Aku tidak tahu seperti apa perempuan yang akan menjadi diriku lima tahun lagi.
Mungkin ia akan memiliki kehidupan yang sangat berbeda dari yang kubayangkan hari ini. Mungkin beberapa hal yang sekarang begitu kuinginkan tidak lagi terasa penting baginya. Mungkin ada mimpi yang akhirnya tercapai, lalu digantikan oleh sesuatu yang bahkan belum bisa kubayangkan. Mungkin akan ada orang-orang baru yang datang, beberapa yang pergi, tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, keputusan-keputusan yang belum pernah terpikirkan, dan versi diriku yang belum pernah kukenal.
Dulu, ketidakpastian seperti itu membuatku ingin bergegas mencari jawaban.
Aku ingin tahu akan menjadi siapa. Aku ingin tahu apakah aku akan berhasil. Aku ingin tahu apakah semua yang kuusahakan sekarang akan membawa aku ke tempat yang kuinginkan. Aku ingin memastikan bahwa perempuan yang sedang kubentuk hari ini akan menjadi seseorang yang bisa kubanggakan nanti.
Sekarang, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Mungkin hidup memang tidak pernah meminta kita untuk mengetahui semuanya lebih dahulu.
Ada hal-hal yang baru bisa dipahami setelah kita menjalaninya. Ada keputusan yang baru terasa benar setelah kita cukup jauh meninggalkannya. Ada kehilangan yang pada awalnya hanya terasa seperti kehilangan, sebelum suatu hari kita menyadari bahwa ia telah mengubah cara kita memandang sesuatu. Ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, tetapi bisa membuat kita menjadi seseorang yang lebih berhati-hati terhadap hati orang lain.
Dan ada bagian-bagian dari diri kita yang tidak perlu diselesaikan agar bisa diterima.
Aku pernah mengira bertumbuh berarti meninggalkan banyak hal di belakang. Meninggalkan sifat-sifat yang tidak kusukai, kebiasaan yang membuatku kecewa, ketakutan yang pernah menghambatku, bahkan versi diriku yang menurutku terlalu sensitif, terlalu mudah marah, terlalu banyak berpikir, terlalu banyak bermimpi.
Seolah-olah untuk menjadi perempuan yang lebih baik, aku harus semakin jauh dari anak perempuan yang dulu.
Padahal, semakin aku melihat ke belakang, semakin aku sadar bahwa hidup tidak bekerja seperti itu.
Aku tidak bisa memilih hanya bagian-bagian diriku yang ingin kubawa.
Aku membawa anak kecil yang dulu mudah menangis. Aku membawa anak pertama yang terlalu cepat belajar memahami keadaan. Aku membawa seseorang yang pernah marah karena tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa ia terluka. Aku membawa perempuan yang pernah merasa tidak cukup cantik, tidak cukup baik, tidak cukup sehat, tidak cukup dewasa. Aku membawa mimpi-mimpi yang pernah terasa terlalu besar. Aku membawa kesalahan yang masih membuatku malu jika mengingatnya. Aku membawa orang-orang yang pernah kucintai, hal-hal yang pernah hilang, percakapan yang tidak sempat diselesaikan, dan begitu banyak hal yang mungkin tidak akan pernah mendapatkan akhir seperti yang kuharapkan.
Semuanya pernah menjadi bagian dari hidupku.
Dan aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan terus-menerus meminta maaf kepada diriku sendiri karena pernah menjadi seseorang yang belum tahu banyak hal.
Aku tetap bertanggung jawab atas apa yang pernah kulakukan. Aku tidak ingin menggunakan masa lalu sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan. Ada hal-hal yang memang seharusnya kuakui. Ada orang yang mungkin pernah terluka karena caraku bersikap. Ada keputusan yang seandainya bisa kuulang, mungkin akan kupilih dengan lebih hati-hati.
Tetapi menerima diri bukan berarti mengatakan bahwa semua yang pernah kulakukan sudah benar.
