Threads of Destiny

Yuwi Unnie
Chapter #7

Bab 7. Bertemu lagi

Bab 7. Bertemu lagi.



Selena termenung di balkon kamarnya, menatap langit malam yang gelap. Tanpa bulan, tanpa bintang. Langit malam hanya menyisakan keheningan yang pekat. Ia menutup mata merasakan udara malam yang terasa dingin, mungkin karena musim gugur sebentar lagi akan berakhir, digantikan oleh musim dingin. Selena memeluk tubuhnya sendiri ketika angin malam berhembus melewati dirinya. Rasa dingin itu seolah menusuk hingga ke tulang. Ia menatap tangannya yang dibalut kain putih. Ia tersenyum tipis mengingat kejadian pagi tadi, ia tidak menyangka mereka akan segempar itu dan sepanik itu. Selena ingat jelas bagaimana Edward dan Erna yang menangis dengannya kerasnya ketika melihat darah di tangannya yang tidak mau berhenti. Mereka memaksa untuk pergi kerumah sakit, tapi Selena menolak keras karena ia tidak ingin melihat bayangan kematian. Rumah sakit adalah tempat terakhir yang tidak ingin ia datangi, tempat dimana bayangan kematian itu pasti bermunculan dimana-mana. 

 Malam itu, Selena berfikir apa yang ia lakukan pada Erna adalah keputusan yang tepat. Meski ia harus mengingkari janjinya pada Lucas. Tapi, jika ia tidak melakukan Selena akan berakhir seperti dirinya di masa lalu. Selena menarik nafas panjang. Ia menoleh ke arah sampingnya, laki-laki berambut coklat dengan mata yang sama dengan rambutnya. Ia tersenyum padanya.

“Tidak apa-apa, selagi itu membuatmu bahagia aku tidak akan marah padamu, Len.”

Benarkah?apa tidak masalah jika aku melakukanya?” Pria itu mengangguk pelan. Ia mengulur tangannya mengelus pelan, penuh kasih.

“Maafkan aku, janji yang kita buat justru membuatmu menderita. Aku hanya ingin kamu berhenti memikirkan orang lain. Lebih fokus pada dirimu sendiri. Tapi, kalau kamu lebih bahagia melakukannya maka lakukanlah. Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan selalu disisimu.”

Selena tersenyum. Ia melihat laki-laki itu tersenyum hangat. Selena yakin jika Lucas masih hidup mungkin itu yang akan ia katakan padanya.Selena kembali ke dalam kamar masih dengan memeluk tubuhnya sendiri. Malam berlalu tanpa mimpi.

Pagi datang seperti biasanya, bedanya hawa pagi itu terasa lebih dingin dari sebelumnya. Seperti hari-hari sebelumnya, Selena siap-siap untuk membuka buka kafenya, menyiapkan semua dessert atau cemilan untuk ditaruh di etalase untuk kafenya. Saat sedang menyiapkan itu, Selena mendengar ketukan di kaca pintunya. Selena menoleh, Edward berdiri di luar kafe. Selena melirik ke arah jam dinding, pukul 05.25. Selena menghela nafas, ia memang sempat berpikir mungkin Edward akan berangkat pagi, tapi ia tidak berpikir Edward akan berangkat sepagi ini. Bahkan langit masih terlihat gelap.

Edward tersenyum cerah, sesekali ia menggosokkan tangannya mencari kehangatan karena musim Dingin sebentar lagi datang.

Selena membukakan pintunya, menatap dingin Edward. Edward yang tahu Selena marah padanya lebih memilih untuk masuk ke dalam tidak menghiraukan tatapan tajam Selena yang dingin.

“Apa yang sedang bos kerjakan? Biar aku yang kerjakan saja, anda lebih baik duduk saja.”

“Tidak perlu, aku bisa mengerjakan sendiri.” Edward dengan cepat menghampiri Selena.

“Tidak! Tangan bos terluka." 

" Lalu,aku harus membiarkan orang yang tidak tahu cara membuat dessert membuatnya. Kau ingin membuat kafeku bangkrut.” Edward hanya terkekeh malu. Selena menghela nafas.

“Aku baik-baik saja. Jadi, pulanglah dan kembali nanti di waktu jam kerjamu.”

“Aku menolaknya. Tangan Anda tuh masih terluka.”

Lihat selengkapnya