Ada banyak versi diriku yang pernah ingin kutinggalkan.
Bukan karena aku membenci mereka. Mungkin justru karena aku terlalu lama berpikir bahwa untuk menjadi seseorang yang lebih baik, aku harus menjadi seseorang yang berbeda.
Aku pernah ingin menjadi perempuan yang lebih cantik, supaya aku tidak perlu merasa kurang ketika berdiri di samping orang lain. Aku pernah ingin menjadi lebih pintar, supaya aku tidak takut ketika tidak tahu sesuatu. Aku pernah ingin menjadi lebih sukses, supaya aku bisa melihat hidupku dan merasa bahwa semua yang kulakukan selama ini tidak sia-sia. Aku pernah ingin menjadi lebih baik, lebih sabar, lebih tenang, lebih dewasa, seolah-olah ada sebuah versi diriku di masa depan yang akhirnya akan membuat semua bagian yang sekarang terasa kurang menjadi masuk akal.
Tetapi semakin jauh aku berjalan, semakin aku sadar bahwa aku tidak ingin memilih diriku berdasarkan bagian mana yang paling mudah untuk dicintai.
Bukan diriku yang paling cantik.
Bukan diriku yang paling pintar.
Bukan diriku yang paling sukses.
Bukan diriku yang paling baik.
Aku ingin memilih diriku yang nyata.
Diriku yang kadang salah membaca keadaan, yang bisa terlalu banyak berpikir, yang terkadang marah sebelum sempat memahami apa yang sebenarnya kurasakan. Diriku yang pernah mengatakan sesuatu dengan cara yang salah, yang pernah mengecewakan orang lain, yang kadang malas, kadang keras kepala, kadang terlalu ingin dimengerti, bahkan ketika aku sendiri belum cukup pandai memahami orang lain.
Aku ingin memilih perempuan itu juga.
Bukan untuk membenarkan semua yang pernah ia lakukan, tetapi supaya ia tidak perlu hidup dengan perasaan bahwa dirinya harus sempurna dulu sebelum pantas disayangi.
Aku ingin memilih diriku yang pernah takut.
Yang pernah menangis diam-diam.
Yang pernah merasa tertinggal.
Yang pernah melihat orang lain berjalan lebih cepat lalu bertanya apakah dirinya sedang berada di jalan yang salah.
Aku ingin memilih diriku yang masih punya mimpi-mimpi besar meskipun kadang takut tidak akan sampai.
Diriku yang masih suka menulis.
Diriku yang bisa jatuh cinta pada seseorang dan merasa dunia sedikit lebih hangat karenanya.
Diriku yang masih bisa tertawa karena hal-hal bodoh.
Diriku yang kadang ingin terlihat cantik.
Diriku yang kadang hanya ingin tidur lebih lama.
Diriku yang punya hari baik dan hari yang tidak begitu baik.
Aku ingin memilih semuanya.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu meminta maaf karena itu.
Aku sering membayangkan diriku sebagai sesuatu yang harus terus diperbaiki, seolah-olah ada terlalu banyak bagian yang salah dan tugasku adalah menghapusnya satu per satu sampai akhirnya tidak ada lagi yang perlu dikeluhkan.
Tetapi sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Aku tidak ingin menghapus masa kecilku hanya karena ada bagian darinya yang belum mengerti banyak hal.
Aku tidak ingin menghapus gadis yang terlalu banyak bermimpi hanya karena sebagian mimpinya tidak pernah menjadi kenyataan.
Aku tidak ingin menghapus anak pertama yang terlalu cepat belajar memahami keadaan.
Aku tidak ingin menghapus perempuan yang terlalu banyak merasa, terlalu banyak berpikir, terlalu mudah khawatir, atau terlalu sering mempertanyakan dirinya sendiri.
Mereka semua pernah membawaku sampai ke sini.
Dan meskipun perjalanan mereka tidak selalu sempurna, mereka tetap melakukan yang mereka tahu pada saat itu.
Kadang aku ingin sekali kembali kepada anak kecil yang dulu.
Bukan untuk memberinya nasihat panjang.
Aku rasa ia akan bosan.
Aku juga tidak ingin memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena aku tidak tahu apakah semuanya akan selalu baik-baik saja.
Mungkin tidak.
Aku hanya ingin duduk di dekatnya.
Mungkin kami akan melakukan sesuatu yang sederhana. Menggambar. Membaca. Menulis sesuatu yang tidak penting. Atau hanya duduk sambil melihat sore dari jendela.
Aku ingin melihat wajahnya ketika ia sedang tidak tahu bahwa suatu hari nanti ia akan tumbuh menjadi aku.
Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa ia tidak perlu terburu-buru.
Bahwa ia tidak harus menjadi hebat untuk membuat hidupnya berarti.
Bahwa ketika suatu hari ia merasa terlalu banyak, terlalu sensitif, terlalu takut, atau terlalu berbeda, itu bukan berarti ada sesuatu yang salah dengannya.
Dan mungkin, kalau ia bertanya apakah hidup akan mudah, aku tidak akan berbohong.
Aku akan bilang, “Tidak selalu.”
Lalu mungkin ia akan bertanya, “Terus bagaimana?”
Aku ingin menggenggam tangannya dan menjawab, “Kita jalan saja.”
Bukan karena aku tahu jalannya.
Bukan karena aku punya semua jawabannya.
Hanya karena ternyata kita memang selalu menemukan cara untuk melewati hari berikutnya.
Ada masa ketika aku berpikir aku harus menjadi keras supaya tidak mudah terluka.
Aku pikir kalau aku bisa tidak terlalu peduli, tidak terlalu berharap, tidak terlalu merasa, mungkin semuanya akan lebih mudah.
Tetapi semakin dewasa, aku justru semakin menyukai kelembutan yang masih tersisa dalam diriku.
Aku tidak ingin kehilangan kemampuan untuk peduli hanya karena pernah kecewa.