Their Last Wish

Bebekz Hijau
Chapter #8

Bab 8. Alex

Max duduk di bangku taman, diam menunggu, lusuh seperti seorang gelandangan. Di bawah terang cahaya bulan, ia terdiam layaknya mainan rusak. Lelah, hari yang sungguh melelahkan.

“Hai, bagaimana kabarmu, Nak?” tanya sopir taxi tua itu, sebelum merebahkan dirinya di sebelah Max. Ia baru saja datang, namun sama seperti Max, wajahnya juga tampak letih, penampilannya pun sudah tidak serapi tadi pagi. Pemandangan umum untuk orang-orang yang telah bekerja keras seharian. 

Setelah kejadian tadi sore, hanya pak tua itu yang ingin ditemui Max malam ini. Setelah semua urusan dengan hantu itu selesai, ia segera menghubungi dan menemuinya di sebuah taman.

“Hei, di mana hantu itu? Dia tidak mengikutimu lagi?” Matanya yang renta mulai melirik ke kanan kiri, mencari sosok yang sudah tidak kelihatan di mana-mana.

“Dia sudah pulang,” jawab Max. “Setelah berpamitan dengan keluarganya, dia menatapku, melambaikan tangan, dan … poof, dia menghilang, dan aku tidak bisa melihatnya lagi.”

“Ah, portal, akhirnya dia melewatinya juga, pilihan bijak,” kata Pak tua sambil menganggukan kepala. “Lalu … bagaimana denganmu?”

“Denganku? Memangnya apa yang terjadi denganku?” tanya Max.

“Untuk seseorang yang baru menyelesaikan misinya, kamu tidak terlihat bahagia.”

“Hmmm,” gumam Max malas. Mukanya pasti benar-benar mengenaskan hingga seorang bapak tua saja bisa berpikir demikian. “Setidaknya sudah tidak ada hantu cerewet yang mengikutiku lagi,” lanjutnya pasrah.

“Sialnya, akan semakin banyak hantu cerewet lain yang akan mengikutimu di hari-hari berikutnya.

Max terdiam sebentar. Ucapan pak tua itu membuat pikirannya melayang pada kemungkinan-kemungkinan liar yang hanya terjadi dalam imajinasinya saja. Bagaimana jika nanti dia ketemu dengan hantu yang lebih parah? Mungkin tidak cerewet, tapi pemarah? Sejauh ini ia memang belum punya pengalaman demikian, tapi bukan berarti suatu saat nanti tidak akan kejadian.  

“Apa aku harus melakukannya?” tanya Max. Wajahnya serius, matanya membulat menatap wajah tua itu lekat-lekat. “Jujur, aku masih tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan ‘keahlian’ ini. Dan jika sekarang aku memilih untuk melanjutkan hidup, mengacuhkan mereka, menganggap bila mereka tidak pernah ada, apa … aku akan dihukum?”

Kini kedua pria itu saling menatap. Keduanya sama-sama mencari reaksi apa yang keluar dari raut wajah lawan bicaranya. Hingga akhirnya pak tua itu menyerah terlebih dulu. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu memberikan jawaban. Bukan tipuan, bukan akal bulus untuk membujuk Max melakukan apa yang ia inginkan, namun jawaban jujur datang dari hatinya. 

“Nak, aku tidak tahu jawaban atas pertanyaanmu. Aku bukan Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan Dia lakukan padamu ataupun pada dunia ini. Tapi rasanya, Dia tidak seperti itu. Setahuku gelar-Nya Maha Pengasih, bukan maha menghukum. Kurasa Tuhan menghargai kehendak bebas, jadi … pilihan tetap ada di tanganmu. Mau bantu atau tidak, semua keputusanmu.”

“Wow, tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari mulut Bapak,” jawab Max yang sedikit terkejut dengan jawaban yang baru saja didengarnya. “Kukira aku akan mendengar nasihat panjang, khotbah, retorika,  ideologi tertentu untuk meyakinkanku agar berubah pikiran.”

“Hidupmu milikmu, kenapa juga harus mendengar perkataan orang tua sepertiku?”

“Hmmm,” gumam Max seraya menganggukan kepala. “Tapi sebelum aku memutuskan, bolehkah aku tahu alasannya? Kenapa Bapak membantu hantu-hantu itu? Pekerjaan ini tidak ada untungnya.  Aku tidak akan kaya, bahkan hampir saja keluar uang untuk kepentingan hantu itu. Konyol, bukan? Mengurusi hantu-hantu itu benar-benar menghabiskan waktu dan juga tenaga.”

“Tidak ada untungnya? Nak, tidak semua hal di dunia ini harus dihitung dengan uang. Bagiku, ini lebih kepuasan hati. Tidakkah hatimu merasa lebih damai? Terutama saat berhasil membantu seseorang?”

Lihat selengkapnya