Cuaca sore kala itu terasa meneduhkan.
Langit berwarna abu muda dengan angin kecil yang sesekali masuk melalui celah jendela rumah. Tidak panas, tidak juga hujan. Semuanya terasa tenang.
Dan anehnya, hati Ana juga terasa teduh.
Bukan karena hidup sedang baik-baik saja.
Tetapi seperti ada perasaan kecil di dalam dirinya bahwa semuanya… akan baik-baik saja.
Di dapur, Ana masih sibuk menyiapkan makan malam sambil sesekali mengawasi Alia dan Ali yang berlarian di ruang tengah.
“Ali, jangan naik sofa!”
“Tapi aku superhero, Mama!”
“Superhero juga bisa jatuh.”
Ali terkekeh lalu melompat turun. Sementara Alia sibuk menggambar di lantai sambil sesekali memperlihatkan hasil gambarnya kepada ibunya.
“Mama lihat, ini keluarga kita.”
Ana tersenyum hangat.
Di gambar itu ada empat orang bergandengan tangan di bawah matahari besar berwarna kuning.
Sederhana.
Tetapi cukup untuk membuat hati Ana hangat.
Tidak lama kemudian suara motor terdengar dari depan rumah.
“Papa pulang!” teriak Alia.
Kedua anak itu langsung berlari ke pintu.
Gana baru saja turun dari motor dengan wajah lelah, tetapi senyumnya langsung muncul ketika melihat anak-anaknya memeluk kedua kakinya.
“Wah, pasukan penyambut datang.”
“Ayah bawa apa?” tanya Ali polos.
“Bawa cinta dan kasih sayang.”
“Yahhhh bukan mainan.”
Gana tertawa keras sambil menggendong Ali.
Ana memperhatikan dari dapur sambil menggeleng kecil.
Lelahnya hari itu seperti sedikit menghilang hanya karena melihat keluarganya lengkap di rumah.
Mereka memang pasangan yang penuh cinta.
Bukan pasangan sempurna.
Tetapi pasangan yang selalu berusaha saling mendengar, saling memperhatikan, dan saling melengkapi.
Bahkan teman-teman mereka sering mengatakan hubungan Gana dan Ana terasa berbeda.
Terlalu hangat untuk ukuran pasangan yang sama-sama sibuk bekerja dan mengurus anak.
Namun beberapa minggu terakhir, tubuh Ana mulai terasa aneh.
Awalnya hanya demam biasa.
Lalu tubuhnya mudah lelah.
Kemudian nyeri yang datang tanpa alasan.
Tetapi Ana tetap menjalani semuanya seperti biasa.
Karena menjadi ibu membuatnya terbiasa menomorduakan rasa sakit.
“Sayang, kamu nggak apa-apa?”
Malam itu Gana memperhatikan Ana yang tampak lebih pucat dari biasanya.
Ana tersenyum kecil sambil menyendok sup ke mangkuk anak-anak.
“Aku sehat kok.”
“Kamu udah bolak-balik klinik.”
“Cuma demam biasa.”
“Kalau demam biasa nggak mungkin selama ini.”
Ana diam.
Sebenarnya ia juga mulai takut.
Tubuhnya terasa seperti kehilangan tenaga sedikit demi sedikit.
Tetapi ia tidak ingin membuat suasana rumah berubah menjadi penuh kekhawatiran.
“Aku cuma kecapekan,” jawab Ana pelan.
Gana menatap istrinya beberapa detik.
Lalu menggenggam tangannya.
“Kalau kamu capek, bilang. Jangan ngerasa harus kuat terus.”
Ana tersenyum tipis.
Kadang ia merasa sangat beruntung memiliki laki-laki seperti Gana.
Beberapa hari kemudian keadaan Ana tidak juga membaik.
Obat dari klinik sudah habis, tetapi demamnya tetap naik turun.
Akhirnya mereka memutuskan menggunakan BPJS untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dan seperti kebanyakan orang yang bergantung pada fasilitas kesehatan itu, mereka harus menjalani prosedur demi prosedur.
Mulai dari faskes tingkat pertama.
Menunggu rujukan.
Menentukan rumah sakit sesuai ketentuan.