THE WOMAN I AM BECOMING

Liepiescesha
Chapter #17

Surat untuk Diriku yang Berusia Delapan Tahun

Hai.

Aku tidak tahu apakah kamu akan percaya kalau aku bilang kita sudah tumbuh sejauh ini.

Mungkin kalau aku datang kepadamu sekarang dan menceritakan sedikit tentang kehidupan yang akan kita jalani, kamu akan menatapku dengan mata yang penuh rasa ingin tahu, lalu mulai bertanya terlalu banyak hal seperti biasanya.

Kita akan tinggal di mana?

Kita akan menjadi apa?

Apakah kita akan punya rumah sendiri?

Apakah kita akan tetap menulis?

Apakah semua yang kita bayangkan akan benar-benar terjadi?

Aku mungkin akan tersenyum, lalu bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.

Karena ternyata, hidup tidak datang dengan jawaban yang lengkap.

Ada banyak hal yang dulu kita pikir akan terjadi, tetapi tidak pernah terjadi.

Ada beberapa mimpi yang berubah bentuk sebelum sempat kita genggam. Ada orang-orang yang dulu terasa seperti akan tinggal selamanya, tetapi akhirnya hanya menjadi bagian dari cerita yang sesekali kita ingat. Ada tempat-tempat yang pernah kita bayangkan akan kita datangi, percakapan yang pernah kita pikir akan terjadi, dan versi kehidupan yang dulu terasa begitu jelas di kepala, tetapi ternyata bukan itu jalan yang kita jalani.

Aku tahu mungkin kamu akan sedih mendengarnya.

Aku juga pernah.

Ada masa ketika aku berpikir bahwa kalau sesuatu tidak terjadi seperti yang kubayangkan, berarti aku telah gagal.

Ternyata tidak selalu begitu.

Kadang hidup hanya sedang membawa kita ke tempat yang belum kita kenal.

Dan aku tahu kamu belum mengerti itu sekarang.

Tidak apa-apa.

Kamu tidak harus mengerti semuanya.

Aku hanya ingin kamu tahu satu hal sebelum aku menceritakan terlalu banyak.

Kita masih menulis.

Aku tahu.

Dari semua hal yang bisa berubah, mungkin ini salah satu yang paling membuatku tersenyum.

Kamu yang dulu suka mengambil sesuatu untuk ditulis, yang bisa menghabiskan waktu dengan dunia kecil di kepalamu sendiri, ternyata masih membawa kebiasaan itu sampai sejauh ini.

Tidak selalu setiap hari.

Tidak selalu dengan cerita yang selesai.

Tidak selalu dengan kata-kata yang indah.

Tetapi kamu masih kembali.

Masih ada bagian dari dirimu yang merasa lebih tenang ketika sesuatu yang berisik di kepala akhirnya menemukan tempat di atas halaman.

Dan mungkin, tanpa kamu sadari, tulisan-tulisan kecilmu dulu sedang menyimpan sesuatu untukku.

Sebuah jalan pulang.

Aku ingin berterima kasih kepadamu.

Karena kamu tidak berhenti menjadi seseorang yang bisa membayangkan sesuatu yang belum ada.

Kamu masih punya mimpi.

Meskipun bentuknya berubah.

Meskipun beberapa di antaranya terasa terlalu jauh.

Meskipun nanti kamu akan bertemu hari-hari ketika melihat mimpi orang lain membuatmu bertanya-tanya apakah hidupmu berjalan terlalu lambat.

Kamu masih bermimpi.

Dan aku harap kamu tidak malu karena itu.

Ada orang yang mungkin akan mengatakan bahwa usia kita masih muda.

Mungkin memang begitu.

Masih banyak tahun di depan.

Masih banyak hal yang belum kita lihat.

Masih banyak kesalahan yang belum kita buat, tempat yang belum kita datangi, orang yang belum kita temui, dan versi diri kita yang belum kita kenal.

Tetapi aku juga tidak ingin mengecilkan apa yang sudah kita rasakan hanya karena kita belum hidup terlalu lama.

Sedih tetap terasa sedih ketika kita mengalaminya.

Kehilangan tetap meninggalkan ruang kosong.

Kebingungan tetap membuat malam terasa panjang.

Rasa tidak cukup tetap bisa membuat dada sesak meskipun orang lain mungkin melihat hidup kita dan berkata, “Kamu masih muda.”

Mungkin mereka benar.

Tetapi perasaan tidak pernah meminta izin berdasarkan umur.

Jadi kalau suatu hari kamu merasa sedih karena sesuatu yang menurut orang lain sepele, jangan terlalu cepat memarahi dirimu sendiri.

Kalau kamu kecewa, rasakan saja.

Kalau kamu menangis, menangislah.

Kita tidak perlu menjadi cukup dewasa untuk merasa sakit.

Dan aku ingin meminta maaf.

Karena setelah tumbuh, aku beberapa kali membuatmu merasa bahwa menjadi dirimu sendiri belum cukup.

Aku membuatmu berpikir bahwa kamu harus lebih cantik.

Lebih pintar.

Lebih berhasil.

Lebih tenang.

Lebih baik.

Lebih cepat.

Aku membandingkan langkah kita dengan langkah orang lain, lalu membuatmu merasa tertinggal padahal kamu bahkan belum tahu ke mana sebenarnya kita ingin pergi.

Aku terlalu sering memandangmu seperti sebuah pekerjaan rumah yang harus diperbaiki.

Lihat selengkapnya