Aku ingin sehat.
Bukan karena aku membenci tubuhku. Justru sebaliknya. Mungkin untuk pertama kalinya, aku mulai melihat tubuhku sebagai sesuatu yang selama ini terlalu sering kuanggap akan selalu ada.
Ia membawaku ke tempat-tempat yang ingin kukunjungi, menemaniku bekerja ketika aku sedang lelah, membantuku berjalan pulang ketika hari terasa panjang, membiarkanku duduk berjam-jam di depan layar sambil menulis sesuatu yang bahkan belum tentu selesai. Ia ikut tertawa ketika aku menemukan sesuatu yang lucu, ikut menangis ketika hatiku terlalu penuh, dan tetap bangun bersamaku keesokan harinya seolah tidak terjadi apa-apa.
Selama bertahun-tahun, aku jarang memikirkannya dengan cara seperti itu.
Tubuhku hanya tubuhku.
Aku bangun, menjalani hari, makan ketika ingat, tidur ketika sudah terlalu lelah, lalu mengulanginya lagi besok. Ada hari-hari ketika aku memaksanya terus berjalan meskipun sebenarnya ia sudah meminta berhenti. Ada malam-malam ketika pikiranku terlalu ramai untuk tidur, tetapi aku tetap membiarkannya terjaga bersamaku. Ada waktu ketika kesedihan membuat semuanya terasa tidak penting, termasuk diriku sendiri.
Aku pernah berpikir bahwa selama aku masih bisa menjalani hari, berarti semuanya baik-baik saja.
Ternyata tidak selalu begitu.
Ada masa ketika kesedihan yang terlalu lama tinggal di kepalaku mulai ikut menetap di tubuhku. Tidur menjadi sesuatu yang sulit. Makan tidak lagi terasa sederhana. Ada hari ketika aku tidak berselera, ada hari ketika aku makan tanpa benar-benar memperhatikan apa yang masuk ke tubuhku, dan ada hari ketika perutku mulai memberikan tanda-tanda yang tidak bisa lagi kuabaikan.
Awalnya hanya sakit.
Aku pikir mungkin akan lewat.
Mungkin karena lelah. Mungkin karena terlambat makan. Mungkin karena terlalu banyak pikiran. Selalu ada alasan yang terasa cukup masuk akal untuk membuatku menunda perhatian.
Sampai akhirnya rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang bisa kutunggu pergi.
Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan ketika akhirnya aku mendapatkan diagnosis dan harus menjalani pengobatan untuk masalah autoimun yang berkaitan dengan lambung dan gastritis, ada bagian dari diriku yang diam cukup lama.
Bukan karena aku tiba-tiba merasa hidupku berakhir.
Justru sebaliknya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat ingin hidup.
Keinginan itu datang dengan cara yang sederhana, hampir mengejutkan. Aku ingin melihat lebih banyak pagi. Aku ingin pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Aku ingin menyelesaikan hal-hal yang belum selesai. Aku ingin melihat bagaimana hidupku akan berubah beberapa tahun lagi. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik, bukan karena aku takut menjadi buruk, tetapi karena ternyata masih ada begitu banyak kehidupan yang ingin kutemui.
Aku tidak ingin mati.
Aku tidak ingin menyakiti diriku sendiri.
Aku ingin tinggal.
Dan mungkin kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagiku ia membawa sesuatu yang sangat besar.
Selama ini aku sering berpikir bahwa untuk membalas semua yang sudah kulewati, aku harus menjadi seseorang yang hebat. Aku harus berhasil. Aku harus mencapai banyak hal. Aku harus membuat hidupku berarti.
Tetapi semakin kupikirkan, mungkin ada bentuk lain dari membalas diriku sendiri yang jauh lebih sederhana.
Hidup dengan baik.
Menjaga tubuh yang sudah membawaku sejauh ini.