Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #2

Bertahan #2

Sore itu, Gana berpacu dengan waktu menuju rumah sakit. Langit membiru cerah, jalanan pun tak terlalu padat. Semuanya tampak berjalan biasa saja. Namun, di balik dada Gana, ada gejolak yang tak mampu ia taklukkan. Firasatnya berkecamuk antara harapan tipis dan ketakutan yang merayap dingin.

Sepanjang jalan, bayangan Ana terus menari-nari di ingatan. Perempuan itu—yang selalu menyambutnya dengan senyum sehangat mentari meski badannya digerogoti lelah, yang selalu mengutamakan anak-anak, yang senantiasa menjadi rumah tempatnya pulang.

Langkah kaki Gana menggema cepat di lorong rumah sakit. Ia mendorong pintu kamar rawat perlahan.

“Halo, Sayang…” sapa Gana, berusaha memasang senyum terbaiknya.

Ana menoleh. Namun, senyum yang biasanya menyambut Gana telah lenyap. Matanya sembab memerah, wajahnya pucat pasi, dan tatapannya menyiratkan jiwa yang baru saja dihantam badai hingga tak tersisa.

“Kata dokter bagaimana, Sayang?” tanya Gana sabar.

Ana tak langsung menjawab. Bibirnya gemetaran hebat. Seketika, pertahanannya runtuh. Isakan pilu pecah memecah hening ruangan, tubuhnya bergetar hebat bagai dedaunan diterpa angin kencang.

Gana panik, langsung menghampiri dan merengkuh bahu istrinya. “Sayang… kenapa? Ada apa?”

“Aku sakit, Mas…” ucap Ana terbata, napasnya tersedak oleh air mata.

“Iya, aku tahu kamu sakit. Tapi sakit apa?” Gana mengelus punggungnya.

Ana menunduk dalam-dalam, menahan duka yang teramat asing dan berat. “Kasihan sekali kamu… harus punya istri seperti aku…”

“Jangan bicara begitu,” potong Gana cepat.

“Kasihan kamu, Mas…” suara Ana melengking memecah keputusasaan. “Hancur hatiku…”

Mata Gana memanas. Dadanya sesak tak tertahankan melihat perempuan yang paling ia agungkan terlihat sehancur itu. “Kenapa harus kamu yang mengalami ini…” bisiknya lirih, ikut membenamkan wajah di leher Ana.

Ruangan serba putih itu mendadak terasa begitu sempit dan menghimpit.

“Memangnya sakit apa, Sayang? Kanker? Leukimia? Autoimun?” cecar Gana dengan suara gemetar.

Sama sekali tak terlintas stigma penyakit lain di kepalanya. Sebab Gana mengenal Ana. Perempuan itu terlampau mulia, terlalu baik untuk disinggahi hal-hal kelam.

Ana mendongak perlahan. Matanya yang basah menatap lurus ke manik mata suaminya.

“Aku... positif HIV, Mas.”

Lihat selengkapnya