“Wah, wah, tak kusangka, masih ada yang mencari pria tua sepertiku, apalagi di malam sunyi yang dingin seperti ini.”
Kaki renta itu bergerak perlahan mendekat, lalu tubuhnya kembali rebah tepat di samping Max. Peristiwa yang tidak berbeda, persis seperti yang terjadi kemarin malam.
“Jujur, hidungku nyaris terbang ke surga saat menerima teleponmu. Rasanya sudah lama tidak merasa dibutuhkan,” kata pria tua itu dengan senyum mengembang sempurna di wajahnya.
Manusia renta itu boleh berbangga diri, namun tidak dengan Max. Hatinya mendadak dongkol, apalagi saat melihat tarikan bibir di pipi seorang pria tua. Senyuman yang benar-benar tulus, namun juga terasa sebagai sindiran keras, menyebalkan.
“Ada urusan apa, hingga kamu menghubungiku kembali, Nak? Hantu? Tidak mungkin, kan? Seingatku, baru kemarin kamu bilang, jika kamu tidak ingin berurusan dengan mereka lagi.”
“Um .. um,” bibir Max kaku. Ingin sekali ia menceritakan semua yang dilalui hari ini, sayangnya ia tidak berniat menurunkan gengsinya yang sudah terjun ke lantai paling dasar.
“A-da yang ingin kutanyakan dan … um, … ya Bapak tahu kan? Apalagi kalau bukan masalah mereka, hantu, ya … arwah orang-orang mati itulah.”
Mendengar ucapan Max, manusia tua itu tak sanggup membendung tawanya lagi. Terdengar sangat renyah dan lepas tanpa beban.
“Hahahaha …. Nak, Nak, apa yang terjadi? Kamu dikejar-kejar hantu lagi hari ini? Jujur, aku sudah mengira bila suatu hari kamu akan menemuiku dan bertanya tentang mereka, namun … satu hal yang tidak kusangka … secepat ini? Hahaha,” tawanya semakin keras, membuat hati Max menjadi lebih kesal.
“Ya, ya, tertawalah terus Pak Tua, sampai puas,” hati Max menggerutu.
Max pasrah. Ia tahu, perkataannya memang konyol dan pantas untuk ditertawakan.
“Baik, baik, jadi …. apa yang ingin kamu tanyakan?” lanjut supir tua itu sambil mencoba menahan getaran menggelitik yang sudah merambat sampai ke perut.
“Ah, jadi begini. Aku punya client, dia seorang ….”
Mulut Max kembali terhenti. Pikirannya memberikan peringatan keras tentang surat kontrak yang ditandatanganinya tadi pagi. Ingat! Tidak ada yang boleh tahu tentang permasalahan seorang George Mahesa dan keluarganya, atau mereka tak segan untuk membuat Max menjadi dendeng rebus.
“Ehm, j-jadi begini t-temanku, ehm, ya, salah seorang temanku, baru saja punya anak. Anaknya sering menangis dan … menurut temanku, bayinya … ehm, sering diganggu oleh makhluk halus.”
“Hmmm, diganggu?” tanya pak tua itu menyangsikan.
“Ya. Bayinya sering menatap ke salah satu sudut ruang, seperti memperhatikan sesuatu, padahal tidak ada apa-apa di sana.”
“Hmmm, kurasa itu bukan hal yang aneh. Penglihatan anak-anak terutama bayi memang lebih sensitif dari manusia dewasa. Sejauh pengalamanku, mereka memang bisa melihat dan merasakan kehadiran arwah-arwah itu. Tak jarang mereka tiba-tiba menangis, atau tertawa, bahkan seperti ceritamu, seolah menatap lama ke satu sudut tertentu. Mereka memang peka, tetapi bukan berarti itu diganggu,” jawab Pak Tua yakin.
Ah, jadi mitos tentang bayi yang dipercaya Pak George itu benar.
“Kenapa Bapak bisa begitu yakin, bila arwah-arwah itu tidak mengganggu anak-anak?”
“Sejauh pengalamanku memang begitulah keadaannya. Tak dipungkiri, kadang ada juga arwah-arwah jahil yang suka bermain atau menggoda anak dan bayi, tapi, menurutku itu tidak bisa disebut sebagai gangguan.”
“Ah, entahlah,” jawab Max pasrah. “Semoga saja apa yang Bapak katakan benar, karena menurutku itu tetap mengganggu. Apalagi jika kejahilan mereka membahayakan jiwa.”
“Membahayakan jiwa?”
“Ya! Seperti menumpahkan air panas, menggerakkan mainan hingga tiba-tiba jatuh dan bunyi sendiri. Menurutku itu sudah keterlaluan.”
“T-tunggu, apa hantunya bisa menggerakkan benda?”
“Menurut temanku, demikian. Aku tidak tahu apa itu kelalaian pegawainya, atau masalah lain, intrik yang tidak kupahami. Mungkin , itulah alasannya aku menemui bapak malam ini. Aku ingin bertanya, apakah arwah-arwah itu bisa menggerakkan benda, dan melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa?” tanya Max sungguh-sungguh.
“Tidak,” jawab pak tua itu tegas. “Selama ini, aku tidak menjumpai ada hantu yang begitu bodoh untuk melakukan hal semacam itu, kecuali ….”
Max menatap wajah tua itu lekat-lekat. Ditunggunya sebuah jawaban pasti atas pertanyaannya, namun pak tua itu hanya diam dan bengong, lalu menggelengkan kepala seperti menanggung beban penyesalan.
“Kecuali?” tanya Max sekali lagi.
“Kecuali … dia punya tujuan tertentu. Oh sial!”
“Hei Pak Tua, aku tidak mengerti. Tolong jawab pertanyaanku dengan jelas, tujuan apa? Sial kenapa?” lanjut Max.
”Nak, masih ingatkah kamu tentang apa yang kukatakan kemarin? Tentang hantu-hantu itu, permintaan terakhir mereka, dan energi mereka yang semakin lama semakin habis bila tidak segera masuk ke dalam portal?”
“Hmmm, tentu,” jawab Max.
“Untuk memindahkan benda atau turut campur secara fisik dengan dunia orang hidup, mereka membutuhkan energi yang sangat besar. Jarang ada hantu yang rela mengorbankan energi keberadaannya yang terbatas hanya untuk keisengan semata, kecuali mereka punya alasan yang jelas. Tujuan tertentu, yang begitu penting untuk diperjuangkan. Masalahnya, kadang tujuannya baik, tapi jika ia menggunakannya untuk mencelakai seseorang, maka sudah pasti ....”