Aku pernah terlalu serius menjadi diriku sendiri.
Padahal aku bukan orang yang selalu serius. Aku suka bercanda, suka tertawa, suka melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi menyenangkan. Kalau sudah nyaman dengan seseorang, aku juga bisa cukup jahil. Kadang terlalu jahil, malah. Aku punya sisi yang bisa sangat kekanak-kanakan, tetapi anehnya, aku juga sering terlalu sibuk memikirkan apakah aku sudah terlihat cukup dewasa.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai merasa bahwa menjadi dewasa berarti harus selalu tahu apa yang sedang dilakukan.
Harus tahu cara menjawab.
Harus tahu cara bersikap.
Harus tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Harus terlihat tenang meskipun sebenarnya di dalam kepala sedang ada rapat besar yang tidak pernah selesai.
Padahal, kalau dipikir-pikir, siapa juga yang membuat aturan itu?
Aku sendiri.
Dan aku sendiri juga yang kadang menjadi satpamnya.
Ada sesuatu yang ingin kulakukan, lalu pikiranku datang dengan wajah serius.
Jangan.
Kenapa?
Nanti kelihatan aneh.
Aneh bagaimana?
Ya... pokoknya aneh.
Lalu aku tidak jadi melakukannya.
Beberapa jam kemudian, aku sadar tidak ada satu pun orang yang peduli.
Aku bisa tertawa kalau mengingatnya.
Ternyata selama ini aku sering mengadakan konferensi pers di dalam kepala untuk sesuatu yang bahkan tidak masuk berita.
Mungkin aku memang agak lucu.
Sejak kecil, sebenarnya aku cukup senang menjadi diriku sendiri. Aku bisa bermain, bercanda, membuat sesuatu yang tidak masuk akal menjadi terasa sangat penting, lalu beberapa menit kemudian pindah melakukan hal lain. Aku tidak terlalu memikirkan apakah semuanya terlihat keren.
Lalu aku tumbuh.
Dan entah bagaimana, aku mulai menyadari bahwa orang lain bisa melihatku.
Sejak saat itu, beberapa hal sederhana jadi terasa lebih rumit.
Aku ingin tertawa, tetapi sadar ada orang di dekatku.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi berpikir dua kali.
Aku ingin bertanya, tetapi takut pertanyaannya terdengar bodoh.
Aku ingin melakukan sesuatu yang sedikit konyol, lalu mendadak teringat bahwa aku sudah bukan anak kecil.
Padahal... memang kenapa kalau sesekali aku seperti anak kecil?
Aku juga tidak sedang mau mengurus negara.
Kalau aku salah mengucapkan sesuatu, dunia tidak berhenti berputar.
Kalau aku salah memilih makanan, hidupku tidak berakhir.
Kalau aku tertawa terlalu keras, mungkin seseorang akan menoleh. Setelah itu mereka akan kembali melakukan urusannya masing-masing.
Dan kalau aku mengatakan sesuatu yang memalukan?
Ya sudah.
Mungkin nanti malam aku akan mengingatnya sambil menutup muka dengan bantal.
Besok juga hidup berjalan lagi.
Aku mulai menyadari bahwa sebagian besar rasa malu yang pernah membuatku menahan diri ternyata memiliki umur yang sangat pendek.
Aku yang memberinya umur panjang.
Aku yang mengingatnya.
Aku yang mengulang percakapannya di kepala.
Aku yang berpikir, Kenapa tadi aku ngomong begitu?
Padahal orang yang mendengarnya mungkin sudah lupa.
Ini salah satu hal yang agak lucu tentang menjadi manusia. Kita bisa menghabiskan dua jam memikirkan satu kalimat yang kita ucapkan lima menit, sementara orang lain mungkin bahkan tidak ingat kita pernah mengatakannya.
Jadi sekarang, kalau aku melakukan sesuatu yang sedikit memalukan, aku mencoba untuk tidak terlalu lama tinggal di sana.
Kadang aku tertawa.