Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #4

Luka yang tidak terlihat #4

Hari-hari mulai beringsut merambat. Keadaan tidak mendadak pulih drastis, tetapi setidaknya tidak lagi seperti pekan-pekan awal—saat setiap kali terbangun pagi hari, Ana merasa ditarik paksa ke dalam ruang hukuman.

Pukul delapan malam tepat, alarm ponselnya berdering. Suara nyaring sederhana yang dahulu amat ia benci. Dulu, dering itu seperti sembilu yang menyayat pergelangan hatinya—sebuah pengingat kejam bahwa ada ancaman tak kasat mata yang akan terus mengalir di dalam darahnya.

Namun seiring waktu, kebencian itu perlahan luntur. Obat itu bukan lagi simbol kutukan masa lalu, melainkan uluran tangan. Sebuah kesempatan untuk memperpanjang napas, menjadi ibu, dan tetap memeluk keluarganya lebih lama.

Pagi itu, Ana duduk di teras memeluk cangkir teh hangat. Uap tipisnya mengepul, membiaskan cahaya senja yang membelas kasih. Sudah terlampau lama ia tak benar-benar menikmati pagi. Bertahun-tahun hidupnya tersedot dalam pusaran kewajiban: tugas kantor, tumpukan tagihan, rumah tangga, dan target yang tak ada habisnya.

Sampai akhirnya, tubuhnya sendiri yang memaksa roda itu berhenti secara paksa.

Gana keluar menenteng keranjang pakaian. Sejak Ana divonis sakit, pria itu tanpa bersuara mengambil alih pekerjaan rumah tanpa sejumput pun keluhan.

"Kenapa melamun?" tanya Gana lembut.

Ana menyunggingkan senyum tipis. "Sedang belajar menikmati pagi."

Gana mendaratkan tubuhnya di samping Ana. "Terasa berat, ya?"

Ana mengangguk, menatap kosong ke arah halaman. "Kadang saat terbangun, aku berharap ini semua cuma mimpi buruk. Tapi beberapa detik kemudian, kenyataan itu menghantamku lagi."

Gana meraih jemari istrinya, mengelusnya perlahan. "Kamu wanita yang luar biasa, Ana."

Tawa pelan keluar dari bibir Ana—tawa yang lebih mirip hela napas getir. "Luar biasa dari mana, Mas?"

"Karena kamu masih memilih berdiri di sini," jawab Gana mantap. "Kamu tetap bangun tiap pagi, menelan obatmu, tersenyum untuk anak-anak, dan berjuang melawan rasa takutmu sendiri. Itu tidak mudah, Ana."

Dada Ana mendadak hangat. Kata-kata sederhana itu meruntuhkan rasa rendah dirinya.

Namun, pemulihan jiwa tak pernah berjalan lurus. Selalu ada hari-hari di mana rasa takut kembali menyergap tanpa ketukan pintu.

Lihat selengkapnya