Seorang laki-laki yang tengah terpejam kini mulai membuka matanya secara perlahan dan setelah menyesuaikan penglihatannya dia langsung mengernyitkan alisnya bingung.
"Aku ada dimana? kenapa tempat ini asing sekali dan bukankah aku sedang bertengkar dengan Wisnu tadi, tapi kenapa aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya?," ujarnya bingung, apalagi tempat yang dirinya tempati cukup jelek untuk dilihat. "Dan tempat ini sangat jelek, sungguh tidak enak di pandang" gumamnya.
"Jangan-jangan si Wisnu menculikku dan menyekapku disini," sambungnya. "Aah..., gak mungkin, lagian tadi aku mau ngomong sama si Wisnu tiba-tiba pandanganku menjadi gelap dan setelah bangun, aku sudah ada di tempat ini," ujarnya setelah beberapa saat dirinya berpikir.
Lelaki yang baru terbangun itu adalah Harsa Tanaya yang merupakan sahabat Wisnu yang kini menjadi musuhnya, hanya karena memperebutkan seorang perempuan.
Harsa yang termenung tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya dan beberapa ingatan asing mulai memasuki kepalanya.
"Dasar sialan, berhenti lah bersikap manja kau bukan anak kecil,"
"Menjijikan, anak bodoh seperti mu kenapa harus menjadi adikku,"
"Berhenti menganggu Kirana,"
"Kalian bertiga yang sudah melukai Kirana kan, kurung mereka bertiga digudang dan jangan diberi makan sama sekali,"
"Kau dan kedua saudaramu itu adalah pembawa sial,"
"Sialan sakit sekali kepalaku." Harsa menggerutu dan memijit pelipisnya yang masih berdenyut sakit. "Kau bodoh Haren, seharusnya kau dan kedua saudaramu itu berhenti mencari perhatian para sampah itu," ujarnya tajam, apalagi mengingat apa yang kelima kakaknya katakan mengenai Haren dan kedua saudaranya.
"Transmigrasi ya, heh." Harsa tampak berpikir, dirinya masih tidak habis pikir dengan kenyataan yang tidak masuk diakalnya. Harsa anak itu terlampau jenius jadi setelah dirinya mendapatkan ingatan asing otaknya langsung bekerja dengan cepat, sehingga dia bisa tahu bahwa kini dirinya bertransmigrasi ketubuh Haren Gumira, seorang anak yang tidak pernah dipedulikan keberadaannya oleh kelima kakaknya, begitu juga dengan saudara kembarnya Renan dan adik bungsunya Seno. Mereka bertiga tidak pernah dianggap ada oleh kelima kakaknya dan yang lebih parahnya lagi kelima kakaknya lebih menyayangi si adik angkat dari pada adik kandung mereka sendiri.
"Shhhh, sakit sekali," suara seseorang mengalihkan atensi Harsa dan baru dia sadari ternyata dirinya tidak sendirian di kamar ini. Harsa hanya memperhatikan lelaki yang Harsa yakini bahwa lelaki itu adalah kembarannya yaitu Renan.
"Cuk ini gue ada dimana, kok kamarnya jelek begini sih, aah..., apa jangan-jangan gue diculik," gerutunya yang membuat Harsa yang sejak tadi memperhatikannya mengernyitkan alisnya bingung, karena menurut ingatan yang diberikan sipemilik tubuh asli, Renan adalah tipe orang yang tidak pernah mengumpat, yeah begitupun juga dengan tubuh yang dirinya tempati juga tidak pernah mengumpat.