Threads of Destiny

Yuwi Unnie
Chapter #11

Titik Balik



Langit pagi yang diselimuti awan kelabu. Angin yang berhembus membawa hawa dingin yang lebih menusuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Musim gugur perlahan mencapai penghujungnya. Sebagian besar dedaunan telah gugur, menyisakan ranting-ranting pohon yang mulai kehilangan warna.

Selena merapatkan mantel tipis nya sambil melangkah memasuki gerbang sekolah. Meski sedikit tertatih karena lukanya yang masih belum mengering, ia tetap memaksakan diri datang. Pikirannya kembali melayang pada omelan panjang Lucas kemarin yang menginterogasinya hingga kehabisan alasana untuk mengelak.

“Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini? Kamu habis tugas kelompok apa tawuran?” bentak Lucas sambil menunjuk perban di lengan dan lututnya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya tidak sengaja jatuh.”

“Jatuh seperti apa yang sampai terluka separah ini, Selena?!” Selena mengalihkan pandangan.“Besok kamu tidak usah masuk sekolah! Jangan membantah!”

“Tidak mau.”

“Selena!"

Selena menghembuskan napas pelan. Wajah kesal kakaknya kemarin masih terbayang jelas. Lucas memang selalu seperti itu. Semakin khawatir semakin keras pula omelannya. Lucas bahkan mengawasinya hingga Selena tidak punya pilihan selain mengajukan izin sekolah. Pagi ini pun mereka kembali berdebat sebelum akhirnya Lucas menyerah dan mengizinkannya berangkat sekolah.

Tepukan pelan di pundaknya membuat Selena refleks menoleh ke arah samping. Tidak seperti biasanya, yang menepuk bukan Liam melainkan temannya Liam. Selena menatap bingung ke arahnya. Meski kadang ia bertemu dengannya di kelas, ia hanya sekedar menyapa tidak lebih. Bahkan saat Liam bersamanya ia lebih banyak diam.

“Siapa?" Pemuda itu tampak terkejut lalu menghela nafas.

"Kau benar-benar. Bagaimana bisa kamu tidak tahu siapa aku?” Selena menatap datar dan berpikir sejenak untuk mengingat siapa yang ada di depannya.

“Ahh. Jack?” Tebak Selena.

“Iya. Ini aku, kamu kemarin menolongku hingga terluka tapi kamu tidak ingat siapa aku. Parah banget kamu, Sel.”

Selena hanya menyunggingkan senyum tipis melihat Jack yang terlihat cemberut.

“Soal kemarin.. makasih ya. Kalau tidak ada kamu mungkin tidak tahu apa yang terjadi denganku.” Jack menggaruk tengkuknya canggung.

“Tidak masalah."

Jack terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi ia terlihat canggung dan seperti enggan mengutarakan yang ada di pikirannya. Selena melirik dari ekor matanya.

"Jangan bertanya lebih. Simpan saja rasa penasaran yang ada di kepalamu itu.” Tegas Selena. Jack hanya terkekeh canggung karena Selena seakan tahu apa yang ingin ia tanyakan padanya.

“Bagaimana keadaan tangan dan kakimu, Sel?”

“Sel?"

"Iya. Kan namamu Selena terlalu panjang bagiku jadi ku panggil Sel saja.”

Selena mengernyit pelan. Tidak banyak orang yang memanggil dengan nama singkat seperti itu terkecuali keluarganya. Namun, entah mengapa panggilan itu tidak terlalu mengganggunya. Ia hanya belum terbiasa.

"Kenapa? Apa itu membuatmu tidak nyaman?”

“Terserah." jawabnya datar.

Jack tersenyum lebar. “Sip. Berarti mulai sekarang aku panggil Sel.”

Selena tidak menanggapinya. Ia hanya kembali melangkah menuju gedung sekolah. Jack mengikuti di sampingnya, sesekali melirik perban yang masih membalut lengan dan lutut Selena.

“Jadi… lukamu benar-benar nggak apa-apa?”

“Masih bisa berjalan.”

Lihat selengkapnya