Laki-laki itu datang membawa bunga untuk seseorang yang sudah meninggal, lalu bertanya apakah aku masih punya rencana untuk jatuh cinta.
Aku hampir menumpahkan kopi di tangan sendiri.
"Maaf?"
Dia berdiri di depan meja dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengatakan sesuatu seaneh itu.
"Katanya kamu sedang mencari pacar."
Aku menatapnya beberapa detik sebelum melirik ke sekeliling kafe. Tidak ada orang yang terlihat sedang bercanda denganku.
"Kalau kamu sedang mencari bahan lelucon, sebaiknya cari meja lain."
Laki-laki itu tidak tersinggung. Dia justru menarik kursi di hadapanku dan meletakkan sebuah amplop berwarna krem di atas meja.
"Namamu Nara, kan?"
Senyumku menghilang.
Aku belum pernah bertemu dengannya. Setidaknya, aku yakin begitu.
"Siapa yang menyuruhmu datang?"
Dia tidak langsung menjawab. Matanya sempat tertuju pada gelang kecil yang melingkar di pergelangan tanganku, sebelum akhirnya kembali menatap wajahku.
"Perempuan yang meninggalkan banyak urusan sebelum pergi."
Jantungku terasa sedikit lebih berat.
Hanya ada satu perempuan yang mungkin dia maksud.
Kakakku.
Tiga minggu lalu, aku masih mengira hal terburuk yang bisa terjadi dalam hidup adalah kehilangan seseorang yang paling dekat denganku.
Ternyata, aku salah.
Kehilangan seseorang rupanya tidak selalu selesai ketika pemakamannya selesai. Ada barang-barang yang harus dibereskan, nomor telepon yang masih tersimpan, pakaian yang belum sempat dicuci, dan kebiasaan bodoh membuka percakapan lama hanya untuk membaca pesan yang tidak akan pernah dibalas.
Namanya Nadine.
Kakakku satu-satunya.
Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil pada malam hujan. Tidak ada perpisahan yang panjang, tidak ada percakapan terakhir yang istimewa. Pesan terakhir darinya hanya berisi permintaan agar aku membeli roti ketika pulang.
Sampai sekarang, roti itu masih ada di dalam freezer.
Aku belum sanggup membuangnya.
Pagi itu, seorang kurir datang membawa kotak kecil yang dialamatkan kepadaku. Tidak ada nama pengirim, hanya tulisan tangan yang langsung kukenali bahkan sebelum membuka bungkusnya.
Tulisan Nadine.
Di dalam kotak terdapat tiga puluh amplop kecil yang disusun rapi, sebuah kunci, dan sepucuk surat dengan namaku di bagian depan.
Aku membacanya sambil duduk di lantai ruang tamu.
Untuk Nara.
Kalau kamu sudah menerima kotak ini, berarti aku tidak bisa lagi mengganggumu setiap pagi dengan pertanyaan yang sama.
Sudah makan? Sudah tidur? Kenapa wajahmu seperti orang yang baru kehilangan seluruh dunia?
Aku tertawa kecil membaca bagian itu. Namun, tawaku berhenti ketika sampai pada paragraf berikutnya.
Aku tahu kamu akan kembali mengurung diri setelah aku pergi. Kamu akan bilang baik-baik saja, menolak ajakan teman, dan menghabiskan malam dengan menonton sesuatu yang bahkan tidak kamu sukai.
Jadi, kali ini dengarkan aku.
Selama tiga puluh hari, aku ingin kamu punya seseorang di sisimu.
Bukan teman. Bukan rekan kerja. Seseorang yang boleh kamu kenalkan sebagai kekasihmu.
Tidak perlu benar-benar mencintainya. Tidak perlu menikah dengannya. Cukup jalani tiga puluh hari tanpa terus-menerus merasa bahwa hidupmu sudah berhenti.
Aku mengusap wajah.
Nadine memang selalu punya cara aneh untuk mengatur hidup orang lain, bahkan setelah meninggal.
Di bagian paling bawah surat, terdapat tiga aturan yang ditulis menggunakan tinta merah.
Jangan cemburu.
Jangan jatuh cinta.
Jangan meminta lebih dari tiga puluh hari.
Aku membalik kertas itu, berharap menemukan penjelasan tambahan. Tidak ada.
Hanya sebuah nama dan nomor telepon.
Sagara.
Aku tidak mengenal siapa pun dengan nama itu.
Selama dua hari, aku berusaha mengabaikan surat tersebut. Aku bahkan sempat memasukkan semua amplop ke dalam laci, berniat melupakan permintaan terakhir kakakku.
Namun, ada satu hal yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Di bagian belakang setiap amplop terdapat angka yang berbeda, mulai dari satu sampai tiga puluh. Seolah-olah Nadine sudah menyiapkan sesuatu untuk setiap hari yang harus kulewati.
Aku akhirnya menghubungi nomor yang tertulis di surat.
Pesanku sederhana.