Thirty Days to Love Me

Bear Winter
Chapter #4

Anak yang Dibawa Pulang

Perempuan itu menyodorkan sebuah foto sebelum aku sempat bertanya siapa dirinya. Tanganku gemetar saat melihat gambar seorang bayi yang sama dengan bayi dalam foto peninggalan Nadine. Bedanya, kali ini wajah perempuan yang menggendongnya terlihat jelas.

“Aku ibu kandungnya,” katanya.

Aku menatap wajah di foto itu, lalu beralih kepadanya. Ada sesuatu yang terasa akrab dari mata perempuan tersebut, tetapi aku tidak tahu dari mana.

“Anak siapa?”

Perempuan itu menghela napas pendek. “Anak yang kalian bawa pulang setelah kecelakaan itu.”

Aku mundur selangkah. “Aku tidak pernah punya anak.”

“Justru itu masalahnya, Nara.”

Suaranya terdengar tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja datang mengetuk pintu orang asing dan mengaku sebagai ibu dari anak yang bahkan tidak kukenal.

Aku hampir menutup pintu ketika ia mengangkat pergelangan tangannya. Gelang tipis dengan liontin kecil berbentuk bulan tergantung di sana. Gelang yang sama seperti milikku.

Refleks, aku menyentuh pergelangan tangan sendiri. Gelang itu masih terpasang sejak bertahun-tahun lalu. Nadine pernah memberikannya saat ulang tahunku, tetapi aku tidak pernah tahu dari mana ia mendapatkannya.

“Siapa kamu sebenarnya?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Matanya justru bergerak melewati bahuku, mengamati ruang apartemen seolah sedang memastikan tidak ada orang lain di dalam.

“Boleh aku masuk?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, dengarkan saja. Jangan biarkan Sagara membawa foto itu.”

Aku langsung teringat foto bayi di dalam amplop kedua. Perempuan itu tahu sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.

“Bagaimana kamu tahu soal foto itu?”

“Karena aku yang mengambilnya.”

Belum sempat aku bertanya lebih jauh, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sagara.

Jangan buka pintu untuk siapa pun. Aku sedang menuju ke sana.

Aku menatap layar cukup lama. Pesan itu datang tepat ketika perempuan di hadapanku meminta masuk. Seolah Sagara sudah tahu siapa yang sedang berdiri di depan pintu.

“Dia akan datang?” tanya perempuan itu.

Aku mengangkat wajah. “Kamu mengenalnya?”

Perempuan itu tertawa kecil, tetapi tidak ada sedikit pun kegembiraan di sana.

“Semua orang dalam cerita ini mengenal Sagara, Nara. Hanya kamu yang dibuat percaya bahwa dia orang asing.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Kalau memang kamu tahu semuanya, katakan siapa nama anak itu.”

Perempuan itu menatapku lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ketenangannya retak.

“Namanya belum pernah kamu dengar. Tapi kamu pernah menggendongnya.”

Aku ingin membantah, tetapi lidahku terasa kelu.

Ia kemudian menyelipkan sebuah kertas kecil melalui celah pintu. Di atasnya tertulis alamat sebuah rumah sakit dan tanggal yang sama dengan tanggal kecelakaan Nadine.

“Datanglah sendiri. Jangan ajak Sagara.”

“Kenapa aku harus percaya padamu?”

“Karena kalau kamu terus percaya pada cerita yang mereka berikan, kamu tidak akan pernah tahu siapa yang sebenarnya pulang dari rumah sakit malam itu.”

Perempuan itu berbalik sebelum aku sempat menahannya. Aku membuka pintu lebih lebar, tetapi lorong sudah kosong. Hanya suara lift yang bergerak turun terdengar dari kejauhan.

Aku segera mengambil ponsel dan menelepon Sagara.

“Siapa perempuan yang baru saja datang?”

“Aku belum tahu siapa yang kamu maksud.”

“Dia tahu tentang foto bayi. Dia juga tahu soal gelang ini.”

Di seberang sana, Sagara terdiam.

“Jangan pergi ke alamat yang dia berikan.”

“Kamu bahkan belum tahu alamatnya.”

Lihat selengkapnya