"Jangan bergerak."
Suara Sagara membuatku tersentak tepat ketika aku hendak mengejar perempuan yang baru saja menelepon.
Aku menoleh dengan napas tidak beraturan. "Kamu dengar, kan? Itu suara Nadine!"
"Aku dengar."
"Kalau begitu, kenapa kamu diam saja?"
Sagara mengambil ponsel dari tanganku, memeriksa nomor yang tertera di layar, lalu mencoba meneleponnya kembali. Hasilnya nihil. Nomor tersebut tidak dapat dihubungi.
"Berikan ponselku."
Dia menyerahkannya tanpa membantah.
"Aku mau mencari tahu siapa yang menelepon."
"Nara, tunggu."
"Apa lagi?"
Sagara menunjuk layar ponselku. Ada satu pesan masuk dari nomor yang sama.
Kalau kamu masih ingin tahu siapa yang mengemudikan mobil malam itu, datanglah sendirian besok pukul tujuh malam. Jangan bawa Sagara.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
"Dia tahu tentang kecelakaan itu," gumamku.
"Siapa pun yang mengirimnya memang tahu."
Aku mengangkat wajah. "Kamu tidak penasaran?"
"Aku lebih penasaran kenapa orang itu tidak mau bertemu langsung denganmu."
Jawaban itu membuatku terdiam. Sagara benar. Kalau memang perempuan tadi adalah Nadine, kenapa dia hanya berani menelepon dan mengirim pesan?
Namun, ada satu hal yang jauh lebih menggangguku.
Suara itu.
Aku mengenal suara kakakku lebih baik daripada siapa pun. Cara dia menarik napas sebelum berbicara, nada sedikit seraknya ketika sedang lelah, bahkan kebiasaannya mengucapkan namaku dengan tekanan di suku kata terakhir.
Itu suara Nadine.
Aku tidak mungkin salah.
---
Kami meninggalkan stasiun tanpa banyak bicara. Kotak sepatu, buku catatan, dan foto kecelakaan tadi kubawa pulang. Sagara sempat menawarkan untuk menyimpannya, tetapi aku menolak.
"Mulai sekarang, semua barang Nadine ada di tanganku."
Dia mengangguk.
Di dalam mobil, aku terus memperhatikan foto yang memperlihatkan dua perempuan di dalam mobil. Semakin lama melihatnya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
"Siapa yang mengemudikan mobil itu?" tanyaku.
Sagara tetap memperhatikan jalan.
"Aku tidak tahu."
"Kamu ada di foto bersama Nadine dua tahun lalu. Kamu tahu tentang kecelakaan itu. Kamu tahu soal surat-surat ini. Jangan bilang kamu tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu beberapa hal."
"Kalau begitu, ceritakan."
Dia menghela napas.
"Malam itu, aku tidak berada di dalam mobil."
Aku menoleh.
"Lalu?"
"Aku menerima telepon dari Nadine sekitar pukul sepuluh malam. Dia bilang sedang dalam perjalanan pulang."
"Sendirian?"
Sagara terdiam sebentar.
"Dia tidak bilang."
Aku kembali menatap foto.
"Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku setelah dia meninggal?"
Pertanyaan itu membuat suasana mobil semakin sunyi.
"Karena Nadine meminta aku tidak melakukannya."
Aku tertawa kecil tanpa humor.
"Hebat. Semua orang sepertinya punya rahasia dengan kakakku, kecuali aku."
Sagara tidak membalas.
Beberapa menit kemudian, dia menghentikan mobil di depan sebuah minimarket.
"Kamu belum makan sejak pagi."
"Aku tidak lapar."
"Setidaknya minum sesuatu."
"Aku bukan anak kecil."
"Aku tahu."
Dia turun tanpa menunggu jawabanku.
Aku memperhatikannya dari balik kaca. Ada sesuatu yang aneh dari laki-laki itu. Dia bisa terlihat begitu dingin ketika membicarakan kecelakaan, tetapi masih sempat mengingat bahwa aku belum makan.
Saat kembali, dia meletakkan roti dan susu di pangkuanku.