Suara hujan jatuh dengan deras di atas genting rumah, disertai gemuruh yang memecah malam. Kilatan petir menembus jendela gelap menerangi sekejap ruangan. Dari kejauhan terdengar lantunan indah dan menenangkan: Mozart.Brahms,Lullaby.Setiap malam, ibu Selena memutarnya sebagai pengantar tidur. Namun malam itu, melodi yang biasanya menenangkan terdengar menakutkan. Di sela suara hujan, terdengar teriakan ibunya, ketakutan dan panik. Dan tawa ayahnya, terdengar menakutkan. Sementara di tangannya terdapat pisau berlumuran darah.
"Lucas! Bawa adikmu Lucas!" Teriak ibunya, suaranya pecah oleh kepanikan. Tapi kekerasan ayahnya terlalu brutal dan penuh amarah yang menakutkan.
Lucas menggenggam tangan Selena erat-erat, berlari menaiki tangga, mencari tempat bersembunyi agar ayah mereka tidak menemukannya. Dua anak kecil, Lucas sepuluh tahun dan Selena tujuh tahun, berlari sambil menangis, berusaha melindungi diri dari seseorang yang mereka panggil ayah. Tidak ada tempat yang benar-benar aman. Rumah itu familiar bagi ayah mereka, setiap sudut dipahami. Lucas menghapus air matanya, berusaha tetap tenang meski takut. Ia tahu Selena masih menangis, dan ia tahu adiknya belu sepenuhnya mengerti yang terjadi, atau lebih tepatnya ketakutan yang membuatnya tidak mengerti.
"Selena, kamu mau bermain dengan kakak?" Tanyanya lembut. Selena mengangguk polos.
"Kita akan bermain petak umpet, seperti janji kakak tadi pagi. Tapi kita tidak bermain berdua ada ayah dan ibu juga." Jelas Lucas sambil menutup sebagian mainan di sekitar kotak mainan di mana Selena bersembunyi.
"Benarkah?" Selena bertanya, terlihat penasaran dan juga bingung.
" Benar. Tadi ibu berteriak karena ketahuan ayah. Jadi kamu harus bersembunyi, oke?" Lucas menatap serius. Selena mengangguk.
Lucas memberi peringatan terakhir.
" Selena, janji ya sama kakak, jangan bersuara sedikit pun. Jangan keluar sebelum kakak menjemputmu.Apapun yang terjadi, apa pun yang kamu dengar, apa pun yang kamu lihat, harus tetap diam, terutama saat ayah masuk. Jangan keluarkan suara sedikit pun. Bisa janji?"
Selena menatap Lucas, tatapan kosong tapi patuh.