"Dih... padahal lo yang suka bikin gue emosi," balas Renan tidak mau kalah, karena kenyataannya memanglah seperti itu.
Harsa sejak tadi malam sudah membuatnya emosi dan entah berapa kali dia dibuat emosi oleh anak itu.
"Sudah jangan ribut lagi, katanya takut kesiangan kesekolah. Tapi kenapa masih ribut juga?" heran Seno.
"Dia duluan yang buat gue kesal, jadi ya gue bales lah," balas Renan.
"Kamu yang duluan ngeselin," sahut Haren yang membuat Seno semakin pusing dibuatnya.
"Oke, cukup. Sekarang kita pergi, atau kalian berdua masih mau tinggal di sini?" Seno menatap keduanya dengan jengah yang membuat keduanya menutup rapat mulut mereka masing-masing.
"Karena udah diem. Jadi kita berangkat sekarang," ujar Seno yang sudah merasa puas dengan respon yang keduanya berikan.
Renan dan Haren, keduanya sempat -sempatnya memandang satu sama lain dengan tatapan tajam keduanya. Seolah-olah mereka mengatakan bahwa semua perdebatan keduanya belum berakhir.
Sedangkan di ruang makan, tampak lima orang laki-laki sudah duduk di tempat duduknya mereka masing-masing dan tidak lama kemudian seorang gadis datang menghampiri kelimanya, dengan wajahnya yang tampak sedih dan kita akan tahu bahwa sebuah drama dipagi hari akan segera di mulai.
"Kirana kamu kenapa?" tanya Linzo penasaran begitu juga dengan ke-empat orang lainnya.
"Aku tidak kenapa-kenapa kok kak," balasnya dengan nada suara yang dibuat sedih dan membuat kelimanya menatapnya dengan tajam.
"Jawab yang benar Kirana, kakak ketigamu sedang bertanya," dingin Binara yang membuat Kirana menatap sedih ke arahnya.
"Hei kak, kau menakutinya," kesal Abinaya, apalagi saat melihat Kirana yang seperti ingin menangis.
"Haah..., maafkan aku Kirana, kakak hanya khawatir denganmu, jadi bisa kah kau menjawab pertanyaan kakak ketigamu?" tanya Binara.
"Aku benar-benar tidak apa-apa kak, jadi jangan marahi Seno dan yang lainnya, ya," balas Kirana yang secara tidak langsung menumbalkan nama Seno dan yang lainnya.
Aleon yang mendengar hal ini menggeram kesal. "Apa yang mereka bertiga lakukan kepadamu?" tanya Aleon dingin.
"Kak, mereka tidak melakukan apapun sungguh." Kirana mencoba meyakinkan kakak pertamanya itu, tetapi jauh di lubuk hatinya dia amat sangat senang, karena dengan begini Seno dan yang lainnya akan terkena masalah kembali.
"Anak tidak tahu diri seperti mereka itu harus diberi pelajaran yang setimpal, agar mereka jera," marah Wisnan.
"Kau benar, nanti aku akan memberi mereka pelajaran, karena sudah membuat Kirana kita sedih," balas Linzo dengan tatapannya yang menajam.
Sedangkan orang yang mereka bicarakan kini tengah berdiam diri mendengarkan pembicaraan keenamnya.
"Sialan ingin sekali aku merobek mulutnya itu," geram Renan yang membuat Haren dan Seno bergidig ngeri mendengarnya.
"Hei, jangan mengatakan kata-kata mengerikan seperti itu," ujar Haren pelan dan bahkan anak itu sedikit menjauh dari hadapan Renan, begitu juga dengan Seno, karena sungguh aura yang Renan keluarkan sangat tidak mengenakan untuk mereka.