Mungkin sejak dulu.
Ada begitu banyak kehidupan yang pernah kubayangkan di dalam kepala, bahkan sebelum aku benar-benar tahu seperti apa rasanya menjalani kehidupan itu. Aku bisa membayangkan sebuah rumah yang belum pernah kutinggali, pekerjaan yang belum pernah kumiliki, tulisan yang belum pernah selesai, tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, dan perempuan seperti apa yang ingin kulihat ketika suatu hari aku berdiri di depan cermin dan menyadari bahwa bertahun-tahun telah berlalu.
Aku punya banyak sekali keinginan.
Kadang terlalu banyak sampai aku sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana.
Aku ingin menulis sesuatu yang bisa tinggal di hati seseorang setelah mereka selesai membacanya. Aku ingin bekerja dengan baik, menghasilkan sesuatu yang benar-benar bisa kubanggakan, memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kakiku sendiri, punya uang yang cukup untuk membuat hidup terasa lebih nyaman, membantu orang-orang yang kusayangi, pergi ke tempat-tempat yang selama ini hanya kulihat dari layar, dan suatu hari melihat namaku melekat pada sesuatu yang pernah kubangun dengan tanganku sendiri.
Aku ingin berhasil.
Tetapi mungkin ada bagian dari menjadi pemimpi yang tidak selalu terlihat indah.
Kadang-kadang, mimpi membuatku takut kehilangan waktu.
Aku pernah menatap jam di tengah malam dan merasa bersalah hanya karena ingin tidur. Mataku sampai hitam, tetapi kepalaku masih dipenuhi daftar hal yang belum selesai dan kehidupan yang belum berhasil kukejar. Ada malam ketika tubuhku sudah sangat lelah, tetapi aku masih duduk di depan layar, seolah-olah beberapa jam tambahan bisa membuatku lebih dekat dengan perempuan yang ingin menjadi diriku di masa depan.
Di dalam kepala, ada suara yang berkata bahwa aku masih jauh.
Dibandingkan orang lain, aku merasa masih sangat jauh.
Ada orang-orang yang sepertinya sudah tahu apa yang mereka lakukan. Ada yang sudah memiliki pekerjaan yang mereka inginkan, sudah menghasilkan sesuatu, sudah menemukan jalannya, sudah berada di tempat yang bahkan masih menjadi bayangan bagiku. Sementara aku masih duduk di sini, dengan banyak keinginan dan begitu sedikit kepastian.
Maka tidur terkadang terasa seperti kehilangan kesempatan.
Kalau aku tidur sekarang, pikirku, waktu yang kumiliki untuk menjadi apa yang kuimpikan akan semakin sedikit.
Aku tahu sekarang bahwa pikiran itu tidak selalu benar.
Tetapi dulu, aku mempercayainya.
Aku pernah merasa bahwa semakin sedikit aku tidur, semakin banyak yang bisa kukejar. Semakin lama aku duduk mengerjakan sesuatu, semakin cepat aku sampai. Seolah-olah hidup adalah perlombaan yang akan terus berjalan tanpa menungguku, dan jika aku berhenti sebentar saja, semua orang akan berjalan lebih jauh sementara aku tertinggal sendirian.
Ada malam ketika aku begitu lelah sampai mataku terasa panas, tetapi aku masih memaksa diri untuk menyelesaikan sesuatu.
Dan terkadang, di tengah kelelahan itu, muncul pikiran yang justru membuatku takut sendiri.
Kalau terus seperti ini, begadang, duduk berjam-jam dari pagi hingga pagi lagi, yang ada aku akan mati dulu sebelum bisa mewujudkan impianku.
Pikiran itu pernah membuatku diam.
Karena tiba-tiba aku sadar bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginanku sendiri.
Aku ingin hidup lama untuk melihat mimpiku menjadi nyata, tetapi aku memperlakukan tubuhku seolah-olah ia tidak perlu sampai ke sana bersamaku.
Aku ingin memiliki masa depan, tetapi aku terlalu sibuk mengejarnya sampai lupa bahwa masa depan itu hanya akan berarti kalau aku masih ada untuk menjalaninya.
Mungkin itu salah satu hal paling sulit yang harus kuterima sebagai seorang pemimpi: bahwa waktu tidak hanya digunakan untuk bekerja.
Waktu juga digunakan untuk hidup.
Untuk tidur.
Untuk makan dengan tenang.
Untuk berjalan tanpa tujuan.
Untuk tertawa dengan orang yang kusayangi.
Untuk melihat matahari turun perlahan tanpa merasa harus melakukan sesuatu selama beberapa menit.
Untuk duduk dan menyadari bahwa hari ini ternyata cukup baik, meskipun aku tidak menghasilkan apa-apa yang bisa dimasukkan ke dalam daftar pencapaian.
Aku masih memiliki ambisi.
Aku tidak ingin kehilangan itu.
Aku tetap ingin membuat sesuatu.
Aku ingin menulis.
Aku ingin bekerja.
Aku ingin punya karya yang bisa kubanggakan.
Aku ingin mandiri.