Pagi itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Ana duduk di kursi tunggu klinik VCT sambil memeluk map berisi hasil pemeriksaannya. Jemarinya terus meremas sudut map hingga sedikit kusut. Di layar televisi ruang tunggu, sebuah acara pagi sedang berlangsung. Orang-orang tertawa. Seorang anak kecil berlari mengejar ibunya di lorong klinik.
Semuanya tampak biasa.
Hanya hidup Ana yang terasa berhenti.
Di sampingnya, Gana duduk tanpa banyak bicara. Sesekali ia mengusap punggung tangan Ana dengan ibu jarinya.
"Kalau kamu belum siap masuk, kita tunggu sebentar."
Ana menggeleng pelan.
"Aku takut."
Gana menatap wajah istrinya.
"Takut apa?"
Ana menarik napas panjang, tetapi suaranya tetap bergetar.
"Aku takut... setelah hari ini aku bukan Ana yang dulu lagi."
Gana terdiam beberapa detik.
"Iya."
Jawaban itu membuat Ana menoleh.
"Kamu memang nggak akan sama lagi."
Wajah Ana langsung jatuh.
"Tapi bukan berarti hidupmu selesai."
Sejak hasil pemeriksaan itu keluar, Ana merasa ada seseorang yang tidak sedang berusaha menghiburnya dengan harapan kosong.
Gana tidak menyangkal kenyataan.
Ia hanya memilih tetap tinggal di dalamnya bersama Ana.
Tak lama kemudian nama Ana dipanggil.
Mereka masuk ke ruang konseling.
Seorang dokter perempuan menyambut mereka dengan senyum yang hangat, bukan senyum kasihan.
"Selamat pagi, Bu Ana. Pak Gana."
"Pagi, Dok."
Setelah mereka duduk, dokter membuka berkas pemeriksaan.
"Sebelum kita membahas pengobatan, saya ingin tahu... apa yang Ibu rasakan sejak mengetahui hasil ini?"
Ana menatap lantai.
Lama sekali.
Ketika akhirnya berbicara, suaranya nyaris tak terdengar.
"Saya merasa hidup saya habis."
Ruangan mendadak sunyi.
Dokter mengangguk perlahan.
"Banyak orang yang baru menerima diagnosis HIV mengatakan hal yang sama."
Ana mengusap air matanya.
"Saya takut orang-orang menjauhi saya."
"Saya takut anak-anak nanti malu punya ibu seperti saya."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"...dan saya takut suatu hari suami saya juga menyerah."
Gana menggenggam tangannya lebih erat.
"Saya nggak ke mana-mana, Dok."
Dokter memandang mereka bergantian.
"Dukungan seperti ini sangat berarti."
Lalu ia mulai menjelaskan.
Tentang HIV.
Tentang cara virus bekerja.
Tentang terapi antiretroviral yang harus diminum setiap hari.
Tentang harapan hidup yang tetap panjang selama pengobatan dijalani dengan baik.
Ana mendengarkan tanpa menyela.
Selama beberapa hari terakhir, pikirannya hanya dipenuhi satu kata.
Mati.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, ada kata lain yang pelan-pelan masuk ke dalam kepalanya.
Masih.
Masih bisa hidup.