Musim dingin berlalu tanpa terasa. Salju yang selama ini berbulan-bulan menyelimuti halaman sekolah mulai mencair, digantikan tunas -tunas hijau yang perlahan bermunculan di setiap sudut. Udara yang dulu menusuk kini mulai terasa lebih hangat, menandakan musim semi telah tiba.
Sejak kejadian runtuhnya atap gymnasium beberapa bulan yang lalu, banyak hal yang berubah. Tatapan penuh prasangka yang dulu selalu mengikuti Selena perlahan menghilang. Meski masih ada yang menjaga jarak, tak sedikit yang mulai menyapanya.
Selena menopang wajahnya dengan tangannya, menatap ke luar jendela. Langit pagi tampak cerah dihiasi hamparan awan tipis yang terlihat seperti permen kapas. Saat sedang menikmati langit yang cerah, seseorang tiba-tiba duduk di meja Selena. Selena menghela napas karena tahu siapa yang mengganggu ketenangannya. Tepukan pelan di kepalanya refleks membuat Selena menoleh ke arah Liam.
“Hai… gimana kabarnya?”
“Baik."
"Hmm….” Liam tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Selena. “Ya syukur deh kalau baik-baik saja.”
Lagi-lagi Selena diam membeku. Beberapa bulan kedekatannya dengan Liam membuatnya mulai merasakan perasaan asing dalam hatinya. Berkali-kali ia menolak atau menyingkirkan perasaan asing itu, tapi berkali-kali juga perasaan asing itu semakin masuk ke dalam hatinya. Selena juga belum yakin perasaan asing apa yang sedang Selena rasakan. Suka atau hanya sekedar kehangatan yang masuk ke dalam ruang kosong di hatinya layaknya keluarga atau teman.
“Jangan terlalu dekat, aku tidak mau para gadis-gadismu menyerangku nanti.”
“Hah? Gadis-gadisku?”
“Yang dimaksud Sel itu para fans mu.” celetuk Jack.
“Emang aku punya fansnya, ya?”
“Lihatlah Sel, bukankah dia itu memang layak untuk ditonjok.” Selena mengangguk pelan mendengarnya.
“Jahat sekali kalian." protes Liam.
Selena melihat mereka berdua yang sedang bercanda berdua. Ingatan Selena awal pertama bertemu dengan mereka berdua, ia masih tidak percaya bahwa ia memiliki seorang yang bisa dipanggil teman. Mereka bahkan beberapa kali datang ke tempat Selena kerja. Bahkan ada beberapa teman kelas lainnya pun ada yang datang ke tempat kerjanya.
"Selena , hari kamu kerja nggak?” Tanya Liam.
“Nggak, kemarin pas libur aku kerja.”
“Berarti kemarin kamu libur nggak pergi kemana-mana?”
“Pergi kok."
"Kemana?”
“Kerja.”
“Bukan itu, liburan loh… holiday, selena." Selena menggeleng pelan.
"Gak suka jalan-jalan."
“Tahu gitu, aku datang ke tempat kerjamu pas libur.” Celetuk Jack. “Kirain kamu nggak kerja karena lagi libur sekolah.”
Beberapa saat kemudian bell sekolah berbunyi. Jack kembali ke tempat duduknya, begitu juga dengan Liam yang duduk di samping Selena. Suasana kelas menjadi hening ketika guru mulai menjelaskan materi yang sedang dipelajari. Suara ketukan pelan di meja sebelahnya, Liam tersenyum menggeser buku miliknya.
‘Kau ingin pergi kemana?’ Selena mengernyitkan keningnya setelah membacanya. Ia menoleh ke arah Liam. Liam menggerakkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara. 'B.a.l.a.s.’
'Maksudnya?’ Selena menggeser sedikit buku itu ke arah Liam.
'Sebentar lagi kan ujian dan kelulusan, sebelum berpisah kita jalan-jalan bareng. Kamu ingin pergi kemana?’
Selena membaca tulisan itu cukup lama. Ujung pensil di tangannya berhenti bergerak. Pertanyaan sederhana itu justru terasa sulit untuk dijawab. Dari dulu, hidupnya hanya dipenuhi oleh kakaknya, sekolah dan kerja paruh waktu. Ia tidak pernah memikirkan tempat yang ingin dikunjungi, apalagi berlibur seperti remaja lain.
Perlahan Selena menulis beberapa kata di bawah tulisan Liam.
'Aku tidak tahu.’
Liam membaca jawaban itu, lalu mengangkat kepalanya menatap Selena. Bukan kecewa, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis.
'Kalau begitu, kita cari tempat yang belum pernah kamu datangi.’
Selena kembali menatap tulisan itu tanpa bereaksi. Namun entah mengapa, dadanya terasa sedikit hangat.
'Aku tidak suka tempat ramai.’ tulis Selena lagi.
Liam berpikir sejenak sebelum kembali menulis.
'Kalau begitu bukan taman hiburan… pantai?’ Selena menggeleng pelan.
'Gunung?’ gelengan lain.
'Danau?’ Selena kembali menggeleng hingga Liam menghela napas pelan sambil menahan tawa.