THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #12

Tetap baik, tetapi tidak kehilangan ketegasan

Ada seorang anak perempuan yang sangat ingin menjadi baik.

Sejak kecil, ia percaya bahwa menjadi baik berarti tidak membuat orang lain kecewa. Ia berusaha berbicara dengan lembut, membantu ketika seseorang membutuhkan, mendengarkan cerita orang lain meskipun sebenarnya ia sendiri sedang ingin didengarkan, dan sering kali mengalah hanya karena ia tidak ingin sesuatu menjadi lebih rumit.

Ketika seseorang meminta sesuatu, ia akan berpikir cukup lama sebelum mengatakan tidak.

Bahkan ketika hatinya sudah ingin menolak, mulutnya sering kali lebih dulu berkata, “Iya.”

Bukan karena ia selalu ingin melakukannya.

Kadang karena ia takut dianggap tidak peduli.

Kadang karena ia takut membuat seseorang sedih.

Kadang karena ia berpikir mungkin ia terlalu sensitif, terlalu banyak berpikir, atau terlalu mementingkan dirinya sendiri jika ia mengatakan bahwa sesuatu tidak nyaman baginya.

Jadi ia belajar menggeser dirinya sedikit ke belakang agar orang lain bisa merasa lebih nyaman di depannya.

Dan semakin lama, ia menjadi cukup pandai melakukannya.

Ia tahu bagaimana membaca perubahan wajah seseorang. Ia tahu kapan harus diam. Ia tahu kapan harus meminta maaf bahkan ketika ia belum yakin apa kesalahannya. Ia tahu bagaimana membuat percakapan kembali tenang setelah suasana menjadi tidak menyenangkan.

Orang-orang mungkin melihatnya sebagai anak yang baik.

Dan ia senang mendengarnya.

Ada rasa hangat ketika seseorang mengatakan, “Kamu baik sekali.”

Maka ia menyimpan kata-kata itu seperti sesuatu yang harus dijaga.

Sampai suatu hari ia menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh.

Setiap kali ia berusaha menjadi baik untuk semua orang, ada bagian kecil dari dirinya yang semakin lama semakin tidak terdengar.

Anak perempuan itu masih tersenyum.

Masih membantu.

Masih mengatakan tidak apa-apa.

Tetapi setelah pulang, ia sering merasa lelah tanpa tahu mengapa.

Ada percakapan yang terus dipikirkannya sebelum tidur. Ada kalimat yang ingin ia katakan tetapi akhirnya disimpan. Ada sesuatu yang sebenarnya membuatnya terluka, tetapi ia terlalu sibuk memahami alasan orang lain sampai lupa bertanya apakah dirinya sendiri baik-baik saja.

Ia begitu terbiasa mencari alasan untuk orang lain.

Mungkin dia sedang lelah.

Mungkin dia tidak bermaksud begitu.

Mungkin aku terlalu memikirkannya.

Mungkin seharusnya aku mengerti.

Dan hampir selalu, ada satu orang yang tidak ia beri kesempatan untuk dimengerti.

Dirinya sendiri.

Pada suatu hari, dalam sebuah kisah yang mungkin terdengar sederhana, anak perempuan itu berjalan sendirian melewati sebuah hutan kecil.

Ia pernah mendengar bahwa di ujung hutan ada sebuah rumah tempat tinggal seorang perempuan tua yang sangat baik. Konon, siapa pun yang datang kepadanya akan selalu mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Anak perempuan itu tertarik.

Ia ingin melihat seperti apa seseorang yang dianggap sangat baik oleh semua orang.

Ketika akhirnya sampai, ia menemukan perempuan tua itu sedang duduk di depan rumahnya.

Rumah itu kecil, tetapi halaman depannya dipenuhi bunga.

“Masuklah,” kata perempuan tua itu.

Anak perempuan itu masuk.

Di dalam rumah, ada banyak sekali benda yang diberikan orang kepadanya. Makanan, kain, buku, bunga, surat, bahkan beberapa benda yang tidak lagi ia ingat siapa yang memberikannya.

“Kau tinggal sendirian?” tanya anak perempuan itu.

Perempuan tua itu tersenyum.

“Ya.”

“Tidak pernah ada yang membantumu?”

“Ada.”

“Lalu mengapa kau melakukan begitu banyak hal untuk orang lain?”

Perempuan itu terdiam sebentar.

“Karena aku bisa.”

Jawaban itu membuat anak perempuan itu tersenyum.

Ia menyukai jawaban tersebut.

Tetapi sebelum pulang, ia melihat sesuatu yang aneh.

Di belakang rumah, ada sebuah pagar.

Tidak tinggi.

Tidak menakutkan.

Hanya sebuah pagar sederhana dengan pintu kecil yang bisa dibuka dari dalam.

Lihat selengkapnya