Max memandangnya lagi. Entah kenapa, di hari yang tak lazim ini matanya seolah tidak bisa lepas dari perempuan yang sedang duduk manis di sampingnya. Semua yang ditatapnya masih sama, akan tetapi, penilaiannya kali ini sungguh berbeda dari sebelumnya.
“Apa lihat-lihat?” tanya Elena.
“Ga, ga apa-apa,” kata Max mengalihkan perhatian. Ia tidak menyangkal atau mengelak. Kali ini Max ingin perempuan itu tahu jika matanya memang tertuju padanya, karena Elena pantas mendapatkannya.
Semua berawal dari kejadian di sebuah toko handphone, saat seorang karyawan berniat ‘mengerjai’ mereka. Max bertanya berulang kali pada hantu bapak itu, dan tidak sekalipun ia memberikan jawaban yang berbeda. Memang terkadang hantu itu terlihat linglung, bahkan diam sejenak karena lupa, tapi ia selalu yakin saat mengatakan bila ia sudah membayarnya dengan lunas.
Sayangnya, di sisi ain Max tidak punya pilihan. Karyawan itu punya poin yang tidak bisa disangkal. Tanpa nota pembayaran, maka ia tidak punya bukti apapun untuk melawan. Saksi yang ada, juga tidak bisa membantu, maka satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah menebus handphone itu untuk yang kedua kalinya. Sial, bukan? Max bisa saja melakukan itu, membayar handphone itu kembali, namun hatinya tetap tidak terima.
“Maaf turut campur, tapi … di toko ini ada CCTV, bukan?” kata Elena saat Max sudah mulai putus asa. “ Maaf, ini bukan tentang handphone, kami sebagai keluarga hanya ingin tahu kenapa Bapak jatuh semalam. Ya sebagai bukti juga ke keluarga besar, jika Bapak meninggal karena sakit, bukan karena sebab lainnya.”
“Maaf, tapi Anda… siapa?” sahut pegawai toko tersebut. Tentu saja ia tidak mau ada orang asing yang turut campur dalam masalah ini. Semakin banyak orang terlibat semakin kecil usahanya untuk mendapat uang tambahan.
“Ah, saya pacarnya, calon menantu Bapak,” jawab Elena sambil menggandeng tangan Max. Jika Max bisa mengaku sebagai anak si Bapak, maka Elena pun bisa memilih peran apa saja yang ia inginkan.
Max terkejut, namun ia tidak akan pernah lupa, bagaimana wajah si hantu saat Elena mengatakan hal itu. Bibirnya menganga, seperti orang tidak percaya. Mungkin dia sedang menguji memorinya sendiri. Apa dia punya anak lelaki baru dan calon menantu? Tapi ya sudahlah, harap dimengerti, permainan otak harus dilawan dengan permainan otak yang lebih lihai pula.
Tidak punya pilihan, karyawan tersebut menunjukkan video CCTV toko mereka. Elena benar, tidak ada yang mau bertanggung jawab bila ternyata Bapak itu meninggal karena kesalahan dari toko mereka.
“Pukul delapan lebih lima puluh lima malam, sebelum toko ini tutup,” bisik Elena yang sepertinya lebih tertarik pada keterangan waktu yang ada di sana.
“Jadi … bagaimana Mbak Mas? Masih mau handphonenya?” tanya karyawan itu tidak sabar.
“Tentu,” jawab Elena sambil menggangguk.
“Cash atau kredit?”
“Free,” sahut perempuan itu sambil tersenyum percaya diri.
Dan apa yang terjadi setelah itu benar-benar luar biasa. Elena menunjukkan kemampuannya, dan Max hanya bisa termenung dan menatapnya dengan rasa kagum luar biasa.
“Jadi, bapak jatuh di depan kasir pukul delapan lebih lima puluh lima, toko tutup pukul sembilan, dan beliau belum sempat membayar, betul?”
“Tepat!’ jawab si karyawan toko. “Di rekaman CCTV ini kakak juga bisa lihat, bahkan bapak itu sudah jatuh sebelum menerima handphonenya. Jika sudah membayar, kami sudah pasti akan memberikannya.”
“Baiklah. Satupertanyaan lagi, karena bapak jatuh dan terjadi keributan, maka sudah pasti tidak ada transaksi lain, bukan?”
“Ya, benar.”
“Kalau begitu, bisakah Anda menunjukkan, data semua transaksi di toko ini?”
“Data transaksi?”
“Yup, data transaksi hari kemarin. Pasti ada dong, data dari komputer perusahaan. Tidak perlu semuanya, cukup satu transaksi saja. Transaksi terakhir yang terjadi pada pukul delapan lebih lima puluh lima..“