Disebuah gang yang sepi terlihat dua orang laki-laki yang tengah berkelahi dan di antara keduanya tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain.
"Kenapa kau semarah ini, hanya karena dia menyukaiku dan bukannya menyukaimu. Seharusnya kau terima nasib saja karena kalah dari ku," ujarnya sembari menyeka sudut bibirnya yang berdarah, sedangkan orang yang sudah memukulnya menatapnya dengan tajam.
"Tentu aku marah, karena kau sudah merebutnya dariku, bahkan dia membenciku sekarang," marahnya. "Harsa, aku tidak mengerti kenapa kau merebut Kirana dariku, padahal kau tidak menyukainya sama sekali," sambungnya yang membuat lelaki bernama Harsa itu terkekeh.
"Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu, jika dia itu bukan gadis baik-baik, tapi kau masih menyukainya jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan hal ini kepadamu," balas Harsa.
"Wisnu kau harus sadar kalau bukan karena gara-gara gadis itu, apakah hubungan persahabatan kita akan sekacau sekarang, bahkan kita kini saling melukai," sambung Harsa yang membuat lelaki bernama Wisnu itu tertegun.
"Yang dia katakan benar, karena Kirana hubungan persahabatanku dengannya menjadi kacau seperti ini," batin Wisnu membenarkan, tetapi bukan berarti dia akan memihak kepada Harsa, karena bagaimanapun juga apa yang dia lakukan adalah kesalahan.
"Walaupun begitu seharusnya kau tidak mempermainkannya dan memanipulasinya Harsa," ujarnya yang membuat Harsa mendengus kesal dibuatnya.
"Aku memang sengaja memanipulasinya agar dia bergantung padaku dan menyukaiku dibandingkan denganmu, tapi apa kau tahu kenapa aku melakukan semua hal ini. Ini semua karena kau Wisnu, aku tidak akan pernah terima jika ada orang yang mempermainkan dirimu termasuk gadis sialan itu." Harsa menatap Wisnu dengan tatapan yang bercampur aduk antara sedih, kesal dan perasaan lainnya.
Sungguh Harsa tidak akan pernah ingin Wisnu dimanfaatkan oleh gadis itu yang ternyata pura-pura polos, jadi jangan salahkan dirinya jika dirinya melakukan hal gila semacam ini, walaupun dirinya harus berakhir babak belur seperti ini, karena untuk menyadarkan Wisnu dari rasa bucinnya itu, membuatnya harus mengeluarkan tenaga yang ekstra, apalagi anak itu sudah benar-benar sudah dibutakan oleh cintanya kepada Kirana. Yang sialnya gadis itu memanfaatkannya dengan sangat mudah.
"Tapi..., Harsa." Wisnu yang ingin menyangkal kembali perkataan Harsa, harus dikagetkan dengan Harsa yang tiba-tiba tumbang. "Harsa, kau kenapa." Wisnu mencoba untuk menyadarkan sahabatnya itu, tetapi hasilnya nihil anak itu tidak bergerak sama sekali yang membuatnya menjadi takut.
"Yaak sialan, jangan membuatku takut," makinya. Wisnu yang tidak tahu harus berbuat apa, memutuskan untuk membawa tubuh Harsa kerumah sakit dan dalam keadaan yang sedikit linglung dirinya mengendong Harsa dan sesekali dirinya memanggil nama lelaki itu, tetapi Harsa tidak menyahutinya sama sekali dan hal ini membuat Winsu mempercepat langkah kakinya.
Setelah kepergian Wisnu seseorang keluar dari persembunyiannya dan menatap keduanya dengan tatapan yang rumit. "Aku cukup kasihan dengan kalian berdua, jadi aku hanya membantu menyelesaikannya dan aku harap jangan menyalahkan ku, ya," setelahnya orang itu pergi dan menghilang ditelan oleh gelapnya gang sempit itu. Sedangkan disisi lain seorang lelaki tengah duduk dengan tenang dan ditemani dengan minuman bersodanya.
"Jadi?" tanyanya yang membuat seseorang yang ada di hadapannya menatapnya dengan penuh kebencian.
"Aku tidak pernah menyangka ternyata kau sangat pandai mempermainkan perasaan orang," ujarnya sinis yang membuat orang itu terkekeh dibuatnya.