Threads of Destiny

Yuwi Unnie
Chapter #3

22 Tahun dan Kafein

Kriiinggg…..

Suara alarm yang keras membangun seorang wanita yang tengah tertidur lelap. Selena beranjak dari tempat, membuka jendela meski langit masih sedikit gelap. Menghirup udara yang masih segar, mengisi paru-parunya dengan oksigen pagi. Merenggangkan tubuhnya yang terlalu kaku. Ia segera melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh diri. Guyuran air dingin di pagi buta adalah hal biasa baginya. Setelah merapikan rambutnya dan berganti pakaian nyamannya, Selena lalu merapikan ranjangnya. Setelah urusan lantai atas, ia segera bergegas ke lantai bawah di mana hari-harinya dimulai.

Selena sangat menyukai aroma kopi di pagi hari. Bau pekat kafein yang memanjakan hidungnya. Menenangkan. Dipadukan dengan harum roti panggang yang dibalut mentega. Ia menuruni tangga menuju lantai bawah. Tempat di mana dia bisa merasakan kafein dan juga tempat di mana dia mencari nafkah. Ia memakai apron untuk bersiap membuat menu sarapan sederhana untuk dirinya. Ia juga harus bersiap membuat dessert untuk menjadi pelengkap secangkir kopi untuk para pelanggannya nanti. Selena bersenandung kecil.

Kafe kecil dengan plang ‘ LA LUNA’ terpampang jelas di depan. Cafe yang ia dapat setelah perjuangannya selama ini. Tidak begitu besar namun tidak terlalu kecil hanya memiliki beberapa meja kecil di dalam dan juga beberapa berada di luar. Tempat satu-satunya yang ia miliki sepenuhnya, menjadi dunianya sekarang.

Sambil menunggu adonan camilan di dalam oven matang, Selena membawa secangkir kopi hitam dan sarapan sederhana ke salah satu meja di dekat jendela. Ia menyerap kafeinnya sembari menatap ke luar kaca. Ia menatap jalan kota X, kota yang setahun lalu masih asing baginya. Langit yang tadi gelap perlahan-lahan mulai memudar, digantikan semburat warna fajar yang mulai terlihat.

Tepat pukul tujuh, saat matahari sudah benar-benar terbit, Selena merapikan kembali apronnya, berjalan ke pintu depan, lalu membalik plang kecil di sana menjadi tulisan ‘OPEN’. Ia keluar kafe merapikan meja di luar, menyapa sang mentari yang sudah terlihat di langit yang tampak cerah.

Tidak berselang lama suara dentingan saat membuka pintu kafe menandakan bahwa ada pelanggan yang datang.

“Selamat datang." sapa Selena. Seorang dengan setelan khas orang kerja tersenyum padanya, Selena mengangguk. Ia merupakan pelanggan tetapnya yang juga merupakan salah satu temannya.

"Pagi Selena, aku pesan seperti biasa ya.” Selena mengangguk. “Bagaimana harimu, baikkah?”

“Seperti biasanya tidak ada yang spesial. Bagaimana denganmu?”

“ Sebagai budak korporat hanya ada segudang kerjaan yang mereka berikan.” helaan nafas berat keluar dari mulutnya. “ Apa kamu tidak ada rencana merekrutku di sini, Len?”

“Ben, orang sepertimu bekerja denganku?"

“Kenapa dengan orang sepertiku?” tanya Ben serius.

“Penghasilanku sebulan mungkin setara dengan gaji bulananmu.”

“Kau sedang mengejekku atau kau memang tidak ingin aku bekerja di tempatmu.” Selena hanya mengedikkan bahunya. Ben mendengus.

"Kamu bisa terlambat jika tidak segera beranjak, Ben.” Ben melihat pergelangan tangannya di sana jam mahal itu melingkar di tangannya. Ia setengah berlari meninggalkan kafe Selena. Selena menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya.

Lihat selengkapnya