Threads of Destiny

Yuwi Unnie
Chapter #14

Bulan di Antara Dua Luka

Liam masih bersama ibu dan adiknya. Ia tidak meninggalkan mereka barang sedetik pun. Sejak mendengar peringatan Selena, pandangannya terus berpindah dari ibunya dan Elena. Ia bahkan beberapa kali melihat jam dinding, memastikan waktu yang disebutkan Selena telat lewat. Hingga beberapa saat ibunya menghampiri Liam dengan senyum hangatnya.

“Liam, tolong buang sampah ini ke depan sebentar, Nak."

Liam terdiam. Ia kembali teringat perkataan Selena untuk jangan meninggalkan mereka hanya berdua saja apapun yang terjadi. Pandangan Liam beralih pada jam dinding.

18.40.

Waktu yang disebutkan Selena sudah lewat cukup lama. Ia menatap ibunya, lalu Elena yang masih duduk bermain di ruang tamu. Semua terlihat baik-baik saja. Mungkin memang tidak akan terjadi apa-apa.

" Baiklah, bu.” Liam mengambil kantong sampah itu.

 Namun, apa yang Liam kira itu sudah baik-baik saja ternyata tidak. Begitu Liam pergi, ibunya mengunci pintu depan. Senyum hangat di wajahnya perlahan berubah. Ia tertawa pelan.

“Ibu, kemana kak Liam?” Ibunya tersenyum.

“Dia akan keluar sebentar. Kamu mau bermain dengan ibu, Nak?”

“Iya bu.” jawabnya dengan senyuman polosnya.

“Baiklah tunggu saja disini ya." 

Ibunya berjalan menuju laci yang terletak di dapur. Ia membukanya perlahan dan menatap benda tajam di dalamnya dengan senyum menyeringai. Sementara itu, Liam berjalan dengan langkah ringan. Bahkan ia sempat bersenandung kecil karena merasa telah berhasil menjaga ibu dan adiknya. Namun, ketika ia kembali, langkahnya terhenti di depan pintu. Tangannya meraih gagang pintu. Terkunci. Liam mengernyit.

" Ibu?” 

Tidak ada jawaban

" Ibu, buka pintunya!”

Ia  mengetuk beberapa kali namun nihil. Sayup-sayup Liam mendengar tawa ibunya di dalam rumahnya. Tawa yang terdengar asing. Sama sekali tidak seperti tawa ibunya

“Ibu!" 

 Liam kembali menggedor pintu. Tidak ada jawaban. Pikirannya kembali dengan peringatan Selena. Ia kemudian beralih ke jendela samping yang mengarah ke ruang tamu. Tangannya meraih gagang jendela itu dengan harapan tidak terkunci namun, begitu melihat ke dalam, Liam membeku. Matanya menatap lurus ke ruang tamu. Sejenak ia bahkan tidak mengerti apa yang sedang di lihatnya.

"Elena…?”

Tubuh kecil adiknya terbaring di lantai ruang tamu. Tubuh kecil itu dipenuhi noda warna merah yang pekat. Di sampingnya, ibunya masih duduk terdiam menatap tubuh anak kecil itu dengan pisau di tangannya. Seperti Elena ibunya juga yang dipenuhi dengan noda merah itu. Ibunya perlahan menoleh ke arah Liam. Ia tersenyum.

"Maaf…” tubuhnya wanita itu kemudian terjatuh di lantai.

Lihat selengkapnya