Their Last Wish

Bebekz Hijau
Chapter #9

Bab 9. Konglomerat Grup Tekhwa

“Tut, tut, tut ….”

“Ngggg …, apa lagi ini?” Max menggeliat, perlahan mengelap mulutnya, membersihkan setiap tetes liur yang keluar saat dirinya terlelap. Kemarin energinya terkuras habis, tidakkah nasib seharusnya berbaik hati sedikit dan memberinya waktu istirahat? 

“Tut, tut ….” 

Bah! Tidak bisakah benda sialan itu diam? 

Hampir saja Max melempar telepon genggamnya sendiri karena kesal. Jika otak nya tidak ingat berapa harga benda tersebut, sudah pasti handphonenya berakhir di tempat sampah.

“Sialan, sialan, sialan!” bisik Max geram. Ia segera mengambil telepon genggam yang ada di atas nakas, lalu ditatapnya layar kecil itu. Matanya menyipit, siap membaca nama manusia kurang ajar yang berani menyadarkannya dari pulau mimpi. Setelah mengalami kejadian-kejadian aneh, dan menjalani hari-hari melelahkan, tsemua juga setuju bila pria malang itu berhak untuk tidur lebih lama? Oh, ayolah!

“Bangke, nomor tidak dikenal! Siapa lagi ini?” umpat Max saat ia menjumpai jika sambungan telepon yang menghubunginya tidak memiliki nama, melainkan hanya deretan angka-angka asing.

“Halo!” jawabnya kesal.  

“Selamat pagi, apa benar ini nomor Pak Maximus?”

Ah, sedikit lega. Setidaknya bukan telepon salah sambung, tapi … awas saja jika panggilan itu datang dari sales manapun yang menawarkan jasa tak dibutuhkan! Zaman sekarang, team marketing kartu kredit, investasi, pinjol bahkan sampai penipu sekalipun, semua agresif dalam mencari mangsa.  

“Ya, benar! Ini siapa?” jawab Max dengan sedikit hentakkan dalam nada suaranya.

“Kenalkan, saya Ria, asisten Pak George Mahesa.”

“G-George Mahesa?” tanya Max perlahan. Ingatannya lemah terutama ketika setengah jiwanya belum kembali dari alam mimpi.

“Benar, George Mahesa, ehm, CEO grup Tekhwa. Sesuai dengan jadwal yang telah disepakati sebelumnya, pagi ini, Pak George meminta saya untuk menjemput Bapak. Apa Bapak sudah siap?”

Oh, SHIT!   

Max segera membuka gorden kamarnya. Cahaya matahari terik langsung menyinari kegelapan, namun yang paling menyita perhatian, sudah pasti mobil hitam yang terparkir tepat di depan kontrakannya.  

“Ah, maaf. Saya … saya ….” 

Lupa. Untung saja Max masih bisa menahan bibirnya untuk mengatakan kata itu. Sangat tidak profesional, dan tidak pantas bila pekerja sepertinya lupa pada jadwalnya sendiri. Apalagi clientnya kali ini adalah konglomerat ternama.

“M-maaf,  mohon kesediaannya untuk menunggu sebentar,” lanjut Max terbata-bata.

Max menunggu sebuah jawaban, namun bukan kata-kata yang ia dapatkan melainkan hanya desahan penuh rasa kecewa.

“Baiklah Pak Max, saya akan menunggu., tapi  mohon cepat sedikit, seperti yang kita tahu, waktu Pak George sangat terbatas.”

“Terima kasih banyak atas pengertiannya.”

Max segera menutup teleponnya, dan lompat ke kamar mandi seperti orang gila. Ia segera membasuh wajahnya, menyikat gigi, mengganti pakaian, mengambil semua barangnya, lalu dengan kecepatan kilat, ia segera keluar dari dalam kontrakan. 

Lihat selengkapnya