Pagi itu, udara dingin merayap menyusup hingga ke tulang. Ana duduk kaku di kursi tunggu klinik VCT, memeluk erat map tebal berisi hasil pemeriksaannya. Jemarinya yang pucat terus meremas sudut map hingga mengkerut.
Di layar televisi ruang tunggu, sebuah acara Pagi menyiarkan gelak tawa. Beberapa pasien lain mengobrol pelan, sementara seorang anak kecil berlari-lari mengejar ibunya di lorong klinik. Dunia di sekitarnya berjalan dengan warna yang sama.
Hanya hidup Ana yang rasanya mendadak mati rasa dan berhenti berputar.
Di sampingnya, Gana duduk membisu. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Ana yang sedingin es.
"Kalau kamu belum siap masuk, kita tunggu sebentar di luar," bisik Gana.
Ana menggeleng pelan, meski kepalanya terasa berat. "Aku takut, Mas."
Gana menatap wajah istrinya yang kian tirus. "Takut apa, Sayang?"
Ana menarik napas panjang yang patah-patah. "Aku takut... setelah melangkah melewati pintu itu, aku bukan lagi Ana yang dulu."
Gana terdiam sejenak. "Iya," jawabnya jujur.
Jawaban itu membuat Ana menoleh, dadanya mencelos.
"Kamu memang tidak akan pernah sama lagi," lanjut Gana tanpa keraguan. "Tapi bukan berarti hidupmu selesai di sini."
Sejak vonis itu dijatuhkan, Gana adalah satu-satunya orang yang tidak memberinya buaian ramuan harapan kosong. Pria itu tidak berusaha menyangkal kenyataan. Ia memilih bertahan, berdiri tepat di sebelah Ana di dalam badai yang sama.
Nama Ana akhirnya dipanggil.
Mereka melangkah memasuki ruang konseling. Seorang dokter perempuan menyambut mereka—bukan dengan tatapan kasihan yang menghakimi, melainkan dengan senyum hangat yang menenangkan.
"Selamat pagi, Bu Ana. Pak Gana. Silakan duduk."
Setelah membaca ringkasan rekam medis, dokter menyandarkan punggungnya. "Sebelum kita membicarakan rencana pengobatan, saya ingin tahu... apa yang Ibu rasakan sejak pertama kali mendengar hasil ini?"
Ana menatap lantai keramik yang dingin. Hening menyelimuti ruangan cukup lama. Ketika suara Ana akhirnya keluar, suaranya parau dan nyaris tenggelam.
"Saya merasa... hidup saya sudah habis, Dok."
Dokter mengangguk pelan, memahami beban berat di pundak wanita di depannya. "Banyak pasien yang berada di posisi Ibu merasakan hal yang sama pada awalnya."
Air mata Ana menetes ke pangkuannya. "Saya takut orang-orang menjauhi saya. Saya takut anak-anak malu memiliki ibu seperti saya... Dan saya takut, suatu hari suami saya lelah lalu menyerah."