THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #15

Aku Tidak Harus Selesai

Mungkin aku tidak akan pernah benar-benar selesai.

Kalimat itu dulu terdengar agak menakutkan.

Sekarang, kalau kupikir-pikir lagi, sebenarnya lucu juga.

Selesai dari apa?

Menjadi manusia?

Rasanya tidak ada versi finalnya.

Aku pernah berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan sampai pada sebuah titik ketika semuanya terasa beres. Aku akan bangun dengan pola tidur yang bagus, makan dengan teratur, tidak terlalu banyak berpikir, tidak mudah marah, tidak menunda pekerjaan, tahu apa yang kuinginkan, tahu bagaimana mengatur hidup, punya cukup uang, cukup percaya diri, cukup sabar, cukup bijaksana, lalu mungkin suatu pagi aku akan duduk sambil minum kopi dan berkata, Nah. Akhirnya aku sudah menjadi perempuan yang seharusnya.

Ternyata hidup tidak bekerja seperti itu.

Sayangnya, tidak ada tombol update complete.

Bahkan setelah mengetahui sesuatu tentang diriku, aku masih bisa mengulang kebiasaan lama. Setelah berjanji ingin tidur lebih cepat, aku masih bisa menemukan diriku terjaga terlalu malam karena satu video berubah menjadi lima, lalu lima berubah menjadi, “Sebentar, aku cuma mau lihat satu lagi.”

Aku tahu aku harus istirahat.

Aku juga tahu besok ada banyak hal yang harus dilakukan.

Tetapi kadang otakku punya pendapat sendiri.

Dan begitulah.

Besok paginya aku bangun sambil menatap langit-langit kamar dan berpikir, Kenapa aku begini lagi?

Lalu beberapa menit kemudian, aku tertawa sendiri.

Ya, karena aku manusia.

Aku tidak selalu melakukan apa yang sudah kuketahui sebagai sesuatu yang baik untukku.

Pengetahuan dan kebiasaan ternyata tidak selalu tinggal di rumah yang sama.

Aku tahu aku seharusnya tidak menunda sesuatu, tetapi kadang aku tetap menundanya. Aku tahu aku seharusnya tidak terlalu memikirkan pendapat orang, tetapi kadang satu komentar kecil tetap berhasil membuatku kepikiran. Aku tahu marah tidak akan menyelesaikan semuanya, tetapi ada hari ketika emosiku datang lebih cepat daripada kemampuan berpikirku.

Dan ada juga hari ketika aku merasa sudah jauh lebih baik, lalu tiba-tiba sesuatu terjadi dan aku kembali menjadi versi diriku yang kukira sudah kutinggalkan.

Dulu aku mungkin akan kecewa.

Bukankah aku sudah pernah melewati ini?

Sekarang aku lebih sering berpikir, Oh. Ternyata bagian ini masih ada.

Tidak apa-apa.

Besok kita coba lagi.

Mungkin pertumbuhan memang sedikit membosankan kalau kita mengharapkan perubahan yang selalu terlihat besar.

Karena sering kali tidak ada musik kemenangan.

Tidak ada cahaya dari langit.

Tidak ada satu pagi ketika kita bangun lalu mendadak menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Kadang kemajuan hanya terlihat seperti berhenti sebelum mengatakan sesuatu yang akan kita sesali.

Kadang seperti akhirnya tidur lebih cepat.

Kadang seperti makan ketika lapar, bukan menunggu sampai tubuh benar-benar lelah.

Kadang seperti meminta maaf tanpa membuat penjelasan sepanjang satu halaman.

Kadang seperti menyadari bahwa kita sedang marah, lalu memilih diam sebentar sebelum berbicara.

Kadang seperti berkata, “Aku tidak sanggup hari ini,” lalu benar-benar beristirahat.

Hal-hal kecil sekali.

Saking kecilnya, mungkin kita bahkan tidak sadar bahwa kita sedang berubah.

Aku juga pernah terlalu ingin melihat hasilnya.

Aku ingin tahu apakah aku sudah menjadi lebih sabar.

Apakah aku sudah cukup baik.

Apakah aku sudah cukup sehat.

Apakah aku sudah lebih dewasa.

Apakah aku sudah berhenti terlalu memikirkan sesuatu.

Apakah aku sudah menjadi perempuan yang selama ini kubayangkan.

Lihat selengkapnya