Threads of Destiny

Yuwi Unnie
Chapter #13

Bayangan di Balik Senyum

Udara musim semi yang sejuk menyambut setiap langkah. Hembusan angin membawa aroma  tanah yang mulai menghangat, sementara tunas-tunas hijau bermunculan di antara ranting-ranting pohon yang selama musim dingin tampak gersang. Sinar matahari yang menghangatkan perlahan membuat jalanan kota kembali dipenuhi aktivitas.

Di dalam supermarket terbesar di kota, deretan troli berlalu-lalang di antara lorong-lorong yang dipenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Suara obrolan para pengunjung bercampur dengan pengumuman promosi yang sesekali terdengar dari pengeras suara.

Selena mendorong troli pelan sambil sesekali melihat daftar belanja yang dititipkan Bibi Maria. Beberapa kebutuhan pokok dan dapur sudah memenuhi trolinya, ia melihat daftar itu dengan teliti agar tidak ada yang tertinggal. Saat hendak berbelok ke lorong berikutnya, ia hampir bertabrakan dengan troli milik orang lain.

“Maaf." ujar Selena.

"Selena?” 

Selena mengangkat kepalanya melihat siapa yang memanggil. Baru saat itulah Selena menyadari bahwa troli yang hampir ditabraknya milik Liam.

“kupikir siapa yang menabrakku. Ternyata kamu. Belanja sendiri?” Selena mengangguk pelan.

" Iya. Kau?”

“Aku bersama dengan ibu dan adikku.” Seorang anak kecil perempuan  keluar dari belakang Liam dengan malu-malu. Selena melambaikan tangannya ke arah adik Liam, namun ia langsung bersembunyi kembali ke belakang Liam.

‘sepertinya dia takut padaku’ pikir Selena. Liam tertawa kecil saat melihat perubahan ekspresi kecil pada wajah Selena.

“Dia hanya pemalu, bukan takut padamu?" Liam menoleh ke belakangnya. “Ayo, Elena. Bilang halo. Dia teman  kakak.”

“Elena?" 

"Sama kan, makanya aku kadang seperti memanggil adikku kalau memanggil namamu.” adik Liam dengan malu-malu keluar dari belakang Liam. Ia tersenyum manis ke arah Selena.

Selena tersentak ketika begitu melihat adik Liam. Bayangan hitam yang lumayan pekat berdiri membisu di belakang Elena. Selena terdiam, dadanya terasa sesak dan tubuhnya sedikit bergetar saat melihat bayangan itu.

“Selena?” Liam memanggil Selena yang diam seperti patung.

“Halo kak, namaku Elena.” tangan kecil itu terulur ke depan Selena.

Selena enggan untuk menerima uluran tangan itu karena tahu apa yang akan terjadi. Tapi, jika ia menolak pemilik tangan itu takut menangis. Dengan sedikit gemetaran ia meraih tangan itu.

“Selena." 

" Waah…nama kita mirip.”

Bayangan itu seakan sedang mengejek Selen. Begitu ujung jari bersentuhan dengan tangan kecil Elena, hawa dingin itu menjalar hingga ke lengannya. Napas Selena tercekat. Dunia di sekelilingnya seolah menjauh, suara-suara pengunjung supermarket perlahan memudar. Lalu, sedetik kemudian Selena merasakan tubuhnya tertarik ke belakang dan sebuah ‘kilasan’ tiba-tiba muncul di depannya. 

Rumah yang terlihat indah karena cahaya orange kemerahan yang terpantul di jendela. Jendela yang begitu besar itu seakan lukisan langit senja yang sempurna. Tapi, tidak dengan yang terjadi di dalamnya. Seorang wanita paruh baya bersimpuh di lantai dengan baju yang penuh darah, tatapan yang kosong. Di depannya terbaring seorang anak perempuan yang juga penuh dengan penuh darah bahkan ia bagaikan darah itu sendiri.

Wanita itu tertawa pelan saat melihat anak perempuan itu. Ia mengelus pelan wajahnya yang tidak terlihat jelas karena penuh dengan darah di wajahnya.

“Anakku, ibu akan ikut bersamamu ke surga. Kita pergi bersama-sama ya.”

Wanita itu tersenyum. Air mata terus mengalir di pipinya. Perlahan ia meraih sebilah pisau yang tergeletak di samping tubuh anak itu. Senyumnya semakin lebar. Lalu…

Sret!

Setelah mengatakan itu wanita itu menusuk dirinya sendiri bertubi-tubi  layaknya menusuk samsak tinju. Ia menusuk dirinya dengan tertawa. Selena hanya diam mematung melihat apa yang sedang dilihat di depannya. Tubuhnya bergetar hebat melihat kengerian itu. Mata Selena seperti dibuat untuk menoleh ke arah jam dinding yang sama persis saat melihat ‘kilasan Jack’.

18.15 

Terlihat sangat jelas di dan Selena dan tidak lama kemudian lagi-lagi tubuh Selena tertarik kebelakang lagi.

Suara-suara pengunjung yang tadi menghilang kini terdengar jelas ditelinga Selena. Selena reflek mundur beberapa langkah ke belakang. Keringat dingin terlihat di dahinya. Wajahnya berubah pucat setelah melihat kilasan itu. Liam refleks meletakkan telapak tangannya di dahi Selena. Selena tersentak.

“Kamu sakit? Wajahmu pucat, Selena." Selena menggeleng pelan. 

Tiba-tiba suara wanita yang terdengar lembut memanggil Liam dan adiknya. Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik dan anggun berjalan ke arah mereka. Tubuh Selena menegang begitu melihat wanita itu, karena wanita itulah yang ada di kilasan yang ia lihat beberapa saat lalu. Selena juga melihat bayangan yang pekat di belakang wanita itu. Namun, bayangan terasa berbeda. Terlihat menakutkan dan Selena bisa merasakan hawa yang dingin menusuk. 

Lihat selengkapnya