Malam itu, kediaman mereka dinaungi ketenangan yang hening. Alia dan Ali telah lelap sejak tadi. Rintik hujan tipis mengetuk atap, meninggalkan irama samar yang menentramkan.
Ana duduk bersila di lantai ruang tengah, memeluk kedua lututnya. Di depannya, cangkir teh yang ia tuang sejak satu jam lalu telah mendingin. Pikirannya kembali membuncah. Ada hari-hari di mana ia merasa jiwanya mulai membaik, namun tak jarang ia mendadak kembali tenggelam dalam pusaran rasa bersalah.
Gana melangkah keluar dari arah dapur menenteng dua potong roti hangat, lalu duduk lesehan di samping istrinya.
"Belum tidur, Sayang?"
Ana menggeleng pelan. "Sedang berpikir."
"Berpikir tentang apa?"
Ana menyunggingkan senyum hambar. "Hidup."
Gana terkekeh pelan. "Berat sekali topiknya untuk ditemani segelas teh dingin."
Ana tak ikut tertawa. Tatapannya terpaku pada bening kaca jendela yang dibasahi bulir air. "Menurutmu... kenapa manusia harus memanen akibat dari masa lalunya, bahkan ketika ia sudah berubah menjadi orang yang baru?"
Pertanyaan itu menggantung tebal di udara. Gana tak terburu-buru merespons. Ia paham Ana sedang tidak mendahagukan kalimat penghiburan kosong; wanita itu sedang mencari pijakan untuk bertahan.
"Aku tidak tahu jawaban yang paling benar, Ana," jawab Gana perlahan. "Namun menurutku, perubahan tidak pernah serta-merta menghapus jejak yang pernah kita tinggalkan."
Ana menoleh. "Maksudmu?"
"Kita bisa berubah menjadi lebih baik. Kita bisa meratapi dan menyesali apa yang pernah terjadi. Namun, sejarah tetaplah sejarah."
Ana menunduk dalam. "Jadi... kita memang harus menanggung semuanya?"
"Bukan menanggung, Ana. Tapi menghadapi."