Thirty Days to Love Me

Bear Winter
Chapter #5

Anak yang Mengingatku

Anak kecil dalam foto itu berdiri di depan rumah yang kukenal. Rumah bercat putih dengan pagar hijau, tempat aku dan Nadine menghabiskan sebagian masa kecil sebelum akhirnya pindah ke apartemen bersama ibu.

Aku memperbesar gambar tersebut. Di balik pagar, ada sebuah boneka kelinci tergantung pada pegangan pintu. Boneka yang sama pernah kuberikan kepada Nadine ketika ulang tahunnya.

Aku langsung menelepon nomor tak dikenal itu.

“Siapa kamu? Di mana anak itu sekarang?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Kemudian terdengar suara perempuan.

“Jangan bawa Sagara.”

“Jawab pertanyaanku!”

“Kalau kamu ingin bertemu anak itu, datanglah ke rumah yang ada di foto. Sendiri.”

Sambungan terputus.

Aku menoleh kepada Sagara. Ia masih berdiri di samping meja arsip, memperhatikan layar ponselku.

“Kamu tahu rumah itu?” tanyaku.

Ia mengangguk.

“Rumah lama keluarga Nadine.”

“Kenapa ada anak di sana?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu selalu punya jawaban untuk hal lain, tapi tidak pernah untuk pertanyaan yang paling penting.”

Sagara mengusap wajahnya. “Nara, aku tidak melarangmu mencari anak itu. Tapi jangan pergi tanpa tahu siapa yang sedang mengatur semuanya.”

“Bukankah kamu juga bagian dari orang-orang yang mengatur hidupku?”

Ia tidak membantah.

Aku memasukkan foto dan salinan berkas rumah sakit ke dalam tas. Kali ini Sagara tidak mencoba menghentikanku. Ia hanya meminta agar aku menghubunginya begitu sampai di sana.

Aku tidak menjanjikan apa pun.

Rumah itu masih terlihat sama seperti dalam ingatanku, meski beberapa bagian catnya mulai mengelupas. Aku berdiri cukup lama di depan pagar, mencoba mengingat kapan terakhir kali datang. Ingatanku hanya menyisakan potongan-potongan kecil: suara Nadine tertawa di teras, aroma roti dari dapur, dan sebuah kamar yang pintunya selalu terkunci.

Pagar ternyata tidak terkunci.

Aku mendorongnya perlahan. Di halaman, boneka kelinci dalam foto masih tergantung di tempat yang sama. Hanya saja, sekarang boneka itu terlihat lebih lusuh.

Pintu depan terbuka sebelum aku sempat mengetuk.

Seorang anak perempuan berdiri di sana.

Usianya mungkin sekitar lima tahun. Rambutnya sebahu, sedikit berantakan, dengan mata besar yang membuatku sulit mengalihkan pandangan.

Ia tidak terlihat takut melihat orang asing.

Sebaliknya, ia justru tersenyum.

“Kak Nara?”

Dunia seperti berhenti sesaat.

Aku berjongkok agar sejajar dengannya. “Kamu tahu namaku?”

Anak itu mengangguk. “Kata Tante, Kak Nara pasti datang.”

“Siapa nama kamu?”

“Aruna.”

Nama itu terasa asing, tetapi entah kenapa membuat dadaku sesak.

“Aruna tinggal di sini sama siapa?”

Ia menunjuk ke arah dalam rumah. “Sama Tante Rania.”

Sebelum aku sempat bertanya lagi, perempuan yang datang ke apartemenku muncul dari balik pintu.

Rania.

Ia mengenakan gelang bulan yang sama, tetapi kali ini aku melihat sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatian. Liontinnya memiliki dua huruf kecil di bagian belakang.

N.R.

Lihat selengkapnya