Thirty Days to Love Me

Bear Winter
Chapter #2

Orang yang Seharusnya Tidak Ada

Pukul enam pagi, seseorang mengetuk pintu apartemenku sebanyak tiga kali, lalu menyebut nama yang membuatku hampir menjatuhkan ponsel.

"Nara, buka pintunya. Ini Sagara."

Aku berdiri mematung di depan sofa. Pesan dari nomor asing semalam masih terpampang di layar ponselku. Jangan tanya Sagara siapa yang sebenarnya meninggal dalam kecelakaan malam itu.

Bagaimana mungkin seseorang yang baru saja kupermasalahkan dalam pikiranku sekarang berdiri di balik pintu?

Aku mengintip melalui lubang kecil. Benar, dia. Kemeja hitam, rambut sedikit berantakan, dan sebuah kantong kertas di tangannya.

Aku membuka pintu hanya selebar rantai pengaman.

"Kenapa datang pagi-pagi?"

"Karena kamu belum menjawab pesanku."

"Aku tidak menerima pesan darimu."

Sagara mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layar percakapan kami. Ada pesan terkirim pukul lima lewat empat puluh menit.

Aku perlu bicara tentang foto itu. Aku datang sekarang.

Aku mengerutkan kening.

"Aku tidak membalas apa pun."

"Aku tahu. Makanya aku datang."

Mataku menyipit. "Kamu selalu datang tanpa diminta?"

"Kalau urusannya penting, iya."

Aku akhirnya melepas rantai pengaman. Namun, sebelum mempersilakannya masuk, aku mengangkat ponsel dan menunjukkan pesan yang kuterima semalam.

Wajahnya berubah.

Tidak banyak, hanya rahangnya yang sedikit mengeras dan tatapannya yang mendadak sulit ditebak.

"Siapa yang mengirim ini?" tanyanya.

"Harusnya aku yang bertanya."

Sagara membaca pesan itu sampai selesai. Dia tidak terlihat terkejut pada bagian tentang kecelakaan, tetapi justru berhenti cukup lama pada kalimat yang menyebut amplop kedua.

"Kamu sudah membukanya?"

"Belum. Katanya jangan dibuka sebelum kamu datang."

Dia mengembalikan ponselku.

"Bagus."

Aku menatapnya tidak percaya. "Bagus? Kamu tidak merasa ada yang aneh dengan semua ini?"

"Aku merasa ada banyak hal yang aneh."

"Lalu kenapa kamu tenang sekali?"

Sagara meletakkan kantong kertas di meja. Isinya dua roti dan segelas kopi.

"Karena panik tidak akan membuat kita mendapatkan jawaban."

Aku hampir tertawa mendengar kalimat itu. Nadine juga sering mengatakan hal serupa setiap kali aku menghadapi masalah.

Dan entah kenapa, mendengar orang lain mengucapkannya membuat dadaku terasa sesak.


---


Sagara duduk di sofa, sementara aku mengambil kotak peninggalan kakakku dari lemari.

"Ini," kataku sambil meletakkan tiga puluh amplop di atas meja.

Dia memperhatikan susunannya, kemudian mengambil amplop pertama.

"Kamu sudah membaca semuanya?"

"Tidak. Baru surat yang ada di dalam kotak."

"Bagaimana dengan kuncinya?"

Aku terdiam.

Kunci kecil yang ikut dikirim bersama amplop masih kusimpan di laci meja. Aku bahkan belum tahu kunci itu untuk apa.

Aku mengambilnya dan meletakkannya di hadapan Sagara.

Dia langsung mengenalinya.

"Jadi, kamu tahu kunci ini?"

"Ya."

"Untuk apa?"

Sagara mengusap bagian kepala kunci dengan ibu jarinya.

"Untuk membuka loker."

"Loker di mana?"

"Stasiun."

Aku memandangnya lekat-lekat. "Kenapa kakakku menyimpan sesuatu di stasiun?"

"Itu yang harus kita cari tahu."

Aku mengambil kunci tersebut kembali. "Tunggu. Kenapa harus kita? Bukankah kamu hanya diminta menjadi pacar palsuku selama tiga puluh hari?"

"Karena aku juga punya urusan yang belum selesai dengan Nadine."

Lihat selengkapnya