu harus membuat semuanya baik-baik saja.”

Hanya, “Bisa temani aku?”

Ada hari ketika aku tidak membutuhkan jawaban. Aku hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sebelahku tanpa membuatku merasa harus segera menemukan solusi. Ada hari ketika aku tahu apa yang harus kulakukan, tetapi tidak memiliki cukup tenaga untuk memulainya sendirian. Ada juga hari ketika aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mengakui kebingungan itu kepada seseorang yang kupercaya.

Dulu, aku mungkin akan menganggap itu sebagai kelemahan.

Sekarang, aku mulai melihatnya sebagai kejujuran.

Sebab ada sesuatu yang sangat melelahkan dari terus-menerus mempertahankan gambaran bahwa kita baik-baik saja hanya karena kita takut mengecewakan orang lain. Kita bisa terlihat kuat sambil diam-diam berharap seseorang menyadari bahwa sebenarnya kita sedang kesulitan, dan mungkin bagian paling menyedihkan dari kebiasaan itu adalah ketika tidak ada yang datang karena kita sendiri tidak pernah memberi tahu bahwa kita membutuhkan mereka.

Orang lain bukan pembaca pikiran.

Mereka mungkin mencintaiku, memperhatikanku, bahkan mengenalku cukup dalam, tetapi mereka tetap tidak selalu tahu kapan aku sedang membutuhkan tangan yang terulur jika aku terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Dan aku mulai menyadari bahwa membiarkan seseorang membantuku bukan berarti aku kehilangan kemampuan untuk menjaga diriku sendiri.

Ada sesuatu yang lembut dari ketika seseorang berkata, “Sini, aku bantu,” dan untuk sesaat aku tidak perlu menjawab, “Tidak usah, aku bisa sendiri.” Aku bisa mengatakan, “Terima kasih,” lalu membiarkan tanganku beristirahat sedikit lebih lama.

Mungkin sesederhana itu.

Mungkin selama ini aku tidak membutuhkan seseorang untuk mengambil seluruh bebanku. Aku hanya membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa ada hari ketika tanganku tidak cukup kuat untuk membawa semuanya sekaligus.

Dan tentu saja, meminta bantuan tidak selalu mudah.

Ada rasa takut ditolak. Ada rasa malu. Ada kekhawatiran bahwa seseorang akan menganggap kita merepotkan. Ada bagian kecil dalam diri yang bertanya, Bagaimana kalau nanti mereka lelah membantuku? Bagaimana kalau suatu hari mereka menyadari bahwa ternyata aku tidak sekuat yang mereka kira?

Lihat selengkapnya