Tidak Harus Sembuh untuk Tetap Hidup

Novenita Marpaung
Chapter #4

Luka yang tidak terlihat #4

Hari-hari mulai bergerak perlahan.

Tidak benar-benar membaik.

Tetapi juga tidak lagi seburuk minggu-minggu pertama ketika Ana merasa setiap pagi adalah hukuman yang harus dijalani.

Setiap malam pukul delapan tepat, alarm kecil di ponselnya berbunyi.

Nada sederhana yang dulu terasa menyakitkan.

Pada awalnya Ana membenci suara itu.

Bukan karena obatnya.

Melainkan karena bunyi tersebut selalu mengingatkannya pada satu kenyataan yang belum sepenuhnya bisa ia terima.

Bahwa hidupnya telah berubah.

Bahwa ada sesuatu di dalam tubuhnya yang akan selalu ikut berjalan bersamanya.

Namun seiring waktu, kebencian itu mulai bergeser menjadi sesuatu yang lain.

Mungkin bukan penerimaan.

Belum.

Tetapi setidaknya ia mulai memahami bahwa obat itu bukan hukuman atas masa lalunya.

Obat itu adalah kesempatan.

Kesempatan untuk tetap hidup.

Kesempatan untuk tetap menjadi seorang istri dan ibu.

Pagi itu Ana duduk di teras rumah sambil memegang secangkir teh hangat.

Uap tipis mengepul pelan di udara.

Sudah lama ia tidak benar-benar memperhatikan pagi.

Selama bertahun-tahun hidupnya dipenuhi daftar pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Pekerjaan kantor.

Tagihan.

Rumah.

Anak-anak.

Kewajiban.

Target.

Semua hal yang dulu terasa mendesak.

Sampai akhirnya tubuhnya memaksanya berhenti.

Dan di tengah keheningan itu Ana menyadari sesuatu yang pahit.

Selama ini ia begitu sibuk menjaga semua orang sampai lupa menjaga dirinya sendiri.

Gana keluar ke teras sambil membawa keranjang pakaian yang hendak dijemurnya. Sejak Ana sakit, ia perlahan mengambil alih banyak pekerjaan rumah tanpa pernah mengeluh.

"Kok bengong?"

Ana tersenyum tipis.

"Lagi belajar menikmati hidup."

Gana duduk di sampingnya.

"Berat ya?"

Ana mengangguk.

Tatapannya masih lurus ke halaman.

"Kadang aku bangun tidur dan berharap semua ini cuma mimpi."

Jeda singkat.

"Terus beberapa detik setelah buka mata, semuanya balik lagi."

Gana tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan istrinya.

"Kamu hebat."

Ana tertawa pelan.

Tawa yang lebih mirip helaan napas.

"Hebat dari mana?"

"Dari karena kamu masih ada di sini."

Ana menoleh.

"Maksudnya?"

"Kamu masih bangun setiap pagi."

"Kamu masih minum obat."

"Kamu masih berusaha jadi ibu buat anak-anak."

"Kamu masih berjuang meskipun capek."

Gana tersenyum kecil.

"Itu nggak mudah, Ana."

Untuk sesaat Ana tidak mampu menjawab.

Dadanya terasa hangat.

Sudah lama ia tidak melihat dirinya dari sudut pandang seperti itu.

Namun proses menerima diri sendiri ternyata tidak berjalan lurus.

Ada hari ketika Ana merasa cukup kuat untuk menatap masa depan.

Ada hari ketika ia bisa tertawa tanpa memikirkan penyakitnya.

Tetapi ada juga hari-hari ketika rasa takut datang kembali tanpa peringatan.

Seperti siang itu.

Ana sedang membuka media sosial ketika sebuah unggahan tentang ODHA muncul di berandanya.

Lihat selengkapnya