Threads of Destiny

Yuwi Unnie
Chapter #8

Masa Lalu Dengannya

11 tahun yang lalu…..


Selena siap-siap untuk segera pergi ke sekolah, namun sebelum itu ia berpamitan terlebih dahulu dengan kakak, Lucas. Lucas terkekeh pelan melihat kelakukan adiknya. Selena melambaikan tangan sebelum benar-benar pergi. Senyum lebar yang ditunjukkan pada Lucas hilang begitu ia jauh dari rumahnya. Ia berjalan santai menuju sekolah, ia melihat sekelilingnya, mereka terlihat bahagia. Mereka terlihat tertawa bersama. Ia tersenyum kecut, meratapi dirinya yang sendiri tanpa ada siapapun di sampingnya.

Iri. Dulu mungkin ia akan menjawab iya, tapi sekarang tidak ada perasaan itu. Karena itu adalah hal percuma. Teman-teman di sekolah takut padanya. Semuanya bermula ketika Selena pernah melihat bayangan kematian pada seorang teman sekelas. Ia memperingatkan gadis itu agar berhati-hati terhadap seseorang jika tidak ingin kehilangan nyawanya. Peringatan itu diabaikan, dan beberapa hari kemudian gadis itu meninggal secara tragis. Sejak saat itu, Selena dicap sebagai pembawa sial. Bahkan beredar rumor bahwa siapa pun yang menatap matanya akan bernasib sama.

Selena sesekali menendang batu kecil yang menghalangi jalannya. Hingga tanpa sengaja batu itu mengenai seseorang. Laki-laki dengan seragam yang sama berdiri di depan Selena tidak jauh. Mata mereka tidak sengaja bertemu. Mata remaja laki-laki itu berwarna coklat terang dengan rambut hampir serupa dengan warna matanya. Kulitnya putih bersih, bahkan tampak lebih cerah daripada kulit Selena sendiri.

Cantik’. Gumam Selena tanpa sadar. Wajah itu laki-laki itu terlalu indah untuk disebut tampan.

“Selena?” Selena tersentak bukan karena ketahuan mengamatinya tapi karena remaja itu tahu namanya. Selena mundur selangkah memberi jarak lebih jauh.

“Dari mana kamu tahu namaku?" 

" Hah?” remaja itu tampak bingung mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Selena.

“Kau benar-benar. Aku Liam, Liam Hardens. Teman sekelasmu dan aku duduk di bangku di dekat pintu. Kau tidak tahu.” Selena terdiam sebentar lalu menggeleng.

“Bagaimana bisa? Kita sudah sekelas hampir tiga bulan, tapi kamu bahkan tidak mengenalku?”

“Apa perlu aku tahu siapa kamu?”

“Tentu. Kita itu teman satu kelas. Masa saling gak kenal.”

“Tapi bagiku tidak.”

Lihat selengkapnya