Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #1

Teduh sebelum runtuh #1

Sore itu, angin berhembus pelan menyusup lewat celah jendela. Langit dinaungi warna abu muda yang menenangkan—tidak terlalu panas, pun belum disirami hujan. Suasana begitu damai.

Anehnya, dada Ana juga terasa sangat teduh. Bukan karena hidupnya sedang tanpa beban, melainkan ada bisikan halus di relung hatinya: semua akan baik-baik saja.

Dari balik aroma tumisan di dapur, Ana terkekeh pelan memperhatikan Alia dan Ali yang saling kejar di ruang tengah.

“Ali, jangan lompat di sofa, Sayang!” “Tapi aku superhero, Mama!” seru Ali membusungkan dada. “Superhero juga bisa kepepet masuk rumah sakit kalau jatuh.”

Ali terkikik lalu melompat turun. Sementara itu, Alia tengkurap di lantai, sibuk menari-narikan krayon di atas kertas menggambar.

“Mama lihat! Ini keluarga kita,” pamer Alia sambil memamerkan gambarnya. Empat figur sederhana bergandengan tangan di bawah matahari kuning yang terlalu besar. Sederhana, namun sanggup mengalirkan hangat yang membuncah di dada Ana.

Raungan mesin motor di halaman menyela momen itu.

“Papa pulang!” jerit kedua anak itu kompak.

Gana melangkah masuk dengan bahu meluruh dan wajah lunglai dihantam lelah. Namun, raut itu runtuh begitu dua pasang lengan mungil memeluk erat kedua kakinya.

“Wah, pasukan penyambut sudah siaga,” kekeh Gana. “Ayah bawa apa?” Ali mendongak penuh harap. “Bawa cinta dan kasih sayang yang banyak!” “Yahhhh... bukan mainan!”

Tawa Gana pecah sembari mengangkat Ali ke udara. Ana bersandar di pintu dapur, mengamati panorama kecil itu dengan senyum tipis. Lelah seharian mengurus rumah mendadak menguap. Mereka memang jauh dari kata sempurna, tetapi dalam sesaknya rutinitas dan terbatasnya ekonomi, mereka selalu punya cara untuk saling melengkapi.

Namun, beberapa minggu terakhir, ada yang menggerogoti tubuh Ana.

Semua bermula dari demam yang disangka biasa, disusul rasa lelah yang menggelayut berat, hingga nyeri samar yang tiba-tiba menusuk tanpa alasan. Sebagai seorang ibu, Ana terbiasa menelan rasa sakitnya sendiri demi roda rumah tangga yang harus terus berputar.

Lihat selengkapnya