Mungkin kedewasaan justru terletak pada kemampuan untuk mengatakan, ini salahku, tanpa kemudian merasa bahwa seluruh diriku adalah kesalahan.
Aku bisa menyesal tanpa membenci diriku.
Aku bisa mengingat tanpa harus kembali tinggal di sana.
Aku bisa mencintai masa lalu tanpa ingin mengulanginya.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku mulai mengerti bahwa menerima hidup bukan berarti menyukai semua yang pernah terjadi di dalamnya. Ada hal-hal yang tetap tidak akan pernah kupilih jika diberi kesempatan kedua. Ada luka yang tidak perlu kuanggap indah hanya karena akhirnya aku tumbuh darinya.
Beberapa hal memang menyakitkan.
Beberapa hal memang tidak adil.
Beberapa hal hanya terjadi, lalu meninggalkan kita dengan pekerjaan sederhana yang kadang terasa sangat berat: melanjutkan hidup.
Dulu aku pikir ikhlas berarti tidak lagi merasa apa-apa.
Sekarang aku tahu, mungkin bukan begitu.
Ikhlas bisa saja berarti masih mengingat, tetapi tidak lagi ingin mengubah sesuatu yang memang sudah selesai. Masih bisa sedih, tetapi tidak membiarkan kesedihan menentukan seluruh hidup. Masih menyimpan pertanyaan, tetapi tidak memaksa semua pertanyaan memiliki jawaban.
Ada kedamaian tertentu dalam mengakui bahwa tidak semua hal akan kita mengerti.
Dan mungkin aku tidak perlu.
Aku hanya perlu cukup mengenal diriku untuk tahu apa yang ingin kubawa ke depan.
Aku ingin menjadi perempuan yang sehat, bukan karena aku takut terlihat gagal menjaga diri, tetapi karena aku ingin tubuh ini memiliki kesempatan untuk menikmati hidup bersamaku.
Aku ingin menjadi baik, tetapi bukan seseorang yang menghilang demi memenuhi kebutuhan semua orang.
Aku ingin berhasil, tetapi aku tidak ingin menjadikan keberhasilan sebagai satu-satunya bukti bahwa hidupku berharga.
Aku ingin mencintai dengan baik, tanpa kehilangan diriku sendiri di dalamnya.
Aku ingin memiliki kehidupan yang nyaman, tetapi aku juga ingin tetap bisa menikmati hal-hal kecil yang tidak menghasilkan apa-apa selain rasa senang.
Aku ingin menulis, bukan karena aku harus meninggalkan sesuatu yang besar, tetapi karena sejak kecil ada bagian dari diriku yang selalu merasa lebih utuh ketika kata-kata menemukan tempatnya.
Aku ingin tertawa lebih banyak.
Aku ingin tidur tanpa merasa bersalah.
Aku ingin memiliki hari-hari yang tidak istimewa.
Aku ingin sesekali berubah pikiran.
Aku ingin memiliki keberanian untuk berkata tidak ketika sesuatu tidak lagi sesuai denganku, dan keberanian yang sama untuk berkata iya ketika hidup menawarkan sesuatu yang belum pernah kucoba.
Aku ingin tumbuh, tetapi aku tidak ingin menjadikan pertumbuhan sebagai alasan untuk terus merasa kurang.
Barangkali itulah yang selama ini tidak kupahami tentang menjadi dewasa.
Dewasa bukan tentang akhirnya memiliki jawaban untuk semuanya.
Bukan tentang menjadi tenang setiap saat, tidak pernah salah, selalu tahu harus berkata apa, atau mampu menghadapi segala sesuatu tanpa gemetar.
Mungkin menjadi dewasa adalah ketika kita mulai tahu bahwa hidup akan tetap berubah meskipun kita belum siap, dan kita tidak harus menguasai semuanya untuk tetap menjalaninya.
Kita hanya perlu hadir.
Hari ini.
Dengan apa yang kita tahu.