Angin pagi yang terasa lebih dingin dari biasanya mungkin, berembus kencang hingga menggelitik tengkuk. Mungkin sebentar lagi musim dingin akan benar-benar datang, menggantikan sisa-sisa musim gugur yang muai berlalu. Selena merapatkan mantelnya sedikit membalik papan di pintu kafe menjadi tulisan ‘OPEN’.
Baru saja ia menikmati ketenangan pagi, suara yang sedikit berat nan bersemangat tiba-tiba memecah keheningan jalanan yang masih sepi.
“Selamat pagi, Bu bos!”
Selena refleks menoleh dan mendapati Edward berdiri di belakangnya degan cengiran hingga matanya menyipit. Laki-laki itu mengenakan jaket tebal berwarna kuning cerah. Selena masih heran dengan sifat Edward yang sangat berbeda dengannya dirinya sebelumnya. Edward yang berdiri di hadapannya sekarang seperti... Matahari musim panas yang tersesat di musim dingin.
“Kau tidak lagi datang lebih awal seperti sebelumnya, kan?“ ujar Selena, menatapnya curiga. Tanpa menjawab, Edward langsung menyelinap masuk ke dalam kafe, sengaja menghindari tatapan mengintimidasi milik atasannya.
Selena menghela napas panjang. Sudah berulang kali ia menyuruh laki-laki itu jangan datang terlalu pagi. Namun, Edward selalu datang lebih awal. Bahkan saat awal bekerja, tubuhnya hampir membeku karena datang terlalu pagi.
“Ed, besok datanglah setengah kafe sudah buka.” Ujar Selena tegas Setelah menyusul masuk ke balik meja bar.” Ini perintah, atau kau kupecat!” Lanjut Selena dingin.
Bahu Edward langsung merosot lesu. Belum sempat membela diri, dia sudah mendapatkan skakmat dari Selena.
“Sudah mulai masuk musim dingin, jika kau datang lebih awal sebelum kafe buka, kau hanya akan mati membeku di depan sana.” Edward seketika tersenyum lebar mendengar kalimat lanjutan itu.
Selena terdiam di depan mesin kopi. Tiba-tiba tubuhnya merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ia menoleh perlahan ke arah pintu masuk. Seorang gadis muda masuk dengan sedikit ragu. Seragam sekolah yang dikenakannya masih rapi, sementara sebuah tas berwarna biru tua tergantung di bahunya.
Selena terperanjat. Cangkir kopi yang ia pegang refleks terlepas dari tangannya.
Prang!
Suara pecahan keramik menggema di dalam kafe.