Hidup perlahan merayap kembali pada jalurnya. Setidaknya dari balik dinding luar rumah mereka.
Ana kembali menyusuri jalanan pagi mengantar Alia ke sekolah, kembali sibuk menggelutkan diri di dapur, serta mengulas senyum ramah saat menyapa para tetangga di gang rumah. Ia kembali memainkan peran sebagai ibu muda yang normal.
Tak seorang pun tahu bahwa setiap pukul delapan malam, sebuah alarm wajib memanggilnya untuk menelan sebutir obat penopang nyawa. Tak seorang pun tahu bahwa sebelum terlelap, ia kerap menangis sesengguhan dalam redupnya kamar mandi. Dan tak seorang pun tahu bahwa Gana selalu pura-pura terlelap, memberi ruang agar istrinya tak merasa tertangkap basah dalam keputusasaan.
Rahasia itu kini bersemayam erat di antara mereka. Berat, namun diam-diam menjalin ikatan yang jauh lebih kokoh.
"Sayang, obatmu sudah diminum?" malam itu Gana melangkah masuk membawa segelas air putih.
Ana yang sedang melipat pakaian hangat anak-anak mengangguk pelan. "Sudah."
"Bohong."
Ana menoleh, menyunggingkan senyum tipis. "Kok tahu?"
"Karena obatnya masih berdiri manis di atas meja," terkekeh pelan, Gana mendaratkan duduk di tepi ranjang sembari menyodorkan gelas. "Minum sekarang."
Jemari Ana memegang butiran obat itu. Jujur saja, hingga detik ini, menelan kenyataan bahwa ia harus bergantung pada zat kimia seumur hidup masih terasa menyakitkan. Setiap kali butiran itu melewati tenggorokannya, ada harga diri yang rasanya meluruh.
Namun, Gana selalu berdiri di sana, memastikan Ana tak melintasi satu hari pun tanpa benteng pertahanan.
"Kalau aku capek, bagaimana, Mas?" bisik Ana tiba-tiba.
Gana menatap manik matanya.
"Capek menelan obat ini terus... capek pura-pura tangguh... capek merasakan hidupku telah porak-poranda."
Gana terdiam sejenak, lalu meraih tangan Ana dan meremasnya lembut. "Kamu boleh capek, Ana. Tapi tolong, jangan pernah menyerah."