Selena menghela napas panjang. Pikirannya masih terbayang pada pertemuannya dengan laki-laki yang memiliki bayangan pekat beberapa hari yang lalu. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja atau malah sebaliknya? Ia melihat ke arah jam dinding yang bertengger manis di tembok; jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang, sebentar lagi jam makan siang. Sembari menunggu pelanggan, ia menyeduh teh melati untuk dirinya sendiri dan menikmati sepotong maccaron.
Selena menyeruput tehnya di balik meja bar, tatapannya lurus menembus kaca ke luar kafe. Ia melihat sosok seorang laki-laki yang tengah mondar-mandir di depan kafenya. Laki-laki itu terlihat ragu untuk masuk. Selena mengernyitkan dahi karena orang itu masih saja bersikap begitu padahal sudah sepuluh menit berlalu. Gerah dengan tingkah lakunya, Selena akhirnya keluar untuk menghampiri laki-laki itu.
“Apa ada yang bisa saya bantu?” ujar Selena dengan nada datar.
Laki-laki itu melihat ke arah Selena. Mata mereka bertemu, dan Selena seketika tahu siapa dia. Dia adalah laki-laki yang dipikirkannya beberapa saat lalu.
Kini penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya. Rambutnya sudah dipotong rapi dan wajahnya terlihat lebih segar. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Selena. Bayangan yang kemarin sangat pekat, sudah tidak terlihat. Selena sedikit merasa lega.
“Hai... apa kabar?” ujarnya pelan.
Selena menaikkan sebelah alisnya, bingung. Laki-laki itu terlihat sangat gugup.
“Baik. Ada apa?” tegas Selena.
“Anu... mmm... itu... saya...”
“Apa?”
“TERIMA KASIH UNTUK YANG KEMARIN!” teriaknya tiba-tiba, membuat Selena tersentak. “Saya benar-benar berterima kasih. Kalau bukan karena Anda, mungkin kini saya sudah mati. Saya benar-benar berterima kasih.” Laki-laki itu mengulurkan sebuah kotak hadiah kepada Selena.
“Tidak perlu,” tolak Selena tegas.
Laki-laki itu terlihat lesu saat Selena menolak hadiahnya.
“Kau tidak perlu merasa berutang budi padaku. Jadi pergilah dan bawa kembali itu.” Selena berbalik untuk masuk ke dalam kafenya. Namun, baru saja ia memegang gagang pintu, laki-laki itu menahan tangannya.
“Tolong terima ini,” ujarnya sedikit memaksa.