Bab 5. Melanggar Janji
Selena sesekali melirik jam tangannya dengan perasaan cemas. Ia menghela napas panjang. Edward, yang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh Selena, mulai merasa penasaran.
“Bos, Anda sungguh-sungguh baik-baik saja?” tanya Edward dengan nada khawatir.
Selena tersentak. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban, meskipun Edward tampak tidak puas dengan respons singkat itu. Namun, pria itu mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Selena berusaha keras untuk kembali fokus pada pekerjaannya.
“Anak itu, bukankah dia seharusnya ada di sekolah jam segini? Apa dia bolos?” gumam Edward sambil melirik ke arah meja dekat jendela.
“Memang kenapa aku tidak berani, Edward yang bahkan berani berhadapan langsung sama presiden.”
Selena geleng-geleng kepala mendengarnya, ia masih tidak percaya bahwa orang yang waktu itu ingin mati kini terlihat berbanding terbaik dari waktu itu.
“Tapi, mungkin dia yang tidak ingin berbicara denganmu.”
“Kenapa?” tanya Edward bingung. Selena menatap Edward tidak percaya.
“Apa kau pikir semua orang itu sepertimu yang gampang terbuka. Kau itu naif atau bodoh sih. “ Edward mendengar itu tersenyum hingga gigi kelinci itu jelas.
Gadis itu tampak gelisah, melihat kanan ke kiri dan menegang. Selena yang melihat itu pun ikut melihat ke arah di mana gadis itu terpaku. Seorang laki-laki paruh baya tengah berdiri di depan kafe Selena. Pria itu pun masuk tanpa permisi. Bau alkohol menusuk hidung dan juga asap rokok yang bercampur langsung tercium begitu pria itu masuk.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini, Jalang!!” seru pria itu cukup keras membuat beberapa pengunjung tersentak.
“Kau benar-benar anak tidak berguna. Kalau tidak ingin sekolah, cari uang saja sana.” Gadis itu diam dan tubuhnya terlihat bergetar. Ia tidak mengatakan apa pun seakan mulutnya terkunci atau mungkin dia takut jawabannya akan membuat pria lebih marah.
Tanpa belas kasihan dan pandangan orang lain, pria itu menarik tangan gadis itu secara paksa. Bahkan tidak memedulikan gadis itu yang merintih kesakitan. Edward melihat ke arah Selena, meminta izin untuk membantu gadis itu.
“Tak perlu izinku. “ ujar Selen datar.
Edward menghampiri gadis itu yang menolak untuk ikut pria itu. Ia mencoba melerai, pria itu semakin membuat keributan. Suara tamparan yang cukup keras terdengar, dan Edward mendapatkan hal itu.
Selena yang sedari tadi melihat hanya mampu menghela nafas, ia yakin Edward tidak akan membalasnya. Edward sangat menghormatinya, maka ia tidak akan membuat masalah yang bisa merugikan Selena. Selena menghampiri mereka, pria itu masih memaki Edward yang ikut campur. Selena menatap tajam ke arah pria itu.
“Apa! Jang-“..
Plakk...
Suara tamparan yang begitu keras dari sebelumnya membuat semua orang terperanjat. Wajah pria itu merah padam saat Selena menampar pipinya.
“Yakk! Apa ya-“
Plakk...
Suara terdengar lagi bahkan tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Semua orang dibuat bingung dan juga takut melihat Selena yang dengan santai menampar pria paruh baya itu. Pria itu jatuh ke lantai, ia berjongkok di depan pria itu dan mencengkeram kerah pria itu. Selena tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menunduk, wajahnya tepat di depan pria yang gemetar itu. Tidak ada amarah yang meluap-luap di mata Selena, justru itulah yang membuat pria itu semakin pucat.
"Tempat ini punya aturan," bisik Selena, suaranya tenang namun dingin seperti es. "Satu, jangan berteriak. Dua, jangan menyakiti siapa pun di sini. Dan tiga..." Selena sengaja menggantung kalimatnya, membuat suasana kafe hening total.
"Jangan pernah berani menyentuh orang yang berada di bawah perlindunganku."
Selena melepaskan kerah pria itu dengan kasar hingga ia tersungkur kembali. Ia menoleh ke arah Edward yang masih memegangi pipinya yang memerah, lalu beralih ke gadis kecil yang masih terpaku.
"Edward, bawa dia ke belakang. Beri dia air hangat," perintah Selena tanpa menoleh lagi pada pria paruh baya di lantai. "Dan kau," Selena menatap pria itu tajam, "keluar sebelum aku memanggil pihak yang jauh lebih berwenang daripada sekadar polisi."
Selena masih diam, ia mengunci pandangan pada pria itu. Sebuah tatapan yang sangat tenang namun mematikan, seperti seorang predator yang sedang melihat mangsanya. Pria segera beranjak pergi dari kafe itu. Pria itu sempat memberi ancaman namun tidak di hiraukan oleh Selena.
Edward masih menenangkan gadis itu, ia terlihat ketakutan. Tubuhnya bergetar. Ia hanya diam, enggan menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Edward.
“Bagaimana?” Selena menghampiri mereka berdua. Edward menggeleng pelan.