Pagi telah tiba.
Cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar Zion. Perlahan, Zion membuka matanya dan menatap langit-langit kamar.
Beberapa detik kemudian, ingatannya tentang kejadian kemarin kembali muncul.
Makhluk transcendent.
Sistem yang berubah menjadi emas.
Skill Two Body.
Dan level 15.
"Jadi semua itu benar-benar terjadi..."
Zion duduk di atas tempat tidurnya.
Ia menatap kedua tangannya.
Dunia di sekitarnya masih terlihat normal. Tidak ada sistem yang muncul di hadapannya. Tidak ada monster yang berkeliaran di jalan. Tidak ada dungeon.
Therion masih hanya sebuah game VR.
Zion menghela napas.
"Untungnya dunia nyata belum berubah."
Ia mengetahui bahwa sekitar satu tahun lagi Therion akan menjadi kenyataan.
Karena itu, ia harus memanfaatkan waktu yang dimilikinya sebaik mungkin.
Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
"Two Body..."
Zion masih belum mengetahui bagaimana sebenarnya skill tersebut bekerja.
"Aku mendapatkan skill ini dari makhluk transcendent. Bahkan di kehidupan sebelumnya aku tidak pernah mendengar tentang skill seperti ini."
Zion turun dari tempat tidur.
"Lebih baik aku mencobanya langsung."
Setelah sarapan bersama ibunya, Zion kembali ke kamar.
Ia mengambil VR dan berbaring di tempat tidur.
"Login."
[Selamat datang di Therion.]
Pandangan Zion berubah menjadi gelap.
Beberapa saat kemudian, ia kembali berada di desa pemula.
Zion langsung membuka statusnya.
[Status]
Nama: Zion
Level: 15
Class: Sword Master
Strength: 25
Agility: 25
Endurance: 25
Vitality: 25
Skill:
Lightning Eye
Two Body
Zion menatap tulisan Two Body cukup lama.
"Baiklah..."
Ia menarik napas.
"Two Body."
Tidak terjadi apa-apa.
Zion mengerutkan kening.
"Hah?"
Ia mencoba lagi.
"Two Body!"
Kali ini cahaya emas muncul di sampingnya.
Cahaya itu perlahan membentuk tubuh manusia.
Zion mundur beberapa langkah.
"Apa?"
Dalam beberapa detik, tubuh kedua telah berdiri di hadapannya.
Wajahnya sama dengan Zion.
Pakaian dan bentuk tubuhnya juga hampir sama.
Zion hanya bisa menatapnya.
"Ini..."
Tubuh kedua perlahan membuka matanya.
Zion semakin bingung.
"Apakah kau bisa mendengarku?"
Tubuh kedua menatap Zion.
"Tentu saja."
Zion terdiam.
"Jawabanmu..."
"Ada apa?"
"Kau benar-benar bisa berbicara."
Tubuh kedua melihat sekeliling.
"Sepertinya begitu."
Zion berjalan mengelilinginya.
"Apakah kau memiliki kesadaran sendiri?"
Tubuh kedua mengangguk.
"Aku rasa iya."
Zion mengerutkan kening.
"Tunggu."
Ia semakin penasaran.
"Kalau kau memiliki kesadaran sendiri, apakah kau juga memiliki ingatanku?"
Tubuh kedua terdiam sebentar.
"Aku tahu semua yang kau ketahui."
Zion terkejut.
"Termasuk kehidupan sebelumnya?"
"Ya."
Zion semakin bingung.