Liam menatap wajah Selena yang masih terlihat pucat. Gadis itu belum juga sadar sejak kejadian di gymnasium. Ada keinginan untuk menggenggam tangan kecilnya, tetapi ia tahu dirinya belum memiliki hak untuk melakukan itu. Meski bisa saja ia melakukannya, Liam paham Selena tidak akan menyukainya.
Liam kini menatap perban yang melilit lengan dan kaki Selena. Bayangan tubuh gadis itu menerjang temannya kembali terlintas di kepalanya. Sampai sekarang ia masih tidak mengerti mengapa Selena rela melakukan itu.
Ia menghela napas panjang. Tak lama kemudian, sebuah erangan pelan keluar dari bibir Selena. Liam segera bangkit dan mendekat.
"Selena, bagaimana? Di mana yang terasa sakit?" tanyanya dengan nada cemas.
Selena mengerjapkan matanya beberapa kali. Langit-langit putih menyambut pandangannya yang masih buram. Kepalanya terasa berat, sementara telinganya masih berdengung pelan.
“Jangan dipaksakan bangun.” ujar Liam lembut sambil menopang bahunya.
Selena mengabaikan rasa pusing itu. “Jam berapa sekarang?”
“Sekarang sudah jam tiga sore, kamu pingsan cukup lama dan membuat semua orang khawatir.” Selena menoleh ke kanan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu.
“Kau mencari ini?” Liam menyodorkan ponsel pada Selena. Selena dengan cepat mengambilnya dan mengecek ponselnya. Beberapa panggilan tidak terjawab dan juga pesan di layar ponselnya. Tidak lama ponselnya berdering. Nama Lucas tertera dengan jelas di layar ponselnya, Selena menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
“Halo, tampanku." Ujar Selena dengan lembut dan ceria. Liam yang mendengar suara Selena yang berbeda dari biasanya hampir tertawa, namun lirikan tajam dari Selena membuatnya menahan tawanya.
"Di mana kamu? Kenapa bosmu menelponku?” Tanya Lucas dengan suara yang terdengar marah dan juga khawatir.
"Aku lupa memberitahumu kalau aku ada tugas kelompok yang harus aku kerjakan.”
"Tugas kelompok? Kamu serius?” Dengan nada sedikit tidak percaya.
“Hei bung, ada apa dengan nada bicaramu?”
“Tidak, hanya saja aku baru mendengar sesuatu yang aneh darimu.”
“Apa tugas kelompok bagimu sesuatu yang aneh?”
“Iya, karena itu kamu." Liam yang sejak tadi menahan tawanya tanpa sengaja mengeluarkan suara tawanya. Dan ia mendapatkan tatapan tajam dari Selena.
“Siapa itu?” Selena menghela napas.
“Dia teman kelompokku."
“Benarkah? Laki-laki atau perempuan? Lalu siapa nama-” Tut…suara sambungan telepon terputus. Selena langsung mematikan ponselnya secara sepihak. Ia mengabaikan Lucas yang menelponnya lagi. Kini, Liam tertawa terbahak-bahak setelah Selena mematikan teleponnya dengan Lucas.
“Jika kau tidak ingin kupukul, berhentilah tertawa!" Ujar Selena yang bersiap-siap ingin memukul wajahnya. Liam perlahan-lahan menghentikan tawanya, bukan karena ia takut mendapatkan pukulan dari Selena tapi ia takut Selena malah marah padanya.