Malam itu, Ana terlelap lebih cepat dari biasanya. Tubuhnya ringkih terkuras lelah setelah berhari-hari dihantam gelisah. Pikirannya terus berputar tanpa henti, memunculkan sesak yang menghimpit dada meski suasana rumah sedang tenang tanpa cela.
Gana mematikan lampu kamar perlahan, lalu berbaring di samping istrinya. "Tidur yang nyenyak, Sayang."
Ana mengangguk kecil. Namun jauh di relung hatinya, ada sudut hampa yang masih terasa dingin.
Dalam lelapnya, Ana mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat asing. Langit menggelap dinaungi mendung tebal, sementara udara dingin menusuk hingga ke tulang. Di hadapannya, membentang kubangan air besar yang dipenuhi lumpur pekat.
Suara gelak tawa renyah memecah hening. Ana menoleh perlahan.
Seorang anak perempuan kecil tengah asyik bermain di tengah lumpur itu. Bajunya comot, jemari mungilnya penuh tanah, dan rambutnya berantakan. Namun, pancaran matanya menyiratkan kebebasan yang tanpa beban.
Ana menatap wajah anak kecil itu lama. Seketika, dadanya teremas hebat.
Anak kecil itu adalah dirinya sendiri—murni, polos, dan belum tersentuh pahitnya dunia.
Ana kecil terus tertawa tanpa peduli tubuhnya kian kotor, sementara Ana dewasa hanya berdiri mematung, menatap bayangan masa lalunya dengan sudut mata membasah.
"Ana..." panggil anak kecil itu pelan, menoleh dengan sunggingan senyum tanpa dosa. "Mau main juga?"
Ana dewasa menggeleng pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kamu kotor..."
Anak kecil itu tertawa lugu. "Tidak apa-apa!"
Lutut Ana dewasa gemetar. Entah mengapa, melihat kepolosan dirinya di masa lalu justru meremukkan hatinya. Perlahan ia berlutut di atas tanah basah, mendekati sosok mungil itu.
"Ayo sini..." bisik Ana dewasa parau.